Mesin Tik Pram Bukan dari Soeharto, Orba Hanya Kasih Mesin Bekas

Pebriansyah Ariefana, Fita Nofiana

Sabtu, 07 Maret 2020 | 15:28 WIB
Mesin Tik Pram Bukan dari Soeharto, Orba Hanya Kasih Mesin Bekas
Cuitan Fadli Zon

Suara.com - Cuitan Fadli Zon kembali menuari reaksi, kali ini dari aktivis serikat buruh, Sarinah yang menagggap cuitan Fadli Zon merupakan sebuah kebohongan.

"Bohong, mesin tik itu dari Satre dititip ke Jusfiq, lalu ke Soemitro. Setelah itu bukunya laris, malah dilarang, yang jual (buku Pram) dipenjara 8 tahun."

Komentar Sarinah itu mulanya diunggah di akun twitternya, mengomentari cuitan Fadli Zon yang menyatakan:

"Tanpa ada mesin tik tentu karya-karyanya tak akan ada. Kalau tak salah, mesin tik itu diberikan oleh Presiden @HMSoeharto1921 melalui Soemitro ketika Pram diasingkan ke Pulau Buru. Ada jasa Pak Harto terhadap Pram."

Dihubungi melalui pesan singkat, Juru Bicara F-Sedar memastikan bahwa tidak ada jasa Soeharto pada keberhasilan karya-karta Pramoedya Ananta Toer.

"Andil Soeharto katanya memberikan izin (menulis). Itu enggak bisa dibilang andil, yang memenjarakan Pram kan Soeharto. Jadi tidak benar semua yang diklaim oleh Fadli Zon. Itu bohong," kata dia.

"Enggak ada sama sekali jasa Soeharto ke Pram, yang ada malah membuat Pram menderita." tegas Sarina.

Persoalan mesin tik, Sarina menyatakan, bahwa ada sebuah transkrip wawancara antara Pram dengan Max Lane bersama Gil Scrine dan Danial Indrakusuma yang dilakukan pada 16 Februari 1992.

Atas dasar izin Danial Indrakusuma, Sarina kemudian membagian sedikit penggalan tentang mesin tik Pram dan dari mana ia mendapat kertas di penjara pada Suara.com.

baca juga

"Pada mulanya saya menulis dengan tangan. Kemudian pada suatu kali seorang tapol, yang bekerja untuk kepentingan mereka, datang kepada saya membawa mesin tulis, dari gudang, yang sudah rusak. Jadi, teman-teman membetulkan mesin tulis," kata Pram pada Max Lane.

Setelah bebas dari penjara, Pram baru tau jika Jenderal Soemitro pernah mengiriminya masin tik. Atas konfirmasi Domo (Pengkomkamtim Orba), mesin tik memang dikirimkan namun yang diberikan oleh orba pada Pram adalah mesin tik bekas.

"Jadi rupanya mesin tulis untuk saya itu diganti dengan mesin tua itu, di Buru, tanpa sepengetahuan saya. Juga waktu bebas itu, saya mendengar eh..laporan dari mahasiswa-mahasiswa yang datang di rumah saya, bahwa Sartre (filsuf kontemporer Perancis) pun pernah mengirimkan mesin tulis, tapi saya tidak pernah terima," tambah Pram.

Dalam wawancara itu, Pram juga menegaskan bahwa ia memang beberapa kali mendapat surat pencatatan pengiriman barang dari Eropa yang diambil dari pos di Namlea, namun ia tak pernah menerima barang tersebut.

"Kemudian saya tahu, beberapa kali saya pernah mendapat surat tercatat pengiriman barang dari Eropa. Saya tandatangani, diambil dari kantor pos di Namlea, dan saya tidak pernah menerima barangnya," kata Pram dalam transkrip wawancara.

Untuk masalah kertas, Pram menyatakan bahwa ia mendapatkannya dari teman-temannya.

"Mendapat kertas, pertama kali dari teman-teman, yang mengumpulkan uang untuk membelikan saya kertas, juga saya dapat dari gereja, dan juga dapat dari usaha sendiri," kata Pras lagi.

Menilik kembali transkrip yang ia miliki, Sarina menyatakan: "Dulu saat saya membaca hasil wawancara, itu berkesan sekali bagi saya. Karena seolah Pram yang bercerita langsung bersama Hasyim Rahman dan Joesoef Isaak."

"Banyak kekejaman di Pulau Buru. Bahkan seandainya betul Suharto yang kasih mesin tik itu, tidak bisa disebut jasa. Apalagi nyatanya tidak," tambah Sarina.

Menurut Sarina, transkrip wawancara bersama Pram itu belum bisa ia bagikan sepenuhnya karena menyangkut beberapa hal.

"Untungnya wawancara dengan Pram, Joesoef Isaak dan Hasyim Rahman masih ada di arsip saya, tapi tidak bisa saya bagikan karena itu kerjaan dengan orang. Kalau sepotong sih ngga papa," tutupnya.

