Pengungsi Somalia di Jakarta, Mereka Terpaksa Menjadi Pelacur

Reza Gunadha, Ria Rizki Nirmala Sari

Senin, 02 April 2018 | 17:31 WIB
Pengungsi Somalia di Jakarta, Mereka Terpaksa Menjadi Pelacur
Pengungsi Somalia di Mogadishu, Januari 2018. [AFP]

Usia Suad belum menginjak kepala tiga puluh. Persisnya, baru berusia 27 tahun. Ia tinggal di jalan sempit di dekat sebuah pusat perbelanjaan Jakarta. Di sana pula ia kerap dilecehkan.

Laki-laki pengungsi Somalia biasanya memaksa Suad maupun perempuan lain untuk pergi bersama demi bisa berhubungan seksual.

Tak hanya pengungsi Somalia, Suad menuturkan pelecehan juga dilakukan orang-orang asing yang berada di Jakarta.

“Ketika kami tidur di jalan, pengusaha Afrika Barat datang. Mereka mengancam kami dan menyentuh kami. Sedangkan kami, tak mampu menghentikan mereka,” tuturnya.

Tak jarang Suad dan perempuan Somalia lain diiming-imingi uang oleh para lelaki, demi menjadi ”teman tidur”. Tapi, sekuat tenaga Suad berupaya menepis dan melawan pemaksaan tersebut.

"Jika aku tidak mengatakan ‘ya’ terhadap ajakan itu, mereka bisa mengalahkanku. Aku lantas bilang bahwa aku adalah Muslimah, aku tak bisa menuruti kemauan mereka. Aku lapar dan ingin uang, tapi aku tak bisa melakukan itu.”

Meski menjadi korban pelecehan seksual, Suad dan perempuan pengungsi Somalia lain selalu menyembunyikan hal tersebut.

Sebab, kalau mereka berkoar mengenai pelecehan itu, Suad dan lainnya justru dicemooh dan dianggap pelacur.

Kejerian hidup Suad bermula di Mogadishu, ibu kota Somalia, tanah kelahirannya. Di sana, keluarganya terbunuh dalam ledakan sebuah bom.

baca juga

Saud lantas diculik, diperkosa dan ditawan militan pemberontak. Namun, ia bisa melarikan diri ke masjid setempat.

Selama dalam pelariannya, ia mengumpulkan uang untuk membayar sindikat penyelundup manusia, guna keluar dari Somalia.

“Sangat sulit hidup sebagai perempuan korban perkosaan di Somalia. Sebab, kami dituduh sebagai pelacur dan diusir karena dianggap memalukan keluarga dan komunitas. Banyak temanku pergi bersama laki-laki demi menghindari tuduhan itu. Tapi aku tidak mau,” terangnya.

Bak keluar dari mulut buaya tapi masuk ke sarang harimau, begitulah petitih yang tampak pas mengiaskan kisah hidup Suad dari Somalia hingga Indonesia.

Tapi, bagi Suad, sesulit apa pun pilihannya, dia harus tetap hidup.

"Ketika Anda tidak memiliki makanan, maupun tempat berlindung, maka hidup akan menjadi sangat sulit, dan itu adalah satu-satunya pilihan," jelasnya.

Tak Ada Dana

Menurut Badan Pengungsi PBB, sekitar dua per tiga dari 13.800 pencari suaka dan pengungsi di Indonesia, bergantung pada bantuan atau tinggal di pusat penahanan imigrasi yang dikelola pemerintah, karena tidak diizinkan bekerja atau mengakses jaminan sosial. 

Banyak dari mereka yang terpaksa tidur di jalan, masjid atau mengemis makanan di sekitar pusat penahanan imigrasi yang sudah penuh.

Pilihan paling “mudah” bagi mereka adalah, mengantre bantuan di kantor UNHCR, setiap hari.

Thomas Vargas, Perwakilan UNHCR Indonesia, mengakui lembaganya tengah kesulitan akhir-akhir ini untuk mengurus bantuan pengungsi.

“Krisis kemanusiaan Rohingya di Myanmar dan Bangladesh, membuat dana lembaga kami terserap ke sana. Itu artinya, dana kami di Indonesia dialihkan ke sana,” ungkap Vargas, seperti dilansir News.com.au, Senin (4/2/3018).

 Vargas mengakui, sulitnya mendapat bantuan, membuat perempuan pengungsi di Indonesia terjebak dalam lingaran setan prostitusi.

Australia Tutup Pintu

Vargas menjelaskan, persoalan pelik pengungsi di Indonesia juga disebabkan tak ada negara yang mau menampung dan memberikan suaka kepada mereka.

Indonesia, sejak dulu, menjadi negara transit bagi pencari suaka terutama yang ingin ke Australia. Tapi, negeri Kanguru itu sudah menutup pintunya rapat-rapat untuk para pengungsi.

“Kami, dalam beberapa bulan terakhir, sudah bertemu dengan para pengungsi. Kami berbicara kepada mereka, bahwa mungkin mereka tak akan pernah ditempatkan di negara lain,” jelasnya.

Daniel Webb, juru bicara Human Right Law Centre yang berbasis di Melbourne, mengatakan penderitaan para pengungsi di “depan pintu rumah kami” menunjukkan kekejaman pemerintah Australia.

"Pemerintah kami diam-diam memaksa pengungsi kembali atau lenyap dari muka Bumi. Mereka dipaksa menderita di tempat lain." 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

23 Rumah di Jembatan Besi Terbakar, Warga Mulai Bersihkan Puing

23 Rumah di Jembatan Besi Terbakar, Warga Mulai Bersihkan Puing

News | Senin, 02 April 2018 | 11:45 WIB

Bekasi Protes Warganya Harus Bayar Jika Masuk Jakarta

Bekasi Protes Warganya Harus Bayar Jika Masuk Jakarta

News | Senin, 02 April 2018 | 09:41 WIB

Tekanan Udara Turun, Lion Air Jakarta-Jambi Mendarat Darurat

Tekanan Udara Turun, Lion Air Jakarta-Jambi Mendarat Darurat

News | Minggu, 01 April 2018 | 12:27 WIB

DKI Bentuk BLUD Sekolah SMK, untuk Apa?

DKI Bentuk BLUD Sekolah SMK, untuk Apa?

News | Rabu, 28 Maret 2018 | 09:43 WIB

Anies: Jangan Sampai Proyek Pembangunan Tak Dirasakan Keluarga

Anies: Jangan Sampai Proyek Pembangunan Tak Dirasakan Keluarga

News | Selasa, 27 Maret 2018 | 15:28 WIB

Terkini

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:53 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Video | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Jakarta | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 21:57 WIB

×