Di Balik Laris Manis Peti Mati Covid-19, Pengusaha: Saya Tidak Suka Cita

Siswanto, BBC

Selasa, 16 Februari 2021 | 14:19 WIB
Di Balik Laris Manis Peti Mati Covid-19, Pengusaha: Saya Tidak Suka Cita
BBC

Suara.com - Indonesia menempati peringkat 1 di Asia Tenggara dari sisi jumlah kematian kasus Covid-19, situasi yang membuat pengusaha furniture terus menggenjot produksi peti jenazah.

Pemerintah Indonesia terapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) skala mikro yang melibatkan ribuan relawan sebagai pelacak kontak di tingkat desa.

Di sisi lain, epidemiolog menekankan pentingnya pelacakan kontak erat dan kedisiplinan dalam penentuan karantina rumah.

Mesin pemotong kayu menjerit-jerit. Membelah papan berukuran sekitar 0,5 x 2 meter. Serpihan kayu berterbangan membentuk kabut yang segera hilang, menerbitkan keseriusan wajah para pekerja sebuah pabrik furniture di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

Papan-papan tersebut kemudian ditumpuk dengan ketinggian 2 meter, yang akan digunakan sebagai dasar pijakan peti mati bagi pasien Covid-19 yang meninggal.

Masih di atap pabrik yang sama, sekitar lima buruh melakukan pengerjaan akhir peti mati. Seluruh lapisan kayu ditempel stiker putih, di dalam kotak dilapisi bahan berlapis, dan setelah selesai dibungkus dengan plastik untuk mengindari debu.

Salah satu pekerja di pabrik itu, Dartim (39 tahun) mengaku kewalahan dengan orderan yang terus meningkat tiap bulannya. "Sampai pada sakit bergantian, tipes, karena kelelahan dan kurang tidur," katanya saat ditemui di pabrik, Kamis (04/02).

Fans Henrik, salah satu bos di pabrik itu, mengakui produksi peti mati belakangan ini sudah "kayak martabak. Bikin. Jadi. Angkat."

Ia, mengatakan pesanan naik hingga 5 kali lipat dibandingkan sejak awal pandemi. Biasanya sehari memproduksi 30 peti mati, sekarang bisa mencapai 150 unit. Kemungkinan, ia akan menambah jumlah pekerja.

baca juga

"Bahkan kami mau menerapkan 24 jam, 3 shift. Kalau memang sampai ke 10.000 (per bulan)," kata bos produsen peti jenazah, kargo jenazah dan layanan kedukaan, Eternity Funeral Service ini.

Saat ini pemerintah daerah yang sudah memesan secara tetap peti mati dari perusahaan ini antara lain Jakarta, Tangerang, Karawang, dan Depok, sedangkan Bogor sedang dalam proses penawaran. Hari itu, perusahaan ini juga mendapat pesanan ratusan peti mati untuk dikirim ke Timika, Papua.

Frans melanjutkan bisnis ini seperti "dua sisi mata uang", di mana "tetap ambil untung" tapi juga membantu kebutuhan pemerintah untuk pengadaan peti mati khusus Covid-19.

Kata dia, pesanan yang diproduksi Januari 2021 kemungkinan baru akan dibayar pemda sekitar bulan Maret. "Intinya kami talangin. Mungkin dari situ kita lihat sisi kemanusiaannya kita bantu talangin, bayarnya juga mundur. Kalau kita bisa bantu semaksimal mungkin, kita bantu. Ini tanggung jawab kita bersama," katanya.

Bisnis yang tak terencana

Eternity merupakan divisi bisnis dari pabrik furniture milik Lie Amin yang mulai dirintis pada awal pandemi.

Amin mengaku tak pernah merencanakan membuka divisi untuk memproduksi peti mati. Pembukaan divisi usaha menyusul kematian adik ipar dan seorang besan karena Covid-19. Ia yang mengurus pemulasaran saat itu kesulitan mendapatkan peti jenazah.

"Cari peti, tunggu dua jam, tidak ada peti," kata Amin mengenang masa itu.

Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya ia memutuskan untuk membeli peti dan segera mengirim jenazah. "Saya marah dan sedih karena dua keluarga dalam sebulan meninggal," kata Amin.

