Ibu Para Tentara Rusia Angkat Bicara: Kami Ingin Perang Segera Berakhir

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 18 Juli 2022 | 11:03 WIB
Ibu Para Tentara Rusia Angkat Bicara: Kami Ingin Perang Segera Berakhir
Patroli tentara Rusia di Mariupol Ukraina. (Foto: AFP)

Suara.com - Pada tanggal 20 Februari, Valya menerima telepon dari putranya, seorang tentara Rusia, yang menceritakan bahwa unitnya "tengah melakukan latihan" di dekat perbatasan Ukraina.

"Ia mengatakan mereka tengah melakukan latihan menembak dan tinggal di tenda," kata Valya. "Itulah terakhir kalinya saya berbicara dengan dia."

Empat hari kemudian, pasukan Rusia menyerbu Ukraina.

Serangan Rusia ini mengangkat berbagai cerita sedih dan penderitaan di Ukraina. Sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan penyerbuan, ribuan warga sipil tewas di Ukraina.

Namun di Rusia, dampaknya juga terasa bagi keluarga para tentara Rusia yang dikerahkan ke medan pertempuran.

Valya bukan nama sebenarnya. Ia takut akan menanggung akibat karena berani angkat bicara. Ibu ini meminta kami menutup identitasnya.

Namun ia ingin berbagi cerita tentang putranya dan apa yang ia kira adalah "operasi militer khusus" Kremlin.

Baca juga:

"Pada awal Maret, seorang sersan menelepon saya dari markas putra saya. Ia mungkin menelepon semua orang tua," katanya.

"Ia mengatakan para tentara baik-baik saja dan mereka menjalin kontak setiap hari. Kami terus menjalin kontak sepanjang Maret dengan sersan itu dan ia tetap mengatakan mereka semua baik-baik saja."

"Kemudian ada orang yang mengeklaim teman anak saya mengirim pesan. Saya tak kenal dia. Dia menemukan saya di media sosial. Ia mengatakan kaki anak saya terkena bom dan dia meninggal. Saya mencoba menelepon dan mengontak para pejabat. Namun tak ada yang bisa mengatakan apa pun."

"Akhirnya sersan yang mengontak saya berbicara dengan saya dan mengatakan putra saya terakhir kali kontak pada 23 Februari."

"Jadi mengapa Anda katakan semua baik-baik saja, untuk menenangkan kami?"

"Maaf, saya hanya sersan," katanya.

Valya mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang anaknya.

"Saya menulis surat ke unit tentara tempat anak saya bertugas."

"Saya menulis ke komandan militer daerah. Saya menulis ke Kementerian Pertahanan. Dan kemudian saya menulis ke mereka semua lagi."

"Tak ada yang memberikan informasi, di mana, kapan dan bagaimana anak saya hilang. Semua diberitahu bahwa dia ikut serta dalam 'operasi militer khusus' dan ia tengah mengikuti misi."

Berapa banyak tentara Rusia yang tewas di Ukraina?

Di Rusia, merupakan kejahatan pidana bila ada yang melaporkan jumlah tentara tewas, di luar angka resmi yang diumumkan pemerintah.

Tetapi angka resmi sulit didapat. Kementerian Pertahanan Rusia tidak pernah memperbarui jumlah tentara yang tewas sejak 25 Maret.

Saat itu, jumlah tentara tewas 1.351. Pada bulan berikutnya, Kremlin mengakui mereka kehilangan tentara dalam jumlah "signifikan" di Ukraina.

Dalam upaya untuk menjustifikasi invasi, pemerintah Rusia dan media resmi berupaya mengecam Ukraina.

Mereka menyebut tentara Ukraina dan para pejabat sebagai "ultra-nasionalis" dan "Nazi". mereka mengeklaim Ukraina adalah agresor dan bahwa Rusia adalah pihak pembebas.

