Warganet China Puji Greysia/Apriyani, Kecam Atlet Sendiri yang Kalah

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Selasa, 03 Agustus 2021 | 17:00 WIB
Warganet China Puji Greysia/Apriyani, Kecam Atlet Sendiri yang Kalah
[BBC]

Suara.com - Warga China ramai-ramai memuji penampilan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, yang sukses meraih medali emas di Olimpiade Tokyo, setelah mengalahkan duo negeri Tirai Bambu itu: Chen Qingchen - Jia Yi Fan.

Berdasarkan pemantauan BBC Chinese di platform Weibo, warganet Tiongkok menyebut Greysia/Apriyani memperlihatkan pertarungan dahsyat sehingga pantas menang.

Ada pula komentar warganet China menyoal fakta atlet mereka hanya mampu menyumbangkan dua medali emas dari lima laga final perebutan medali emas bulu tangkis.

Bahkan, pada kategori ganda putri di Olimpiade Rio 2016 lalu, pebulutangkis China sama sekali tak menyumbangkan medali.

"Kita sedikit ketinggalan dalam olahraga badminton selama beberapa tahun terakhir," sebut seorang warganet China.

Menanggapi kekalahan Chen dan Jia, warganet China menyebut duo tersebut relatif muda dan Olimpiade Tokyo merupakan penampilan perdana mereka di pesta olahraga terakbar dunia.

"Melalui pihak lawan, kemampuan atlet kita diuji. Fan dan Chen punya hati yang besar. Mereka saling memuji dan mereka juga menyanjung lawan," kata seorang warganet China.

"Sampai ketemu di podium medali [Olimpiade] Paris," sebut seorang warganet lainnya seraya menambahkan dua emoji menangis.

Akan tetapi respons tersebut tidak berlaku bagi atlet-atlet lain yang gagal meraih medali emas.

Tekanan terhadap atlet China untuk menjadi juara di Olimpiade begitu tinggi. Atlet yang meraih medali apapun selain medali emas dipandang sebagai atlet yang tidak patriotik bagi warga ultra-nasionalis China di dunia maya. Berikut adalah laporan jurnalis BBC Waiyee Yip.

Tim tenis meja ganda campuran China mengajukan permintaan maaf dengan mata berlinang di Olimpiade Tokyo pekan lalu - karena kalah dalam pertandingan final dan hanya memenangkan medali perak.

"Saya merasa telah membuat gagal tim... Saya minta maaf semuanya," tutur Liu Shiwen sambil membungkuk meminta maaf, air mata mengalir di matanya.

Rekannya, Xu Xin, yang mencoba menenangkan Liu Shiwen, menambahkan: "Seluruh negara menantikan final ini. Saya pikir seluruh tim China tidak dapat menerima hasil ini."

Kekalahan mereka melawan Jepang di partai final dalam cabang olahraga yang biasanya mereka dominasi telah membuat banyak orang marah di dunia maya.

Seperti yang terjadi di platform microblogging Weibo, beberapa "pejuang keyboard" menyerang pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka telah "menggagalkan bangsa".

Yang lain membuat klaim yang tidak berdasar tentang bias wasit terhadap ganda campuran Jepang, Jun Mizutani dan Mima Ito.

Ketika demam nasionalis terus melanda negara itu, perolehan medali di ajang Olimpiade telah menjadi lebih dari sekadar kejayaan olahraga.

Bagi kelompok ultra-nasionalis, kehilangan medali Olimpiade sama dengan "tidak patriotik", kata para para kepada BBC.

"Bagi orang-orang ini, tabel medali Olimpiade adalah pelacak kecakapan nasional secara real-time dan, secara luas lagi, martabat nasional," kata Dr Florian Schneider, direktur Leiden Asia Centre di Belanda.

"Dalam konteks itu, seseorang yang gagal dalam kompetisi melawan orang asing telah mengecewakan atau bahkan mengkhianati bangsa."

Pertandingan tenis meja adalah pil pahit yang harus ditelan karena kalah dari Jepang, negara yang memiliki sejarah panjang penuh gejolak dengan China.

Pendudukan Jepang di Manchuria, wilayah China bagian utara pada 1931 sebelum perang yang lebih besar lagi terjadi enam tahun kemudian, telah menewaskan jutaan warga China.

Perisitiwa itu masih dianggap sebagai titik nadir antara kedua negara.

Bagi para nasionalis China, pertandingan itu bukan hanya acara atletik, kata Dr Schneider.

"Ini adalah pertikaian antara China dan Jepang."

Sentimen anti-Jepang di Weibo memuncak sepanjang pertandingan, karena pengguna memanggil Mizutani dan Ito dengan segala cara.

Tapi itu bukan hanya Jepang - atau pertandingan tenis meja.

Atlet bulu tangkis ganda putra China, Li Junhui dan Liu Yuchen, menjadi sasaran warganet ketika kalah dari Taiwan di partai final.

"Apakah kalian tidak bangkit? Kalian tidak berusaha sama sekali. Sialan!" kata seorang pengguna Weibo.

Tensi antara China dan Taiwan terus memanas belakangan.

China memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, namun warga Taiiwan tak sependapat dan menghendaki Taiwan sebagai negara merdeka.

Atlet lain yang menjadi sasaran termasuk atlet penembak jitu Yang Qian, kendati meraih medali emas pertamanya di Olimpiade Tokyo.

Ia menjadi sasaran karena unggahan lamanya di Weibo yang memamerkan koleksi sepatu merk Nike-nya.

Orang-orang tidak senang, mengingat bagaimana merek tersebut termasuk dalam merk-merk internasional yang diboikot di China.

Sejumlah merk internasional berhenti menggunakan kapas Xinjiang karena masalah kerja paksa .

"Sebagai atlet China, mengapa Anda harus mengoleksi sepatu Nike? Bukankah Anda harus memimpin dalam memboikot Nike?", salah satu warganet memberi komentar.

Yang telah menghapus unggahan tersebut.

Rekan setimnya, Wang Luyao, juga menghadapi kemarahan warga China karena gagal mendapat tempat di partai final senapan angin 10m putri.

"Apakah kami mengirimkan Anda ke Olimpiade untuk mewakili negara dan hanya menjadi lemah?," kata seorang komentator.

Kritik terhadapnya sangat besar, sampai-sampai Weibo terpaksa melakukan suspend terhadap 33 akun penggunanya, kata media lokal.

'Merah muda kecil'

Mengingat sifat kompetitif dari ajang Olimpiade, orang-orang yang marah atas kekalahan apa pun, tentu saja, hampir tidak unik di China.

Di Singapura, atlet renang Joseph Schooling menerima komentar yang ofensif di internet setelah gagal mempertahankan medali emas di cabang olahraga renang kupu-kupu 100 meter pekan lalu.

Kecaman itu menjadi begitu keji sehingga beberapa pemimpin pemerintahan, termasuk Presiden Halimah Yacob, yang bersuara meminta dukungan untuk Schooling.

Tetapi kemarahan yang terlihat secara online di China bisa dibilang lebih menonjol, dan bukan hanya karena populasinya yang besar dan fasih berinternet.

"Yang disebut 'merah muda kecil', atau anak muda dengan perasaan nasionalis yang kuat, memiliki suara yang tidak proporsional secara online," kata Dr Jonathan Hassid, pakar ilmu politik di Iowa State University.

"Sebagian, suara ini diperkuat karena kritik yang sah terhadap negara semakin tidak dapat diterima."

Nasionalisme di China telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir karena pengaruhnya di dunia global terus berkembang dan setiap kritik internasional dipandang sebagai upaya untuk menargetkan perkembangannya.

Olimpiade juga bertepatan setelah perayaan ulang tahun ke-100 Partai Komunis China pada 1 Juli, di mana Presiden Xi Jinping membuat pidato menantang tentang bagaimana China tidak akan pernah "diganggu" oleh kekuatan asing.

"Pihak berwenang telah menandai nasionalisme sebagai cara yang benar untuk memahami urusan saat ini, dan sekarang warga beralih ke kerangka itu ketika mereka perlu memahami peran China di dunia," kata Dr Schneider.

"Publik China telah diberitahu bahwa kesuksesan nasional itu penting, dan sekarang atlet China harus menyampaikan kesuksesan ini di Tokyo."

Betapapun, Dr Schneider dan para pakar lainnya menilai reaksi kemarahan para nasionalis ini tak sepenuhnya mewakili mayoritas warga China.

Dr Hassid berkata: "Jika satu-satunya suara yang secara konsisten diperbolehkan adalah nasionalis yang paling keras, kita tidak perlu terkejut bahwa suara mereka dapat mendominasi diskusi online jauh dari proporsi jumlah mereka yang sebenarnya."

Di tengah kemarahan yang terlihat di Weibo, ada juga dukungan luas untuk tim China di ajang Olimpiade Tokyo, dengan beberapa pengguna menyebut komentar yang ofensif "tidak masuk akal".

Media pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk lebih "rasional".

"Saya berharap kita semua di depan layar akan membangun pandangan rasional tentang medali emas, serta kemenangan dan kekalahan, untuk menikmati ... semangat Olimpiade," kata komentar Kantor Berita Xinhua.

Para ahli mengatakan ini adalah indikasi di mana letak "bahaya" - ketika nasionalisme tampaknya sudah terlampau jauh, bahkan bagi suatu negara.

"Partai Komunis China mencoba mengeksploitasi nasionalisme di dunia maya untuk tujuannya sendiri, tetapi ajang seperti ini menunjukkan bahwa begitu warga negara China gusar, negara mengalami kesulitan besar dalam mengendalikan perasaan ini," kata Dr Hassid.

