Kudeta Myanmar: Kisah-kisah Pengorbanan dan Ketakutan dari Jalanan

Siswanto, BBC

Minggu, 21 Maret 2021 | 13:34 WIB
Kudeta Myanmar: Kisah-kisah Pengorbanan dan Ketakutan dari Jalanan
BBC

Suara.com - Setiap hari, masyarakat awam di Myanmar membuat pilihan sulit dalam menghadapi tanggapan yang semakin keras terhadap aksi protes mereka.

Para pengunjuk rasa ingin kembali kepada pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis, setelah militer mengambil kendali pada 1 Februari, dengan mengklaim ada kecurangan yang meluas pada pemilu tahun lalu.

Menurut PBB, sedikitnya 149 orang tewas selama pembangkangan sipil sejak 1 Februari - meskipun angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi.

Berikut kisah mereka yang terus turun ke jalan, yang diceritakan dengan menggunakan kata-kata mereka sendiri.

Perempuan yang memperjuangkan masa depan untuk putrinya

Naw adalah pemimpin dari General Strike Committee of Nationalities, kelompok protes yang memimpin gerakan pembangkangan sipil.

Dia mengaku ikut berpartisipasi dalam aksi pemogokan demi putrinya yang berusia satu tahun, yang dia harap dapat memiliki masa depan yang lebih baik.

Saya adalah anggota [kelompok etnis minoritas di Myanmar] yang disebut Karen, sehingga aksi protes bukanlah hal baru bagi saya.

Saat ini, pengunjuk rasa menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint, juga verifikasi hasil pemilu 2020.

Tapi kami, yang merupakan etnis minoritas, memiliki tuntutan yang lebih mendalam.

baca juga

Visi kami adalah membentuk sebuah persatuan demokratik federal yang menyertakan semua suku bangsa yang ada di Myanmar.

Militer berkuasa dengan strategi memecah belah dan menaklukkannya selama bertahun-tahun, tetapi saat ini seluruh bangsa telah bersatu.

Saya memiliki seorang gadis kecil, usianya satu tahun.

Saya tidak ingin dia menderita karena tindakan saya. Saya terlibat dalam aksi protes untuk putri saya karena saya tidak ingin dia tumbuh di bawah kediktatoran seperti saya.

Sebelum saya ikut protes, saya telah berdiskusi dengan suami saya.

Saya memintanya untuk merawat bayi kami dan melanjutkan hidup jika saya ditangkap atau tewas dalam gerakan ini.

Kami akan menyelesaikan revolusi ini sendiri dan tidak menyerahkannya kepada anak-anak kami.

Petugas medis yang menolong para dokter melarikan diri

Nanda* bekerja di sebuah rumah sakit di kota Myeik.

Para pekerja medis berada di garis depan dalam aksi protes di Myanmar, tetapi Nanda mengatakan pekerja medis di Myeik harus bersembunyi lantaran takut diciduk aparat militer.

Kejadian ini terjadi pada sebuah malam, tanggal 7 Maret, sebelum jam malam dimulai.

Saya mengendarai mobil dengan jendela berlapis - saya menjemput seorang ahli bedah ortopedi, istrinya, seorang dokter dan beberapa anggota keluarganya - dan dalam kegelapan, kami mengemas tas mereka ke dalam mobil kami, lalu mengantarkan mereka ke rumah persembunyian.

Sehari yang lalu, pejabat pemerintah menelepon beberapa rumah sakit di Myeik untuk menanyakan nama-nama dokter spesialis, petugas medis, dan perawat yang berpartisipasi dalam Gerakan Pembangkangan Sipil.

Ketakutan seketika melanda [kami] - mengapa mereka menginginkan nama-nama mereka? Apa yang mungkin terjadi pada mereka jika mereka dipanggil oleh pejabat pemerintah?

Semua dokter yang bertugas - mereka yang bekerja untuk pemerintah - memutuskan bahwa mereka akan bersembunyi, karena takut apa yang kemungkinan terjadi jika mereka tertangkap.

Saya ditugaskan untuk membantu beberapa dokter melarikan diri.

Kembali ke mobil kami, suasana seperti itu sulit dipercaya dan membuat muak.

"Mengapa orang-orang seperti kita [dokter dan staf medis] harus bersembunyi seperti penjahat sementara mereka melakukan apa yang mereka inginkan?" tanya dokter.

Saya merasa mual. Saya tidak pernah membayangkan suatu hari saya harus menyembunyikan [dokter] padahal mereka tidak melakukan kesalahan apa pun.

Mulai besok, warga Myeik hanya memiliki segelintir dokter spesialis untuk merawat mereka.

Tidak akan ada cukup ahli bedah untuk menolong patah jari, tangan, dan tengkorak para pengunjuk rasa dan orang-orang yang dipukul [aparat militer].

Tidak akan ada dokter kandungan dan ginekolog yang akan membantu perempuan melahirkan di Myeik.