'Tak anggap Ukraina sebagai musuh'

Tetapi Valya tidak menganggap Ukraina sebagai musuh.

"Bila negara kami diserang seperti itu, kami tentu akan membela diri seperti yang mereka lakukan. Kami akan membela diri dan kami juga akan marah," katanya.

Banyak warga Rusia yang percaya apa yang dikatakan oleh pemerintah dan mendukung "operasi militer khusus" seperti yang digambarkan di televisi negara.

Di Rusia, Kremlin menguasai TV dan pesan-pesan yang berputar di kalangan masyarakat.

Namun Valya masih bisa mengontak para ibu tentara di seluruh Rusia. Ia mengeklaim di kalangan para ibu ada kemarahan terhadap pemerintah terkait siapa yang dikirim perang ke Ukraina.

"Mereka benci pemerintah. Mereka benci Putin," kata Valya kepada saya. "Mereka ingin perang ini berakhir. Semua ibu menginginkan perang berakhir."

"Kami adalah kelas masyarakat paling rendah. Kami hanya orang desa. Semua yang berperang berasal dari daerah terpencil di Rusia. Bukan orang Moskow. Tak ada putra para pejabat di sana.

"Bila para ibu berada di sana sekarang dan juga para ibu tentara yang meninggal, mereka semua akan bangkit. Bayangkan betapa besarnya pasukan dengan kami.

"Setop, hentikan semua ini. Hentikan perang dan lindungan anak-anak kami."

Setelah berbicara dengan BBC, Valya mendapatkan pemberitahuan resmi bahwa putranya tewas di Ukraina. Satu lagi tentara Rusia yang tak akan kembali ke negaranya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AS Langgar Gencatan Senjata, Militer Iran Panaskan Mesin Siap untuk Perang Lagi

AS Langgar Gencatan Senjata, Militer Iran Panaskan Mesin Siap untuk Perang Lagi

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:12 WIB

Perang AS-Israel vs Iran Guncang ASEAN, Presiden Filipina Desak Negara Asia Tenggara Bersatu

Perang AS-Israel vs Iran Guncang ASEAN, Presiden Filipina Desak Negara Asia Tenggara Bersatu

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:03 WIB

Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri

Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri

Your Say | Jum'at, 08 Mei 2026 | 12:35 WIB

Wall Street Justru Merosot Meski Adanya Harapan Perang AS-Iran Damai

Wall Street Justru Merosot Meski Adanya Harapan Perang AS-Iran Damai

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:48 WIB

AS Ganggu Gencatan Senjata dengan Iran, Harga Minyak Balik ke Level US$100

AS Ganggu Gencatan Senjata dengan Iran, Harga Minyak Balik ke Level US$100

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:39 WIB

Sesumbar Donald Trump Usai 3 Kapal Perang AS Dibombardir Iran di Selat Hormuz

Sesumbar Donald Trump Usai 3 Kapal Perang AS Dibombardir Iran di Selat Hormuz

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:34 WIB

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:30 WIB

KSSK Klaim Perbankan Nasional Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global

KSSK Klaim Perbankan Nasional Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global

Foto | Kamis, 07 Mei 2026 | 18:57 WIB

Alasan Perang Iran Bikin Harga BBM Tetap Mahal Meski Pasokan Minyak Dunia Melimpah

Alasan Perang Iran Bikin Harga BBM Tetap Mahal Meski Pasokan Minyak Dunia Melimpah

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 16:48 WIB

Donald Trump: Ayolah Iran, Kibarkan Bendera Putih

Donald Trump: Ayolah Iran, Kibarkan Bendera Putih

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:09 WIB

Terkini

PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat

PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 23:15 WIB

Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi

Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:18 WIB

Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?

Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:10 WIB

Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental

Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:09 WIB

Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan

Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:54 WIB

Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati

Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:35 WIB

Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya

Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:58 WIB

Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak

Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:47 WIB

Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita

Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:38 WIB

Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733

Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:30 WIB