Simbiosis Mutualisme Jokowi dan PSI: Siapa Sebenarnya yang Lebih Butuh Siapa?

Senin, 21 Juli 2025 | 20:34 WIB
Simbiosis Mutualisme Jokowi dan PSI: Siapa Sebenarnya yang Lebih Butuh Siapa?
Ketua Dewan Pembina PSI, Jeffrie Geovanie mengungkapkan rahasia lobi agar 'darah Jokowi' bergabung dengan partainya. [Suara.com]

Suara.com - Pengakuan mengejutkan dari pendiri Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jeffrie Geovanie yang membuka tabir strategi politik tingkat tinggi. 

Ia mengungkapkan pernah meminta Grace Natalie 'menangis sekencang-kencangnya' di hadapan Presiden Jokowi.

Lobi emosional ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah kalkulasi dingin demi memastikan kelangsungan hidup partai yang diprediksi tak akan lolos ke Senayan jika tidak 'berdarah Jokowi'.

Pengakuan Jeffrie tersebut seolah menunjukan bahwa ketergantungan PSI pada pesona keluarga Jokowi ini bukan langkah acak.

Pengamat politik dan komunikasi melihatnya sebagai strategi elektoral yang sangat terukur, meski menyisakan sejumlah catatan kritis.

Menurut pengamat politik Agung Baskoro, PSI secara sadar membutuhkan figur Jokowi dan keluarganya untuk mendongkrak peluang lolos ke parlemen.

"PSI butuh figur mereka secara elektoral sehingga peluang lolos ke senayan semakin besar. Dan saat ini figur yang paling kuat elektoralnya adalah Jokowi dan Keluarga Solo," ujar Agung kepada Suara.com, Senin (21/7/2025).

Agung menambahkan, selain popularitas yang tak terbantahkan, keluarga Jokowi juga memiliki keunggulan logistik yang krusial untuk bertarung dalam kontestasi politik nasional.

Namun, ia melihat strategi ini sebagai simbiosis mutualisme yang juga menguntungkan pihak Jokowi.

Baca Juga: Puji 'Intel Kaesang' di PSI yang Pilih Logo Gajah, Prabowo: Kok Bisa Baca Isi Hati Presiden?

"Keluarga pak Jokowi juga membutuhkan kendaraan politik pasca beliau tak lagi menjadi presiden dan keluarganya masih menempati pos-pos kekuasaan."

"Ini perlu terkonsolidasi agar kekuatan politik yang mereka miliki tidak berserakan," ucapnya.

Konsolidasi ini, menurut Agung, vital untuk menjaga pengaruh politik dan melanjutkan legasi kepemimpinan Jokowi.

Dari sudut pandang berbeda, pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai manuver PSI ini sebagai bagian dari strategi komunikasi yang dibangun secara sistematis untuk membentuk citra.

“PSI ingin mengidentifikasi partainya identik dengan Joko Widodo. Posisioning ini sengaja dibenamkan ke benak khalayak agar PSI dapat diterima dan dijadikan idola oleh masyarakat,” terang Jamiluddin.

Ia menjelaskan bahwa PSI berharap 'efek Jokowi' akan menular secara signifikan ke partai.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono, Apa Layak Dilaporkan Polisi?
Ikuti Kuisnya ➔
Cek Prediksi Keuangan Kamu Tahun Depan: Akan Lebih Cemerlang atau Makin Horor?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Kamu di 2026 Siap Glow Up atau Sudah Saatnya Villain Era?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Bagaimana Prediksimu untuk Tahun 2026? Lebih Baik atau Lebih Suram?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Trivia Natal: Uji Pengetahuan Anda Tentang Tradisi Natal di Berbagai Negara
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Kepribadian: Siapa Karakter Ikonik Natal dalam Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mitos vs Fakta Sampah: Cara Cerdas Jadi Pahlawan Kebersihan Lingkungan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI