Transpuan Terdiskriminasi saat Wabah Corona: Mereka Raba Payudara Saya

Reza Gunadha

Senin, 18 Mei 2020 | 19:52 WIB
Transpuan Terdiskriminasi saat Wabah Corona: Mereka Raba Payudara Saya
[BBC]

Berpenampilan seperti perempuan tidak akan berdampak pada keluarganya - yang kehidupannya sudah cukup sulit.

"Ayahku lelaki macho," kata Monica. "Dia tidak membutuhkan alasan untuk memukuli saya, dua saudara perempuan saya, atau ibu kami."

Monica berangsur-angsur mulai mengatur rambutnya seperti seorang perempuan dan mengenakan pakaian yang lebih pas di badannya.

Di sekolah dia diejek karena penampilannya yang feminin, jadi dia selalu menjaga dirinya sendiri. Setidaknya saudara perempuan dan ibunya selalu mencintainya.

Kemudian, ketika dia berusia 14 tahun, ayahnya meninggal secara tak terduga dan keluarganya kehilangan satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Monica merasa dia harus membantu keluarga. Dia mendengar bahwa ada permintaan untuk pekerja seks transgender di Panama City dan uang yang dihasilkan lumayan.

Monica, masih anak-anak saat itu, memutuskan bahwa itu akan menjadi cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di toko yang menjual bahan makanan, pemilik toko meminta maaf dan menjelaskan kepada Monica bahwa itu bukan keinginannya untuk memintanya pergi. Permintaan itu datang langsung dari polisi.

Meski pekerjaan seks di Panama legal, itu tidak berarti tanpa stigma, dan Monica mengatakan polisi di lingkungan telah mengejeknya selama bertahun-tahun. Mereka meneriakkan kata-kata homofobia dan transfobia ketika ia pergi bekerja.

baca juga

Pada usia 38, dia sudah mengalami hinaan itu selama 24 tahun.

"Banyak orang trans bekerja sebagai pekerja seks di kota ini," kata Monica. "Apakah ini pilihan pertama kami? Tidak, tapi ini biasa dan itu artinya saya bisa mengurus keluarga saya."

Sejak lockdown dimulai, pekerjaan terhenti, dan keuangannya semakin sulit.

Delapan anggota keluarga berbagi rumah. Kedua saudara perempuannya memiliki anak, totalnya sebanyak empat orang.

Kedua saudara perempuannya itu lajang, yang satu baru-baru ini meninggalkan hubungan yang dipenuhi kekerasan, dan yang satunya tidak bekerja. Begitu juga ibu Monica.

Setibanya di rumah, telepon Monica dipenuhi pesan WhatsApp.

Pesan itu datang dari penjaga toko.

Dia berkata merasa tidak enak karena sudah menyuruh Monica pulang dengan tangan kosong.

Dia mengatakan Monica tidak perlu mengirim saudara perempuannya untuk membeli ayam karena dia yang akan mengantarkannya sendiri.

Monica tersenyum. Kebaikan komunitasnya akan membantunya selama lockdown.

Tapi dia tidak mau bergantung pada pertolongan seperti itu selama pandemi. Dia ingin terus mengurus keluarganya.

Dia membuat keputusan untuk pergi keesokan harinya - hari pria, hari seks biologisnya.

Tapi kali ini pengalamannya bahkan lebih buruk.

Dia memutuskan untuk pergi ke supermarket yang lebih besar untuk mendapatkan semua persediaan yang mereka butuhkan selama beberapa minggu.

Ketika dia tiba, dia mengantre untuk masuk, tapi antrean itu panjang sekali.

Di bawah aturan lockdown Panama, setiap orang diizinkan keluar tiga hari per minggu, tetapi bahkan pada hari-hari itu mereka hanya dapat meninggalkan rumah selama dua jam, tergantung pada kode pos mereka.

Monica menunggu dalam antrian laki-laki, yang menyeringai ketika mereka melihatnya.

Waktu terus berjalan. Kemudian dua jam berlalu.

Hampir pada saat itu, enam petugas polisi mendekati Monica.

"Mereka memberi tahu saya bahwa saya berada di luar batas waktu untuk pergi ke toko," katanya. "Mereka mulai melakukan pengecekan tubuh saya. Salah satu dari mereka meremas payudara saya, sambil tertawa, 'Kamu bukan perempuan,' dan mengucapkan kata-kata hinaan."

Semua orang memalingkan muka dan tidak melakukan apa pun.

Monica tidak pernah merasa lebih sendirian.

"Hari-hari gender di Panama berarti komunitas trans terkutuk jika mereka memanfaatkannya, dan terkutuk jika tidak," kata Cristian González Cabrera dari Human Rights Watch.

Asosiasi Rakyat Trans Panama mengatakan bahwa sejak masa gender dimulai, lebih dari 40 orang telah menghubungi mereka untuk melaporkan bahwa mereka telah dilecehkan ketika pergi ke supermarket atau membeli obat.

Pada awal Mei, pihak berwenang di ibukota Kolombia, Bogota, memutuskan untuk mencabut pembatasan berbasis gender, setelah kelompok LGBT mengatakan hari-hari itu mendiskriminasi kelompok trans.

Menyusul surat terbuka oleh Human Rights Watch kepada kepresidenan Panama, mengutip penganiayaan terhadap orang-orang trans oleh kepolisian Panama, Kementerian Keamanan Publik Panama mengeluarkan sebuah pernyataan minggu ini yang mengatakan bahwa mereka "telah memerintahkan pasukan keamanan untuk menghindari segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok LGBT "selama lockdown.