Pekerja medis telah menjadi bagian penting dan esensial dari gerakan ini, tetapi saat ini mereka telah pergi.

Sang pria di belakang kamera

Maung adalah pembuat film di Yangon. Ketika protes dimulai, dia memutuskan untuk mendokumentasikan setiap hari sebagai upaya untuk menunjukkan bagaimana gerakan itu berkembang.

Hari itu adalah hari yang tak terlupakan - 28 Februari. Saya berada di garis depan di Jalan Bargaya [di Yangon], berdiri di belakang barikade.

Saya sedang syuting dengan menggunakan ponsel saya. Ratusan pengunjuk rasa meneriakkan slogan dan menbunyikan botol dan kaleng.

Sekitar 100 orang berbaris ke arah kami dengan cepat - Saya tidak tahu apakah mereka polisi atau tentara.

Tanpa peringatan, mereka mulai menembaki kami dengan bom suara, peluru, dan gas air mata.

Saya berlari menuju sebuah jalan yang saya siapkan sebagai rute pelarian sambil terus mencoba untuk melanjutkan mengambil gambar. Sebagian besar dari kami berhasil kabur.

Sekarang, saat saya bergabung dalam aksi protes, saya harus membawa helm dan sarung tangan tahan panas.

Kami akan melempar kembali tabung gas air mata, jika ada kesempatan.

Acapkali, untuk mematikan kaleng gas air mata, kami menutupinya dengan pakaian basah dan menyiramnya dengan air.

Banyak pendemo mengenakan masker gas murahan yang tidak dapat sepenuhnya melindungi mereka dari gas air mata. Kami menemukan [minuman] Coke paling efektif untuk membersihkannya dari wajah kami.

Sebagai pembuat film sekaligus pengunjuk rasa, saya memutuskan untuk ikut protes dan membuat film yang sangat pendek setiap hari.

Sekarang melihat kembali videonya, saya dapat mengalami kembali bagaimana perlawanan telah berubah - dari aksi protes damai menuju aksi [yang] di mana kita mempertaruhkan hidup kita.

Apa yang terjadi lebih nyata dari film manapun.

Perempuan yang terperangkap oleh pasukan militer

Phyo* adalah seorang peneliti dan merupakan salah satu dari 200 orang yang menghadiri protes di Sanchaung, sebuah distrik di Kota Yangon, ketika mereka mendapati diri terperangkap oleh kehadiran aparat militer yang mencegah mereka pergi. Sedikitnya 40 orang ditangkap.

Saat itu 8 Maret, sekitar jam 2 siang, ketika pasukan keamanan datang [dan memerangkap kami].

Kami mulai melihat para pemilik rumah membuka pintunya dan melambaikan tangan, [memanggil] kami ke rumah mereka.

Aparat keamanan berada di luar, menunggu kami keluar. Ada tujuh orang dari kami berada di dalam rumah - enam perempuan dan seorang pria.

Para pemilik rumah sangat baik dan menawari kami makanan. Kami pikir akan aman untuk pergi beberapa jam kemudian, [tetapi] sekitar pukul 18.30, kami mulai cemas.

Kami menyadari mereka [pasukan keamanan] tidak akan pergi. Kami memutuskan untuk membuat rencana [melarikan diri].

Pemilik rumah kami memberi tahu kami jalan-jalan mana yang aman untuk bersembunyi, dan menawarkan tempat-tempat lain yang aman buat bersembunyi.

Kami meninggalkan semua barang kami di rumah pemilik rumah yang pertama. Saya berganti mengenakan sarung [sepotong kain yang secara tradisional digunakan sebagai rok], sehingga saya terlihat seperti warga setempat - dan meninggalkan rumah itu.

Saya juga mencopot banyak aplikasi di ponsel saya dan membawa uang cadangan.

Kami menghabiskan sepanjang malam di tempat lain yang aman. Pagi harinya, kami mendengar aparat keamanan sudah tidak ada lagi.

Ilustrasi oleh jurnalis visual BBC News Davies Surya.

*Nama telah diubah demi keamanan dan wawancara telah diedit agar lebih jelas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kirim Siswa Terjaring saat Unjuk Rasa ke Barak Militer, Pramono: Agar Lebih Sayang Negaranya

Kirim Siswa Terjaring saat Unjuk Rasa ke Barak Militer, Pramono: Agar Lebih Sayang Negaranya

News | Kamis, 10 September 2026 | 12:38 WIB

29 Pelajar Jakarta Terjaring Demo 27 Agustus Dikirim ke Barak TNI, Disdik: Pembinaan Karakter

29 Pelajar Jakarta Terjaring Demo 27 Agustus Dikirim ke Barak TNI, Disdik: Pembinaan Karakter

News | Rabu, 09 September 2026 | 21:13 WIB

KontraS: Sidang Militer Kasus Air Keras Andrie Yunus Cuma Sandiwara!

