Sakit Setya Novanto di Kursi Pesakitan dalam Tiga Babak

Reza Gunadha | Nikolaus Tolen | Suara.com

Kamis, 14 Desember 2017 | 15:11 WIB
Sakit Setya Novanto di Kursi Pesakitan dalam Tiga Babak
Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto menjalani sidang perdana di gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12).

Suara.com - Sidang perdana Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi KTP Elektronik di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017), bak drama. Betapa tidak, Setnov lebih banyak bungkam saat diberi pertanyaan hakim. KPK menilai Setnov pura-pura sakit.

Langkah Setya Novanto tak tegap gagah seperti biasanya, saat memasuki ruang persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu pagi menjelang siang, 10.00 WIB.

Ketua nonaktif DPR RI itu harus dipapah oleh dua orang dari pintu masuk ruangan menuju kursi pesakitan. Tim Jaksa Penuntut Umum KPK melirik tajam sembari tersenyum ke arahnya.

Dalam perjalanan dari pintu ke kursi, persisnya saat melewati tim kuasa hukumnya, Setnov sempat menopangkan satu tangannya di meja.

Penuh perjuangan, Novanto akhirnya mampu menempatkan pantatnya di kursi terdakwa persidangan tersebut.

Ketua Majelis Hakim Yanto lantas mengetuk palu tanda membuka persidangan. Ia lalu mempertanyakan sejumlah hal standar kepada Setnov.

"Nama lengkap saudara?" tanya hakim.

Mendapat pertanyaan itu, "Pria Tertampan se-Surabaya tahun 1975" itu bergeming.

Tak mendapat jawaban, Hakim Yanto kembali melontarkan pertanyaan.

"Saudara tak mendengar pertanyaan saya cukup jelas?" cecar Yanto.

Setnov hanya diam. Tubuh bagian atasnya semakin merunduk.

"Saudara mendengar suara saya?" tanya Yanto, yang sempat dua kali mengulang pertanyaannya.

Yanto lantas mengganti pertanyaan, "Saudara didampingi penasihat hukum?"

Mendapat pertanyaan itu, barulah Setnov menjawab, "Iya, yang mulia."

Sidang dakwaan Setya Novanto di pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/12).

Karena melihat gelagat Setnov  sakit, Hakim Yanto lantas memanggil dokter yang bertugas di KPK, Johanes Hutabarat, maju ke persidangan untuk meminta klarifikasi.

"Saudara memeriksa sebelum persidangan?" kata Yanto kepada Johanes, yang dijawab "Iya, betul".

"Waktu diperika ada komunikasi? menjawab lancar?" tanya Yanto.

"Lancar menjawab yang mulia," kata Johanes.

Yanto lantas beralih bertanya kepada JPU KPK Irene Putri, perihal kesehatan Setnov dalam pemeriksaan terakhir sebelum persidangan.

"Ada keluhan dari terdakwa. Dia bilang diare sehingga harus ke WC sampai 20 kali. Tapi, laporan pengawal rutan kami, terdakwa sepanjang malam cuma dua kali ke toilet. Itu pukul 23.00 WIB dan pukul 02.30 WIB yang mulia," jelas Irene.

Sebagai perimbangan, Yanto lantas bertanya ke ketua kuasa hukum Setnov, Maqdir Ismail. Menurut sang pengacara, terdapat perbedaan hasil pemeriksaan antara dokter pribadi Setnov dengan dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

"Agar tak jadi polemik, kami menilai layak klien kami diperiksa di rumah sakit lain. Tapi kami tak mendapat reaksi atas permohonan kami," tutur Maqdir kepada hakim.

JPU Irene menyanggah pernyataan Maqdir. Menurutnya, Setnov juga sudah diperiksa oleh tiga dokter yang diutus Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Yanto menengahi dengan memanggil tiga dokter yang disebut JPU Irene. Ketiganya lantas muncul di tengah-tengah sidang.

"Saudara dokter, apakah dalam ilmu kodokteran dimungkinan dalam waktu 5 atau 6 jam kondisi kesehatan bisa berubah drastis?" tanya Yanto.

"Bisa yang mulia, kalau saja ada kelemahan di syaraf sebelah kanan. Tapi ciri pertamanya, yang bersangkutan seharusnya tak bisa jalan. Sebab, kondisi psikisnya bisa memengaruhi syarat. Jadi, kalau tidak bisa berbicara, mestinya tidak bisa jalan. Tapi ini (Setnov) bisa jalan ke sidang," tutur dokter.

Mendapat penjelasan tim dokter, Yanto lantas mencoba-coba kembali melontarkan pertanyaan ke Setnov yang sejak tadi hanya terduduk diam, meringkuk.

Namun, Hakim Yanto lagi-lagi "dikacangin" Setnov.

Melihat hal itu, JPU Irene menginterupsi. Ia menuding Setnov mencoba mengulur-ulur persidangan dan melakukan kebohongan.

"Bagi kami, ini salah satu kebohongan yang dilakukan terdakwa yang mulia," tuding Irene.

Kuasa hukum Setnov ganti menginterupsi, membela klien. "Kami mohon agar diberi kesempatan diperiksa dokter lain. Karena KPK dan IDI punya perjanjian untuk memeriksa seseorang yang dianggap perlu diperiksa KPK," balas Maqdir.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Golkar akan Segera Tunjuk Ketua DPR Baru Setelah Munaslub

Golkar akan Segera Tunjuk Ketua DPR Baru Setelah Munaslub

News | Kamis, 14 Desember 2017 | 13:42 WIB

Kubu Setya Novanto Hormati Keputusan Hakim Gugurkan Praperadilan

Kubu Setya Novanto Hormati Keputusan Hakim Gugurkan Praperadilan

News | Kamis, 14 Desember 2017 | 13:13 WIB

Resmi, Upaya Praperadilan Setya Novanto Gugur

Resmi, Upaya Praperadilan Setya Novanto Gugur

News | Kamis, 14 Desember 2017 | 12:49 WIB

Hakim Tunggal Kusno Gugurkan Praperadilan Novanto

Hakim Tunggal Kusno Gugurkan Praperadilan Novanto

News | Kamis, 14 Desember 2017 | 12:48 WIB

PN Jaksel Percepat Pembacaan Putusan Praperadilan Novanto

PN Jaksel Percepat Pembacaan Putusan Praperadilan Novanto

News | Kamis, 14 Desember 2017 | 10:50 WIB

Terkini

Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit

Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 23:13 WIB

Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru

Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 22:30 WIB

Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate

Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 22:10 WIB

Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?

Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:56 WIB

Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus

Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:43 WIB

Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?

Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:01 WIB

Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos

Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:50 WIB

Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!

Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:37 WIB

Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli

Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:08 WIB

Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat

Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:07 WIB