Kisah Prostitusi Paksa: Mereka Memaksa Kami Berhubungan Seks 15 Kali Sehari

Arsito Hidayatullah | BBC | Suara.com

Jum'at, 03 September 2021 | 07:10 WIB
Kisah Prostitusi Paksa: Mereka Memaksa Kami Berhubungan Seks 15 Kali Sehari
Ilustrasi perempuan terjebak dalam lingkaran prostitusi. [Getty via BBC]

Suara.com - Semua pergerakan dimonitor dari jarak jauh dengan telepon genggam. Sebuah kamera tersembunyi dipasang di kamar dan ancaman mengirim video intim ke keluarga. Paspor ditahan, bersama dengan dokumen dan uang. Kontak dengan teman dibatasi. Hubungan seks paksa antara 15 sampai 20 klien per hari.

Ini adalah rutinitas harian tiga perempuan Brasil yang diselamatkan oleh polisi dari pekerjaan seperti budak yang terjadi di London barat laut, dalam sebuah investigasi kompleks yang dimulai sejak Maret tahun lalu.

Kasus ini berakhir pada 9 Agustus, ketika Shana Stanley, seorang perempuan berusia 29 tahun, dan Hussein Edanie, pria berumur 31 tahun, mengaku bersalah atas tuduhan menjalankan usaha prostitusi dan merencanakan perjalanan dengan tujuan eksploitasi.

Tiga perempuan Brasil dan satu warga negara Inggris menjadi korban mereka.

Edani diganjar hukuman penjara delapan tahun dan dua bulan, sementara Stanley menghadapi tiga tahun dan tujuh bulan kurungan dalam vonis yang dijatuhkan pada 27 Agustus lalu.

Detail kasus ini diperoleh secara eksklusif oleh BBC News Brazil.

"Mereka menjual mimpi kepada saya, yang kemudian berubah menjadi mimpi buruk," ujar salah satu korban dari Brasil itu.

Dia masih memulihkan diri dari trauma karena penyiksaan kejam di neraka dunia di ibu kota Inggris itu.

Dalam laporan ini, identitas para penyintas dirahasiakan.

"Surat kematian Anda"

Ketiga perempuan Brasil itu tiba di Inggris pada 2020, setelah menerima "beasiswa" dari tempat yang mengaku menawarkan kursus Bahasa Inggris selama beberapa pekan.

Polisi tidak menyediakan detail bagaimana mereka menghubungi korban.

Tak lama setelah mereka mendarat di London, mereka menjadi korban perdagangan manusia, yang menurut PBB terjadi kepada 2,5 juta orang dan menjadi tempat perputaran uang lebih dari US$30 miliar (RP427 triliun) per tahun.

"Berkat keberanian para korban, kami berhasil mengumpulkan bukti yang tidak dapat dibantah, sehingga Edani dan Stanley tak punya pilihan lain selain mengaku bersalah. Ini akan menghalangi mereka mencelakakan orang lain," kata Detektif Pete Brewster, salah satu penyelidik.

Proses penyelidikan dimulai setelah salah satu korban dari Brasil meminta pertolongan polisi pada Maret tahun lalu. Ketika itu, dia terlibat pertengkaran dengan Stanley.

Dalam pertengkaran itu, korban mencoba menelepon polisi, namun didorong oleh Stanley, yang kemudian, menurut catatan polisi, mengancamnya.

"Anda menandatangani surat kematian Anda sendiri," kata dia.

Peristiwa ini memicu warga Brasil tersebut untuk tak menyerah meminta pertolongan polisi dan menunjukkan foto-foto para pelaku kejahatan.

Tim Perbudakan Modern dan Eksploitasi Anak dari London Metropolitan Police kemudian meluncurkan investigasi.

Dalam testimoninya, korban berkata, tak lama setelah memulai kelas Bahasa Inggris di Manchester, dia diundang ke London untuk bertemu dengan perempuan yang memberinya beasiswa tersebut.

Setelah bertemu dengan perempuan itu, korban dipaksa menandatangani kontrak atau "dia tidak akan bisa kembali ke Brasil", "harus hidup di jalanan London", dan "tidak akan pernah bisa bertemu keluarganya lagi".

Prostitusi paksa

Kontrak tersebut, menurut polisi, meminta korban untuk setuju "menjual tubuhnya".

Dia mengaku tak punya pilihan lain kecuali menandatangani kontrak tersebut kepada para penyelidik, karena takut tak bisa kembali ke Brasil.

Modus yang sama dilakukan kepada korban-korban lain dari Brasil, yang juga datang ke Inggris setelah dijanjikan belajar Bahasa Inggris gratis, termasuk dibayari tiket dan administrasi.

Para korban diharuskan menyetor US$690 (Rp9,8 juta) per hari. Sebagai upah, mereka dibayar US$345 (Rp4,9 juta) per minggu, ditambah US$70 (Rp990 ribu) untuk makan.