Sehari kemudian, pihak covid center menelponnya, dan mengatakan pihaknya meminta maaf karena kehabisan peti jenazah. Dari sini, Amin kemudian mulai mendapat permintaan untuk membuat peti jenazah.

"Saya pengusaha furniture sudah 25 tahun. Saya mengerti bagaimana membuat peti yang lebih efisien, dan lebih cepat dengan mesin yang kita ada. Saya sedih sekali, saya tidak senang melihat masyarakat Indonesia begitu banyak korban".

"Saya tidak suka cita dalam kematian orang ini dan bisnis ini laris. Karena kita pabrik furniture, kita income dari furniture, ini adalah buka line, buka produksi baru untuk membantu," kata Amin.

Kematian nomor 1 di Asia Tenggara

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) per 15 Februari 2021, angka kematian yang dipicu Covid-19 di Indonesia menempati peringkat satu di Asia Tenggara. Persentase kematian dari total kasus Covid-19 mencapai 2,72%. Kematian kumulatif selama pandemi sebanyak 32.936 dari total 1.210.703 kasus positif Covid-19.

Jumlah kematian yang dipicu Covid-19 ini berada di atas Myanmar, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam dan Bangladesh.

Sementara di kawasan Asia, jumlah kematian yang dipicu Covid-19 Indonesia menempati posisi ke-5 di bawah Yaman, Afghanistan, Iran, dan China.

Pemerintah Indonesia telah melakukan serangkaian kebijakan. Terakhir adalah penetapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang telah diperpanjang dua pekan, dan berakhir 8 Februari 2021.

PPKM skala mikro

Ketua bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 pusat, Alexander Kaliaga Ginting mengatakan mulai 9 Februari 2021, pemerintah menerapkan kebijakan PPKM skala mikro. Hal ini dikarenakan penularan virus sudah berada pada kluster keluarga.

"Artinya, harus ada posko di desa. Posko yang mendampingi puskesmas, yang mendampingi tim pelacak. Sehingga mereka yang diisolasi, dikarantina harus 14 hari dikurung," kata Alexander dalam diskusi yang disiarkan YouTube BNPB, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Alex mengungkapkan pemerintah juga menggencarkan pelacakan kontak, selain sosialisasi protokol kesehatan 3M. Sejauh ini pemerintah mencatat sudah terdapat 4.000 relawan yang menjadi tim pelacak. "Tracer ini akan didampingi oleh pemerintah, dan juga polisi desa. Untuk bisa bersama-sama, sekaligus mengawasi yang diisolasi, dan juga dikarantina," katanya.

Akan tetap melonjak tanpa penanganan di bagian hulu

Pakar epidemiolog, Masdalina Pane, menilai angka kematian yang tinggi di Indonesia disebabkan keterlambatan mendeteksi kasus, dan rumah sakit yang penuh sehingga pasien Covid-19 tak bisa mendapat perawatan yang baik.

"Mengatasi pandemi di hilir saja, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu seperti menggarami lautan, nggak akan ada habisnya kalau di hulunya tidak kita perbaiki," kata kepala bidang pengembangan profesi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) ini.

Menanggapi kebijakan teranyar untuk PPKM skala mikro, Masdalina menyoroti tentang kemampuan pelacakan kontak erat terhadap orang dengan Covid-19. Menurutnya, kontak erat ini memiliki kemungkinan besar untuk mendapat orang terinfeksi virus corona.

"Hampir 65% dari kontak itu, dalam waktu tertentu mereka akan jadi positif juga," katanya.

Masdalina memperkirakan penambahan kasus semakin besar seiring dengan penelusuran kontak erat dalam kebijakan PPKM skala mikro, karena data yang ada saat ini hanya penampakan "gunung es", yang bagian bawahnya terus terjadi "penularan".