"Ini adalah langkah yang harus dipuji," kata Cristian González Cabrera. Namun, ia mengatakan tidak jelas apa artinya "menghindari diskriminasi" - dan kapan tepatnya kelompok trans diperbolehkan keluar rumah.

"Kami berurusan dengan populasi yang terpinggirkan secara historis di negara ini dan pernyataan itu tidak cukup jelas."

Monica tidak yakin dia bisa mempercayai jaminan kementerian.

Dia pergi ke bank setelah pernyataan itu dirilis - pada hari di mana perempuan diizinkan meninggalkan rumah - dan seorang petugas polisi mendekatinya.

"Saya akan pulang jika saya jadi kamu," katanya. "Saya mengatakan ini karena saya peduli, tetapi kamu tidak seharusnya keluar hari ini."

BBC meminta Kementerian Keamanan Publik Panama untuk berkomentar, tetapi mereka tidak menanggapi.

"Saya tidak tahu harus bagaimana. Kapan saya bisa keluar?" Monica bertanya. "Saya tidak berusaha membodohi siapa pun. Saya hanya ingin bisa mengurus keluarga saya."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kubur Jenazah Pasien Diam-diam, Nikaragua Tutupi Jumlah Kasus Covid-19

Kubur Jenazah Pasien Diam-diam, Nikaragua Tutupi Jumlah Kasus Covid-19

News | Senin, 18 Mei 2020 | 16:39 WIB

Yang Berbeda soal Permainan Anak-anak saat New Normal Usai Wabah Corona

Yang Berbeda soal Permainan Anak-anak saat New Normal Usai Wabah Corona

News | Senin, 18 Mei 2020 | 17:48 WIB

Batal Resepsi, Pengantin Ini Rayakan Pernikahan dengan Bantu Orang Miskin

Batal Resepsi, Pengantin Ini Rayakan Pernikahan dengan Bantu Orang Miskin

News | Senin, 18 Mei 2020 | 13:50 WIB

Disentil Obama soal Corona, Donald Trump: Dia Presiden yang Tidak Kompeten

Disentil Obama soal Corona, Donald Trump: Dia Presiden yang Tidak Kompeten

News | Senin, 18 Mei 2020 | 13:17 WIB

Ironis! Presiden Brasil Turun ke Jalan, Ikut Protes Anti-Lockdown

Ironis! Presiden Brasil Turun ke Jalan, Ikut Protes Anti-Lockdown

News | Senin, 18 Mei 2020 | 12:35 WIB

Ilmuwan: Hutan Amazon Bisa Jadi Sumber Wabah Virus Corona Selanjutnya

Ilmuwan: Hutan Amazon Bisa Jadi Sumber Wabah Virus Corona Selanjutnya

Tekno | Senin, 18 Mei 2020 | 10:30 WIB

Sandiaga Uno Sebut Virus sebagai Guru: Kita Sekarang Lagi Dididik Corona

Sandiaga Uno Sebut Virus sebagai Guru: Kita Sekarang Lagi Dididik Corona

News | Senin, 18 Mei 2020 | 10:02 WIB

Anita Wahid: Polarisasi Politik di Tengah Pandemi, Pasti Ada

Anita Wahid: Polarisasi Politik di Tengah Pandemi, Pasti Ada

News | Senin, 18 Mei 2020 | 03:00 WIB

Terkini

Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat

Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:45 WIB

DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!

DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:25 WIB

DPR Desak Kejagung Bentuk Tim Steril untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

DPR Desak Kejagung Bentuk Tim Steril untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:10 WIB

Jadi Ketua Panja Awasi Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, Habiburokhman: Ini Kasus Mega Korupsi

Jadi Ketua Panja Awasi Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, Habiburokhman: Ini Kasus Mega Korupsi

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:29 WIB

DPRD DKI Apresiasi Mobil Klinik Hewan Keliling, Dorong Sosialisasi Lebih Masif

DPRD DKI Apresiasi Mobil Klinik Hewan Keliling, Dorong Sosialisasi Lebih Masif

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:18 WIB

Minta Dihukum Mati! DPR Geram Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi: Menjijikkan!

Minta Dihukum Mati! DPR Geram Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi: Menjijikkan!

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:02 WIB

Jejak Kasus Febrie Adriansyah: Penggeledahan, Penyitaan Aset hingga Dilimpahkan ke Kejagung

Jejak Kasus Febrie Adriansyah: Penggeledahan, Penyitaan Aset hingga Dilimpahkan ke Kejagung

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:46 WIB

Tersangka Don Ritto Sudah Ditahan di Polda Metro, Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

Tersangka Don Ritto Sudah Ditahan di Polda Metro, Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:20 WIB

Kasus Eks Jampidsus Febrie Disorot DPR, Komisi III Bentuk Panja Awasi Penyidikan hingga Tuntas

Kasus Eks Jampidsus Febrie Disorot DPR, Komisi III Bentuk Panja Awasi Penyidikan hingga Tuntas

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:08 WIB

Febrie Adriansyah Akhirnya Ditetapkan Tersangka, Habiburokhman: Sudah Begitu Gamblang Diberitakan

Febrie Adriansyah Akhirnya Ditetapkan Tersangka, Habiburokhman: Sudah Begitu Gamblang Diberitakan

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:01 WIB

×