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya adalah sastrawan ulung  Indonesia yang unik. Karya besarnya lahir di tangh tekanan dan penganiayaan penguasa orde baru.

Setelah kemerdekaan, dia menjadi salah satu pendukung Presiden Sukarno dan pada dekade 1950an aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat yang tenar dikenal sebagai Lekra. Sayangnya peristiwa 30 September membuat ia masuk didaftar orang-orang yang dianggap komunis. 

Pram ditangkap oleh tentara dua minggu setelah kejadian 30 September, ia dituding sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang dituding berupaya melakukan kudeta untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Para seniman yang bergabung dalam Lekra sendiri mengatakan bahwa organisasi itu bukanlah organ resmi PKI dan anggota-anggotanya tak serta-merta anggota PKI.

Setelah itu ia dipenjara di Pulau Buru sebagai tahanan politik oleh rezim Soeharto selama 14 tahun. Ditahanan, ia menghasilkan karyanya besarnya Tetralogi Buru, yang terdiri dari empat novel: "Bumi Manusia", "Anak Semua Bangsa", "Jejak Langkah", dan "Rumah Kaca".

Karya yang kini sudah diterjemahkan dalam lebih dari 20 bahasa di dunia itu, awalnya diceritakan secara lisan oleh Pram kepada rekan-rekannya di Buru. Setelah ia diizinkan menggunakan kertas dan mesin tik ia menulis kisah yang kemudian dibukukan pada 1980-an. Pram wafat pada usia 81 akibat penyakit diabetes dan jantung.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aktivis Perempuan Sebut RUU Ketahanan Keluarga Warisan Orde Baru

Aktivis Perempuan Sebut RUU Ketahanan Keluarga Warisan Orde Baru

News | Rabu, 19 Februari 2020 | 23:09 WIB

Otoriter dan Penuh Intrik, Anandito Beberkan Politik Jawa di Mata Pramoedya

Otoriter dan Penuh Intrik, Anandito Beberkan Politik Jawa di Mata Pramoedya

News | Rabu, 04 Desember 2019 | 05:46 WIB

Tips Jitu Jadi Sutradara Andal ala Hanung Bramantyo

Tips Jitu Jadi Sutradara Andal ala Hanung Bramantyo

Video | Sabtu, 24 Agustus 2019 | 12:16 WIB

Inalillahi, Pemrakarsa Jurusan Teknik Pengairan dan Mantan Menteri PU Wafat

Inalillahi, Pemrakarsa Jurusan Teknik Pengairan dan Mantan Menteri PU Wafat

News | Sabtu, 17 Agustus 2019 | 19:52 WIB

Putri Pramoedya Bersyukur Bumi Manusia Tak Lagi Ditakuti

Putri Pramoedya Bersyukur Bumi Manusia Tak Lagi Ditakuti

Entertainment | Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:14 WIB

Terkini

Akademisi: Korupsi Batu Bara PLTU Jangan Berhenti di Eks Jampidsus, Ungkap Seluruh yang Terlibat

Akademisi: Korupsi Batu Bara PLTU Jangan Berhenti di Eks Jampidsus, Ungkap Seluruh yang Terlibat

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:14 WIB

Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat

Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:45 WIB

DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!

DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:25 WIB

DPR Desak Kejagung Bentuk Tim Steril untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

DPR Desak Kejagung Bentuk Tim Steril untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:10 WIB

Jadi Ketua Panja Awasi Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, Habiburokhman: Ini Kasus Mega Korupsi

Jadi Ketua Panja Awasi Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, Habiburokhman: Ini Kasus Mega Korupsi

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:29 WIB

DPRD DKI Apresiasi Mobil Klinik Hewan Keliling, Dorong Sosialisasi Lebih Masif

DPRD DKI Apresiasi Mobil Klinik Hewan Keliling, Dorong Sosialisasi Lebih Masif

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:18 WIB

Minta Dihukum Mati! DPR Geram Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi: Menjijikkan!

Minta Dihukum Mati! DPR Geram Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi: Menjijikkan!

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:02 WIB

Jejak Kasus Febrie Adriansyah: Penggeledahan, Penyitaan Aset hingga Dilimpahkan ke Kejagung

Jejak Kasus Febrie Adriansyah: Penggeledahan, Penyitaan Aset hingga Dilimpahkan ke Kejagung

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:46 WIB

Tersangka Don Ritto Sudah Ditahan di Polda Metro, Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

Tersangka Don Ritto Sudah Ditahan di Polda Metro, Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:20 WIB

Kasus Eks Jampidsus Febrie Disorot DPR, Komisi III Bentuk Panja Awasi Penyidikan hingga Tuntas

Kasus Eks Jampidsus Febrie Disorot DPR, Komisi III Bentuk Panja Awasi Penyidikan hingga Tuntas

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:08 WIB

×