Selain itu, PPKM skala mikro yang Masdalina sebut sebagai "karantina rumah" juga perlu memperhatikan kebutuhan logistik orang yang sedang menjalani karantina atau isolasi. Ia memperkirakan pemerintah perlu membantu kebutuhan logistik 20% keluarga yang melakukan karantina rumah. "Ini harus dibantu," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Colors of Evil: Red, Mengupas Teka-Teki Kematian Tragis dan Duka Mendalam Seorang Ibu

Colors of Evil: Red, Mengupas Teka-Teki Kematian Tragis dan Duka Mendalam Seorang Ibu

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:25 WIB

Teka-Teki Kematian Sutrimo, Kepala Rumah Tangga Febrie Adriansyah

Teka-Teki Kematian Sutrimo, Kepala Rumah Tangga Febrie Adriansyah

Video | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Ungkap Penyebab Kematian Sutrimo, Polisi Buka Peluang Lakukan Ekshumasi

Ungkap Penyebab Kematian Sutrimo, Polisi Buka Peluang Lakukan Ekshumasi

Video | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Review Film Colors of Evil: Black, Kematian dan Misteri Kota yang Bungkam!

Review Film Colors of Evil: Black, Kematian dan Misteri Kota yang Bungkam!

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:30 WIB

9.800 Orang Tewas karena Gelombang Panas Ekstrem di Jerman

9.800 Orang Tewas karena Gelombang Panas Ekstrem di Jerman

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:06 WIB

Review Frankenstein: Kisah Tragis dan Ambisi Manusia yang Melawan Kematian

Review Frankenstein: Kisah Tragis dan Ambisi Manusia yang Melawan Kematian

Your Say | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:00 WIB

Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?

Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?

Your Say | Selasa, 21 Juli 2026 | 18:00 WIB

Singsot: Siulan Kematian, Lebih Panjang dan Lebih Mencekam

Singsot: Siulan Kematian, Lebih Panjang dan Lebih Mencekam

Your Say | Senin, 13 Juli 2026 | 14:00 WIB

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Health | Jum'at, 10 Juli 2026 | 15:09 WIB

Per 5 Juli 2026, Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 2.954 Orang

Per 5 Juli 2026, Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 2.954 Orang

News | Minggu, 05 Juli 2026 | 09:19 WIB

Terkini

Ambil Sampel Cari Penyebab Kematian, Polisi Bongkar Makam Sutrimo di Banyumas

Ambil Sampel Cari Penyebab Kematian, Polisi Bongkar Makam Sutrimo di Banyumas

Jawa Tengah | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:07 WIB

Timnas Indonesia Bakal Turun dengan Kekuatan Penuh di FIFA ASEAN Cup, Negara Tetangga Was-was

Timnas Indonesia Bakal Turun dengan Kekuatan Penuh di FIFA ASEAN Cup, Negara Tetangga Was-was

Bola | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:05 WIB

2 Pilihan Kulkas Mini Polytron 50 Liter, Hemat Listrik dan Pas untuk Ruang Sempit

2 Pilihan Kulkas Mini Polytron 50 Liter, Hemat Listrik dan Pas untuk Ruang Sempit

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:04 WIB

Hibah Rp800 Juta untuk DWP Tangsel Disorot, Dasar Hukum Pencairan Anggaran Dipertanyakan

Hibah Rp800 Juta untuk DWP Tangsel Disorot, Dasar Hukum Pencairan Anggaran Dipertanyakan

Banten | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:03 WIB

The First Responders Season 2 dan Pertarungan Otak Melawan Dalang Kejahatan

The First Responders Season 2 dan Pertarungan Otak Melawan Dalang Kejahatan

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:00 WIB

12 Hari Hilang, Perempuan di Tasikmalaya Ditemukan Tewas dalam Sumur Berisi Kobra Jawa

12 Hari Hilang, Perempuan di Tasikmalaya Ditemukan Tewas dalam Sumur Berisi Kobra Jawa

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:58 WIB

BRI Perkuat Ekosistem UMKM Desa Brilian Hargobinangun Sleman

BRI Perkuat Ekosistem UMKM Desa Brilian Hargobinangun Sleman

Jawa Tengah | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Dorong UMKM Tumbuh Berkelanjutan, BRI Peduli Perkuat Ekonomi Lokal Desa Brilian Hargobinangun

Dorong UMKM Tumbuh Berkelanjutan, BRI Peduli Perkuat Ekonomi Lokal Desa Brilian Hargobinangun

Jatim | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?

Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:55 WIB

Megawati Geram Disebut Oposisi: Buzzer Itu Goblok, Nggak Pernah Baca!

Megawati Geram Disebut Oposisi: Buzzer Itu Goblok, Nggak Pernah Baca!

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:53 WIB

×