Untuk memperoleh pendapatan yang diminta oleh para pelaku kejahatan, mereka harus menerima 15 sampai 20 klien dalam sehari, kata polisi.

Jumlah uang yang harus diberikan kepada Stanley dan Edani, menurut mereka, dipakai untuk membayar pengeluaran transportasi dari Brasil, yang semula dikira gratis oleh para korban.

Di dalam kamar, semua kegiatan divideokan dengan kamera yang dikontrol oleh pasangan tersebut. Mereka juga mengatakan kepada korban, mereka akan mengirimkan gambar-gambar tersebut ke keluarga mereka "jika mereka tidak melakukan apa yang diminta."

Para korban juga diberi telepon genggam oleh Stanley, yang tidak boleh dimatikan dan dipakai untuk mengirim informasi klien melalui WhatsApp dan memonitor pergerakan melalui GPS.

Selama beberapa waktu, mereka memang menjalani kursus Bahasa Inggris, namun lama-kelamaan dipaksa untuk keluar.

Pada April 2020, sebulan setelah pengaduan dari salah satu korban, polisi London mengeluarkan surat perintah penggeledahan dan penyitaan di alamat rumah pelaku, dan menyita ponsel, dokumen, daftar harga dan berkotak-kotak kondom dari kediaman mereka.

Ribuan poundsterling ditemukan di rekening bank mereka.

Setelah penggeledahan inilah, polisi menemukan satu korban warga negara Inggris, seorang perempuan yang mengaku mengira ditemukan oleh agensi model.

Mulanya pasangan Stanley dan Edani mengirimi korban hadiah dan membiayai semua kebutuhan korban, namun kemudian memaksanya untuk "membayar utangnya" dan memprostitusikan diri.

"Edani dan Stanley membujuk para korban dengan janji palsu untuk memanipulasi dan mengeksploitasi mereka demi uang. Mereka sama sekali tidak menghormati para korban dan kesejahteraan mereka, bahkan memaksa mereka bekerja sepanjang hari dengan sedikit keuntungan, bahkan ketika mereka merasa tidak enak badan," kata Detektif Brewster.

"Satu-satunya yang mereka pedulikan adalah berapa banyak uang yang bisa mereka dapatkan."

Bagaimana aturan terkait prostitusi di Inggris?

Berdasarkan hukum Inggris, prostitusi atau menawarkan jasa seksual dengan imbalan uang adalah aktivitas legal.

Akan tetapi, eksploitasi prostitusi — melalui muncikari — ataupun rumah bordil dilarang.

Polisi London berkata "mereka menangani laporan perbudakan modern dengan sangat serius dan berkomitmen menuntut semua pihak yang terkait dengan kejahatan ini."

Mereka juga mengatakan, "mendorong siapa saja yang mengalami kejahatan serupa untuk melapor kepada polisi" dan pengaduan mereka akan "ditangani dengan sensitif" dan "diinvestigasi dengan teliti".

Menurut Kantor PBB Urusan Obat-obatan dan Kejahatan (UNODC), 72% korban perdagangan manusia di dunia adalah perempuan dan remaja putri.

Dalam kasus-kasus yang melibatkan perempuan, 83% terkait eksploitasi seksual, 13% kerja paksa, dan 4% tujuan lain.

Untuk korban laki-laki, proporsinya terbaik, 82% diperdagangkan untuk kerja paksa, 10% eksploitasi seksual, 1% untuk penjualan organ, dan 7% tujuan lain.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polisi Klarifikasi Dugaan Prostitusi Sesama Jenis di Tambora: Bukan Prostitusi, Tapi Suka Sama Suka

Polisi Klarifikasi Dugaan Prostitusi Sesama Jenis di Tambora: Bukan Prostitusi, Tapi Suka Sama Suka

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:28 WIB

Gaji Rp3,5 Juta Jadi Umpan: Perempuan Dijebak Sindikat Prostitusi Online di Cilegon

Gaji Rp3,5 Juta Jadi Umpan: Perempuan Dijebak Sindikat Prostitusi Online di Cilegon

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:50 WIB

Polda Banten Bongkar TPPO Modus Open BO via Aplikasi, Dua Pelaku Ditangkap

Polda Banten Bongkar TPPO Modus Open BO via Aplikasi, Dua Pelaku Ditangkap

News | Senin, 30 Maret 2026 | 14:21 WIB

Teror di London! 4 Ambulans Yahudi Dibakar di Depan Sinagoga, Diduga Aksi Anti Semit

Teror di London! 4 Ambulans Yahudi Dibakar di Depan Sinagoga, Diduga Aksi Anti Semit

News | Senin, 23 Maret 2026 | 16:38 WIB

Viral! Dikabarkan Tewas Sejak 2019, Sosok Ini Sangat Mirip Jeffrey Epstein, Apakah Ia Masih Hidup?

