Survei: 90% Responden Usia Muda Khawatir Dampak Krisis Iklim

Ririn Indriani

Selasa, 29 September 2020 | 14:57 WIB
Survei: 90% Responden Usia Muda Khawatir Dampak Krisis Iklim
Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]

Suara.com - Bertepatan dengan aksi Global Climate Strike yang digelar serentak di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia pada Jumat, 25 September 2020, untuk menyuarakan pentingnya tindakan dan penanganan krisis iklim, Yayasan Indonesia Cerah dan Change.org Indonesia pada Kamis (24/9/2020) meluncurkan hasil dari sebuah survei daring.

Survei yang dilaksanakan selama sekitar 2 bulan (23 Juli - 8 September 2020) ini diikuti oleh 8.374 orang yang tersebar di total 34 Provinsi di Indonesia, dimana mayoritas adalah responden dengan rentang usia 20-30 tahun yang merupakan warga muda aktif pengguna media sosial.

Survei disebarkan melalui website dan pengguna Change.org Indonesia, kanal-kanal media sosial dan aplikasi percakapan.

Survei menemukan sekitar 90% warga muda aktif merasa khawatir atau sangat khawatir tentang dampak krisis iklim. Sebanyak 97% di antaranya berpendapat bahwa dampak krisis iklim setidaknya sama atau lebih parah dari dampak pandemi Covid-19.

Dampak yang paling dikhawatirkan meliputi krisis air bersih (15%), krisis pangan (13%), dan penyebaran penyakit atau wabah (10%). Sebanyak 19 dari 20 orang responden percaya bahwa manusia memiliki andil dalam menyebabkan krisis iklim.

“Kita sudah melihat bagaimana Covid-19 mengubah segalanya dalam beberapa minggu. Dampak krisis iklim dinilai akan menyerang lebih kuat dalam waktu yang dekat. Kami melakukan survei ini untuk mengetahui bagaimana persepsi publik, terutama anak muda, tentang krisis iklim sebagai bahan pertimbangan untuk merancang strategi penanganan dampak krisis iklim ke depannya," kata Adhityani Putri Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah dalam siaran pers yang diterima Suara.com.

Musisi, Rara Sekar menambahkan ada semacam kehausan dari anak muda, untuk terlibat dalam perlawanan ini. Semangat pada zaman sekarang adalah melawan krisis iklim. "Dengan hasil survei ini, mengafirmasi kalau krisis iklim bukan hanya di luar negeri saja, tapi di Indonesia juga sudah terjadi. Ke depannya akan semakin banyak pressure grup dari kalangan anak muda untuk dorong perubahan,” terangnya.

Menurut responden, sumber terbesar dari emisi gas rumah kaca (GRK) adalah kerusakan dan kebakaran hutan dan lahan (38%), diikuti asap kendaraan dan pabrik (35%), dan pembangkit listrik energi fosil (batubara, minyak bumi, dan gas alam) (23%).

Pelestarian hutan, termasuk penghentian penebangan hutan alam, alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan dan lahan gambut (28%) dianggap sebagai solusi paling tepat untuk meminimalisasi krisis iklim.

baca juga

Solusi berikutnya adalah peralihan energi fosil menjadi energi bersih dan terbarukan (26%). Saat ini sumber energi terbesar di Indonesia masih berasal dari energi fosil. Seperti batubara, minyak bumi dan gas alam. Namun, 91% responden percaya bahwa sudah saatnya Indonesia melepaskan diri dari sumber energi fosil.

Kinerja pemerintah dinilai sebagai hambatan terbesar dalam penanganan krisis iklim (63%), diikuti dengan kurangnya kesadaran publik (24%). Sementara kondisi ekonomi dan harga energi bersih yang masih mahal dinilai sebagai hambatan terkecil (13%).

"Perubahan iklim ini bahasanya “langitan” kalau kata Bu Menteri. Kita harus sederhanakan untuk bisa disampaikan kepada masyarakat. Perubahan iklim juga harus kita kenalkan lebih banyak lagi. Menyebarluaskan jadi sebuah tindakan konkret. KLHK dan Kemendikbud, sedang merancang bagaimana kurikulum perubahan iklim ini masuk ke dalam pelajaran,” ucap Ruandha Agung Sugardiman Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK.

Komitmen pemerintah, DPR, dan perusahaan dalam penanganan krisis iklim masih dinilai buruk, dengan tingkat ketidakpuasan paling tinggi pada DPR RI. Meskipun demikian, hampir semua percaya bahwa krisis iklim harus menjadi agenda utama di pemerintah dan DPR dengan 79% responden pun setuju Indonesia menjadi pemimpin dunia dalam menangani krisis iklim.

