- Ning Jazil protes nama Gus Kautsar dicatut di buku Islam ala Prabowo.
- Penulis diduga memakai obrolan santai saat bertamu menjadi bahan tulisan buku.
- Gus Kautsar tidak pernah memberikan naskah resmi atau dukungan politik tertulis.
Hanya Doa dan Harapan, Bukan Dukungan Politik Tertulis
Lebih lanjut, Ning Jazil menjelaskan bahwa pertemuan yang terjadi sekitar awal tahun 2024 itu hanya berisi obrolan santai mengenai harapan-harapan untuk pemimpin bangsa ke depan.
Menurutnya, Gus Kautsar hanya memberikan doa dan harapan sewajarnya bagi siapa pun pemimpin Indonesia.
"Saat itu, jawaban Gus hanya harapan-harapan terbaik untuk pemimpin, tidak paham kalau mau dimasukkan buku tersebut. Gus Kautsar hanya menyampaikan harapan dan doa sewajarnya, tidak ada niat untuk menjadi bagian bahan dari buku tersebut," tegasnya lagi.
Sebut Nasib yang Sama dengan TGB
Tak hanya suaminya, Ning Jazil juga menyebut bahwa tokoh lain seperti Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi juga mengalami hal yang sama, namanya tertera di buku namun merasa tidak pernah menulisnya.
"Sama dengan Tuan Guru Bajang, sama-sama tidak merasa menulis atau niat menjadi bagian buku tersebut," pungkas Ning Jazil.
Ning Jazil mengingatkan kepada siapa pun agar memiliki etika dalam berkarya, terutama jika menyangkut tokoh publik.
"Kalau mencatut nama dalam buku apalagi berbau politik, minimal pamit dulu," tutupnya.