"Mengeksploitasi sentimen nasionalis seperti menunggangi harimau. Sekali naik, sulit dikendalikan dan sulit diturunkan."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Alysha Newman, Atlet Olimpiade Tokyo yang Nekat Gabung Situs Dewasa

Alysha Newman, Atlet Olimpiade Tokyo yang Nekat Gabung Situs Dewasa

Sport | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:54 WIB

Semprot Parpol Ucapkan Selamat ke Greycia dan Apriani, Ferdinand: Karakter Mereka Buruk

Semprot Parpol Ucapkan Selamat ke Greycia dan Apriani, Ferdinand: Karakter Mereka Buruk

Banten | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:39 WIB

Sindiran Menohok Legenda Bulutangkis untuk Praveen / Melati

Sindiran Menohok Legenda Bulutangkis untuk Praveen / Melati

Sport | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:36 WIB

Menpora Sebut Kemenangan Greysia/Apriyani Kado HUT ke-76 RI

Menpora Sebut Kemenangan Greysia/Apriyani Kado HUT ke-76 RI

Sport | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:29 WIB

Film Pendek Eko Yuli Irawan: Kisah Perjuangan Lifter Terbaik Indonesia

Film Pendek Eko Yuli Irawan: Kisah Perjuangan Lifter Terbaik Indonesia

Your Say | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:27 WIB

Guru di Gunungkidul, Wahyana Pimpin Final Bulu Tangkis Olimpiade Tokyo 2020

Guru di Gunungkidul, Wahyana Pimpin Final Bulu Tangkis Olimpiade Tokyo 2020

Jogja | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:18 WIB

Perunggu Anthony Jadi Penutup Manis Penampilan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

Perunggu Anthony Jadi Penutup Manis Penampilan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

Sport | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:18 WIB

Pulang Tanpa Medali, Kevin / Marcus hingga Hendra / Ahsan dalam Sorotan

Pulang Tanpa Medali, Kevin / Marcus hingga Hendra / Ahsan dalam Sorotan

Sport | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:09 WIB

Singgung Pejabat Narsis, Dibalik Kemenangan Greysia/Apriyani yang Manis

Singgung Pejabat Narsis, Dibalik Kemenangan Greysia/Apriyani yang Manis

Kaltim | Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:06 WIB

Terkini

BRIN Bongkar Misteri Benda Langit di Lampung, Ternyata Sampah Roket China CZ-3B yang Jatuh

BRIN Bongkar Misteri Benda Langit di Lampung, Ternyata Sampah Roket China CZ-3B yang Jatuh

News | Minggu, 05 April 2026 | 14:05 WIB

Pilot F-15 Hilang, AS Putus Asa Hingga Tembaki Wilayah Iran Saat Operasi Penyelamatan

Pilot F-15 Hilang, AS Putus Asa Hingga Tembaki Wilayah Iran Saat Operasi Penyelamatan

News | Minggu, 05 April 2026 | 13:15 WIB

Pesan Paskah 2026: Kardinal Suharyo Ajak Umat Keluar dari Kegelapan dan Tetap Menyala dalam Kasih

Pesan Paskah 2026: Kardinal Suharyo Ajak Umat Keluar dari Kegelapan dan Tetap Menyala dalam Kasih

News | Minggu, 05 April 2026 | 12:48 WIB

Padati Gereja Katedral, 2.500 Umat dan Tokoh Nasional Khidmat Ikuti Misa Pontifikal Paskah

Padati Gereja Katedral, 2.500 Umat dan Tokoh Nasional Khidmat Ikuti Misa Pontifikal Paskah

News | Minggu, 05 April 2026 | 12:08 WIB

Ribuan Massa Kepung Kedubes AS, Beri Penghormatan untuk 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Ribuan Massa Kepung Kedubes AS, Beri Penghormatan untuk 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

News | Minggu, 05 April 2026 | 11:25 WIB

Dukung Langkah BGN Setop Sementara SPPG, Legislator DPR: Perlu Penindakan dan Pembinaan

Dukung Langkah BGN Setop Sementara SPPG, Legislator DPR: Perlu Penindakan dan Pembinaan

News | Minggu, 05 April 2026 | 11:18 WIB

Panglima TNI Pimpin Pemakaman Mayor Zulmi, Pahlawan Perdamaian yang Gugur di Misi UNIFIL Lebanon

Panglima TNI Pimpin Pemakaman Mayor Zulmi, Pahlawan Perdamaian yang Gugur di Misi UNIFIL Lebanon

News | Minggu, 05 April 2026 | 11:09 WIB

Selain Kajari Karo, Kejagung Amankan Kasi Pidsus dan Jaksa Kasus Amsal Sitepu, Terancam Sanksi Berat

Selain Kajari Karo, Kejagung Amankan Kasi Pidsus dan Jaksa Kasus Amsal Sitepu, Terancam Sanksi Berat

News | Minggu, 05 April 2026 | 11:02 WIB

Buntut Kasus Amsal Sitepu, Intel Kejagung Amankan Kajari Karo!

Buntut Kasus Amsal Sitepu, Intel Kejagung Amankan Kajari Karo!

News | Minggu, 05 April 2026 | 10:27 WIB

Suasana Haru Pemakaman Kopda Anumerta Farizal di TMP Giripeni, Isak Tangis Keluarga Pecah

Suasana Haru Pemakaman Kopda Anumerta Farizal di TMP Giripeni, Isak Tangis Keluarga Pecah

News | Minggu, 05 April 2026 | 10:15 WIB