KontraS: Sidang Militer Kasus Air Keras Andrie Yunus Cuma Sandiwara!

News | Rabu, 09 September 2026 | 18:20 WIB

Peran Militer di Ranah Sipil Kian Meluas! MK Didesak Segera Putus Uji Materi UU TNI

Peran Militer di Ranah Sipil Kian Meluas! MK Didesak Segera Putus Uji Materi UU TNI

News | Rabu, 09 September 2026 | 18:05 WIB

Imparsial Desak MK Segera Putus Uji Materi UU TNI, Soroti Keterlibatan Militer di Ranah Sipil

Imparsial Desak MK Segera Putus Uji Materi UU TNI, Soroti Keterlibatan Militer di Ranah Sipil

News | Rabu, 09 September 2026 | 16:52 WIB

Mulai Babak Baru! Putri Leonor Kembali Kuliah Usai 3 Tahun Sekolah Militer

Mulai Babak Baru! Putri Leonor Kembali Kuliah Usai 3 Tahun Sekolah Militer

Your Say | Rabu, 09 September 2026 | 17:35 WIB

Krisis Otomotif Paksa Volkswagen Sulap Pabrik Mobil Jadi Fasilitas Militer

Krisis Otomotif Paksa Volkswagen Sulap Pabrik Mobil Jadi Fasilitas Militer

Otomotif | Rabu, 09 September 2026 | 17:15 WIB

Imparsial soal Kasus Andrie Yunus: Ini Bukti Nyata Cacatnya Sistem Peradilan Militer di Indonesia

Imparsial soal Kasus Andrie Yunus: Ini Bukti Nyata Cacatnya Sistem Peradilan Militer di Indonesia

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:42 WIB

5 Warga Palestina Tewas Diserang Israel di Jalur Gaza, 30 Lainnya Luka Parah

5 Warga Palestina Tewas Diserang Israel di Jalur Gaza, 30 Lainnya Luka Parah

News | Selasa, 08 September 2026 | 10:53 WIB

Amnesty Soroti Kekerasan TNI terhadap Warga Sipil: Tentara Perlu Punya Hati Nurani

Amnesty Soroti Kekerasan TNI terhadap Warga Sipil: Tentara Perlu Punya Hati Nurani

News | Senin, 07 September 2026 | 19:20 WIB

Terkini

Persija vs Persib Kembali di GBK Setelah 7 Tahun! Jakmania-Bobotoh Bekasi Sepakat Jaga Persaudaraan

Persija vs Persib Kembali di GBK Setelah 7 Tahun! Jakmania-Bobotoh Bekasi Sepakat Jaga Persaudaraan

News | Sabtu, 12 September 2026 | 11:11 WIB

150 Nama Kucing Jantan Pembawa Rezeki dan Keberuntungan, Majikan Anabul Auto Hoki!

150 Nama Kucing Jantan Pembawa Rezeki dan Keberuntungan, Majikan Anabul Auto Hoki!

Lifestyle | Sabtu, 12 September 2026 | 11:10 WIB

Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga

Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 11:10 WIB

Jokowi Dijadwalkan Hadiri Khitanan Anak KH Ujang Busthomi, Warga Cirebon Antusias Menanti

Jokowi Dijadwalkan Hadiri Khitanan Anak KH Ujang Busthomi, Warga Cirebon Antusias Menanti

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 11:08 WIB

BBM Langka di Sulsel, Pertamina Sebut Terjadi Perubahan Pola Konsumsi

BBM Langka di Sulsel, Pertamina Sebut Terjadi Perubahan Pola Konsumsi

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 11:05 WIB

Samsung Galaxy S26 FE Hadir di Indonesia, Teman Andalan Anak Muda Wujudkan Ide Kreatif

Samsung Galaxy S26 FE Hadir di Indonesia, Teman Andalan Anak Muda Wujudkan Ide Kreatif

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 11:00 WIB

Hindari Macet Laga Persija vs Persib, Ini Rute MRT dan Transjakarta Menuju GBK

Hindari Macet Laga Persija vs Persib, Ini Rute MRT dan Transjakarta Menuju GBK

News | Sabtu, 12 September 2026 | 10:58 WIB

Kurangi Dampak Mobilitas, Gubernur Sulsel Berlakukan Sekolah Daring

Kurangi Dampak Mobilitas, Gubernur Sulsel Berlakukan Sekolah Daring

Sulsel | Sabtu, 12 September 2026 | 10:57 WIB

Harga Emas Antam Naik Rp4.000, Tembus Rp2,6 Juta per Gram

Harga Emas Antam Naik Rp4.000, Tembus Rp2,6 Juta per Gram

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 10:51 WIB

Genjot Investasi Lokal, Thailand Mulai Naikkan Pajak Impor Mobil Listrik

Genjot Investasi Lokal, Thailand Mulai Naikkan Pajak Impor Mobil Listrik

Otomotif | Sabtu, 12 September 2026 | 10:50 WIB

×