Viral! Dikabarkan Tewas Sejak 2019, Sosok Ini Sangat Mirip Jeffrey Epstein, Apakah Ia Masih Hidup?

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 08:45 WIB

Viral di Media Sosial! Pria Mirip Jeffrey Epstein Terekam Mengendarai Mobil di Florida

Viral di Media Sosial! Pria Mirip Jeffrey Epstein Terekam Mengendarai Mobil di Florida

Entertainment | Minggu, 15 Maret 2026 | 21:00 WIB

Heboh Patung Donald Trump dan Jeffrey Epstein Bergaya Mesra Ala Jack-Rose Titanic di Washington

Heboh Patung Donald Trump dan Jeffrey Epstein Bergaya Mesra Ala Jack-Rose Titanic di Washington

Entertainment | Kamis, 12 Maret 2026 | 09:15 WIB

Waspada! Pasutri di Banten Iming-iming Remaja Kerja Restoran, Malah Diperdagangkan Lewat MiChat

Waspada! Pasutri di Banten Iming-iming Remaja Kerja Restoran, Malah Diperdagangkan Lewat MiChat

News | Jum'at, 06 Maret 2026 | 10:16 WIB

Janji Upah Tinggi Berujung Jerat Perdagangan Orang: Membaca Kasus Dugaan TPPO di Serang

Janji Upah Tinggi Berujung Jerat Perdagangan Orang: Membaca Kasus Dugaan TPPO di Serang

Your Say | Minggu, 01 Maret 2026 | 11:15 WIB

Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Dua Akses Taman Kota Cawang Ditutup Permanen

Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Dua Akses Taman Kota Cawang Ditutup Permanen

News | Jum'at, 27 Februari 2026 | 13:44 WIB

Terkini

Menjangkau Area Terisolir, Tito Pastikan Bantuan Tersalurkan dan Kebutuhan Warga Terpenuhi

Menjangkau Area Terisolir, Tito Pastikan Bantuan Tersalurkan dan Kebutuhan Warga Terpenuhi

News | Sabtu, 04 April 2026 | 21:17 WIB

Lepas Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur, Menlu Sugiono Mengutuk Keras Serangan Terhadap Pasukan UNIFIL

Lepas Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur, Menlu Sugiono Mengutuk Keras Serangan Terhadap Pasukan UNIFIL

News | Sabtu, 04 April 2026 | 20:57 WIB

Tinjau Aceh Tamiang, Tito Karnavian Pastikan Penanganan Pengungsi Dipercepat

Tinjau Aceh Tamiang, Tito Karnavian Pastikan Penanganan Pengungsi Dipercepat

News | Sabtu, 04 April 2026 | 20:34 WIB

SBY Hadiri Upacara Pelepasan 3 Jenazah Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Haru Saat Hampiri Keluarga

SBY Hadiri Upacara Pelepasan 3 Jenazah Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Haru Saat Hampiri Keluarga

News | Sabtu, 04 April 2026 | 20:09 WIB

Prabowo Beri Ucapan Belasungkawa ke Keluarga dan Penghormatan ke 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Prabowo Beri Ucapan Belasungkawa ke Keluarga dan Penghormatan ke 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

News | Sabtu, 04 April 2026 | 19:36 WIB

'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air

'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air

News | Sabtu, 04 April 2026 | 18:55 WIB

Puluhan Siswa di Duren Sawit Diduga Keracunan Makanan, BGN Minta Maaf dan Tanggung Biaya Pengobatan

Puluhan Siswa di Duren Sawit Diduga Keracunan Makanan, BGN Minta Maaf dan Tanggung Biaya Pengobatan

News | Sabtu, 04 April 2026 | 18:02 WIB

Gugur Akibat Serangan Artileri di Lebanon, Jenazah 3 Prajurit TNI Tiba di Bandara Soetta Sore Ini

Gugur Akibat Serangan Artileri di Lebanon, Jenazah 3 Prajurit TNI Tiba di Bandara Soetta Sore Ini

News | Sabtu, 04 April 2026 | 17:43 WIB

Jangan Tergiur Jalur Cepat! Ini Risiko Fatal Berhaji Pakai Visa Ziarah

Jangan Tergiur Jalur Cepat! Ini Risiko Fatal Berhaji Pakai Visa Ziarah

News | Sabtu, 04 April 2026 | 16:15 WIB

Buntut 72 Siswa Diduga Keracunan, BGN Stop Operasional SPPG Pondok Kelapa Tanpa Batas Waktu

Buntut 72 Siswa Diduga Keracunan, BGN Stop Operasional SPPG Pondok Kelapa Tanpa Batas Waktu

News | Sabtu, 04 April 2026 | 16:08 WIB