Di level pengambil kebijakan, siapa menurut responden yang harus menangani? Sebanyak 3 dari 5 orang menilai penanganan krisis iklim tidak cukup dilakukan pada tingkat Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, namun krisis iklim harus langsung ditangani oleh Menteri atau Presiden.

“Sebagai sebuah organisasi yang berupaya mendorong partisipasi publik dalam setiap pengambilan kebijakan, kami melihat tingginya partisipasi responden usia muda dalam menyuarakan kepeduliannya pada krisis iklim lewat survei ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Tentunya suara-suara mereka itu harus ditindaklanjuti dan mendapatkan perhatian dari pengambil kebijakan di tingkat pemerintahan maupun DPR dalam menangani krisis iklim,” demikian kata Arief Aziz, Country Director Change.org Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia

Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 16:17 WIB

Survei Kinerja Bahlil Tuai Sorotan, Bos IPO Beberkan Mengapa Hasilnya Beda dengan Celios

Survei Kinerja Bahlil Tuai Sorotan, Bos IPO Beberkan Mengapa Hasilnya Beda dengan Celios

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:45 WIB

Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta

Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta

Foto | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:46 WIB

Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?

Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:45 WIB

Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Bikin Konten hingga Layani Pelanggan, UMKM Masa Kini Mulai Manfaatkan AI

Bikin Konten hingga Layani Pelanggan, UMKM Masa Kini Mulai Manfaatkan AI

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Survei Voxpol Center: Mayoritas Responden Dukung UU Perampasan Aset dan Hukuman Mati Koruptor

Survei Voxpol Center: Mayoritas Responden Dukung UU Perampasan Aset dan Hukuman Mati Koruptor

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 13:29 WIB

Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan

Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 13:02 WIB

Studi Ungkap Dampak Krisis Air terhadap Kesehatan dan Masa Depan Anak Perempuan

Studi Ungkap Dampak Krisis Air terhadap Kesehatan dan Masa Depan Anak Perempuan

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:09 WIB

Menko PMK Sugiono Apresiasi Kinerja Satgas PRR dan Tekankan Mitigasi Perubahan Iklim

Menko PMK Sugiono Apresiasi Kinerja Satgas PRR dan Tekankan Mitigasi Perubahan Iklim

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 20:18 WIB

Terkini

MBG 2.0 Harus Buktikan Nol Korupsi dan Keracunan, Bukan Sekadar Ganti Sistem

MBG 2.0 Harus Buktikan Nol Korupsi dan Keracunan, Bukan Sekadar Ganti Sistem

News | Senin, 02 November 2026 | 16:35 WIB

Periklindo Ingatkan Risiko Lonjakan Kendaraan Listrik di Indonesia

Periklindo Ingatkan Risiko Lonjakan Kendaraan Listrik di Indonesia

Otomotif | Senin, 02 November 2026 | 16:35 WIB

Viral TOA Masjid Al Falaah Ciputat Ditembak-tembak, Begini Kata Polisi

Viral TOA Masjid Al Falaah Ciputat Ditembak-tembak, Begini Kata Polisi

News | Senin, 02 November 2026 | 16:33 WIB

The Boy and the Heron: Dunia Tak Harus Sempurna untuk Tetap Layak Ditinggali

The Boy and the Heron: Dunia Tak Harus Sempurna untuk Tetap Layak Ditinggali

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 16:30 WIB

Urutan Hair Care untuk Rambut Rontok Parah dan Mulai Beruban di Usia Menjelang Menopause

Urutan Hair Care untuk Rambut Rontok Parah dan Mulai Beruban di Usia Menjelang Menopause

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 16:25 WIB

3 Pilihan Karier di Bidang Customer Experience untuk Kamu yang Menguasai Bahasa Asing

3 Pilihan Karier di Bidang Customer Experience untuk Kamu yang Menguasai Bahasa Asing

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 16:23 WIB

Cara Mengatasi Memori HP Penuh Padahal Aplikasi Sedikit, Ini Solusinya

Cara Mengatasi Memori HP Penuh Padahal Aplikasi Sedikit, Ini Solusinya

Tekno | Senin, 02 November 2026 | 16:23 WIB

Jaga Independensi Komisi Nasional Disabilitas, Kemensos Pastikan Seleksi Bebas Intervensi

Jaga Independensi Komisi Nasional Disabilitas, Kemensos Pastikan Seleksi Bebas Intervensi

News | Senin, 02 November 2026 | 16:20 WIB

Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia

Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 16:17 WIB

Ketimpangan Relasi: Rakyat Berjuang Tanpa Bantuan, Negara Menarik Pungutan

Ketimpangan Relasi: Rakyat Berjuang Tanpa Bantuan, Negara Menarik Pungutan

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 16:15 WIB

×