Sebut Hasto dalam Zikir, Megawati: Masa Urusan Begini Presiden Harus Turun Tangan

Wakos Reza Gautama

Sabtu, 02 Agustus 2025 | 16:24 WIB
Sebut Hasto dalam Zikir, Megawati: Masa Urusan Begini Presiden Harus Turun Tangan
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menyindir KPK yang mengusut kasus Hasto Kristiyanto. [ist]

Suara.com - Di panggung politik yang kian memanas, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri melontarkan salah satu pidato paling personal dan tajam di Kongres ke-6 PDIP di Bali, Sabtu (2/8/2025).

Bukan lagi sekadar manuver politik, putri proklamator ini membawa pertarungan ke ranah spiritual dan nurani, secara terbuka mengungkap bahwa ia menyebut nama Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam zikir malamnya sebagai bentuk permohonan keadilan.

Pidatonya menjadi gugatan keras terhadap kondisi penegakan hukum di Indonesia, dengan kasus yang menjerat Hasto sebagai simbol dari perlakuan tidak adil yang menurutnya terjadi secara lebih luas.

"Setiap malam kalau saya sedang berzikir, saya sebut semua nama-nama termasuk Pak Hasto. Saya minta kepada yang Di Atas, bukan apa-apa bukan, keadilan yang hakiki pada orang-orang yang dibuat dari sisi hukum diperlakukan tidak adil. Banyak saudara-saudara, Pak Hasto itu hanya sebagai contoh soal saja," ujar Megawati dengan nada penuh penekanan.

Pernyataan ini adalah sinyal jelas: bagi Megawati, pertarungan Hasto bukan lagi sekadar urusan hukum biasa, melainkan cerminan dari sebuah krisis keadilan yang lebih besar dan sistemik di republik ini.

Dengan retorika yang membakar, Megawati secara langsung menantang para ahli hukum di Indonesia. Ia mengingatkan mereka pada simbol universal keadilan—Dewi Themis—yang matanya tertutup untuk memastikan imparsialitas, memegang timbangan yang jujur tanpa memihak.

"Oleh sebab itu, hei para ahli hukum, ingatlah kalian dengan dewi keadilan yang selalu dikatakan matanya tertutup dan ada yang namanya tempat itu untuk melihat berat atau tidaknya, tetapi selalu diusahakan supaya yang namanya untuk melihat keadilan itu tegak lurus," serunya.

Gugatan ini diperdalam dengan pertanyaan yang menyentuh sisi kemanusiaan, mengajak para penegak hukum membayangkan jika ketidakadilan menimpa keluarga mereka sendiri. Ini adalah sebuah upaya untuk meruntuhkan tembok formalitas hukum dan menggantinya dengan empati.

"Apakah kalian tidak punya anak-anak, tidak punya saudara? Kalau diperlakukan seperti itu, lalu bagaimana? Di mana kalian akan mencari keadilan yang hakiki? Dengarkan seluruh rakyat Indonesia yang kucintai. Kembalikan keadilan hukum itu di Republik Indonesia ini," pekik Megawati.

baca juga

Soroti KPK

Puncak kekecewaan Megawati tertuju pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagai sosok yang menandatangani lahirnya lembaga anti-rasuah tersebut saat menjabat sebagai presiden, ia tak mampu menyembunyikan kesedihan dan keheranannya melihat kondisi KPK saat ini.

"Loh, saya maaf ya kalau saya lihat KPK sekarang sedihnya bukan main saya. Sayalah yang membuat yang namanya komisi pemberantasan korupsi. Coba toh kalau sekarang modelnya kayak begini lalu bagaimana? Coba saja pikir kan aneh," ungkapnya.

Kritik ini menyiratkan sebuah ironi yang pahit. Lembaga yang didirikannya dengan harapan menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi yang independen dan berintegritas, kini di matanya justru menampilkan wajah yang membingungkan dan menyedihkan.

Ia bahkan menyindir bahwa urusan sepele pun seolah memerlukan intervensi presiden dengan memberikan amnesti kepada Hasto.

"Saya merasa aneh kok. Masa urusan begini aja, Presiden harus turun tangan. Coba pikirkan. Loh, saya kan pernah presiden. Coba jadi saya tahu liku-likunya. Coba kalau kalian itu ya kan lucu ya. Kenapa sih kok KPK itu jadi begitu? Itulah," lanjutnya, meninggalkan pertanyaan retoris yang menggantung di udara.

Keyakinannya pada kemenangan kebenaran ia sandarkan pada falsafah Sansekerta, Satyam Eva Jayate, yang berarti 'hanya kebenaran yang akan menang'. Ini adalah penegasan bahwa di tengah kegelapan hukum yang ia rasakan, ia percaya cahaya keadilan pada akhirnya akan bersinar.

"Coba bayangkan ya. Pikirkan gak? Ayo. Makanya kenapa sih takut? Karena Satyam Eva Jayati ya dan pasti keadilan itu pasti menang," kata Megawati.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bocoran Pengurus DPP PDIP 2025-2030: Megawati Jadi Ketua Umum Sekaligus Sekjen?

Bocoran Pengurus DPP PDIP 2025-2030: Megawati Jadi Ketua Umum Sekaligus Sekjen?

News | Sabtu, 02 Agustus 2025 | 16:13 WIB

Ketika Megawati tak Kuasa Menahan Tangis Melihat Hasto Datang ke Kongres PDIP

Ketika Megawati tak Kuasa Menahan Tangis Melihat Hasto Datang ke Kongres PDIP

News | Sabtu, 02 Agustus 2025 | 16:02 WIB

Dipenjara Era Jokowi, Doktor IPB Ongen: Terima Kasih Amnestinya Pak Prabowo

Dipenjara Era Jokowi, Doktor IPB Ongen: Terima Kasih Amnestinya Pak Prabowo

News | Sabtu, 02 Agustus 2025 | 15:50 WIB

Usai Amnesti Hasto, Megawati Tegaskan PDIP bukan Oposisi

Usai Amnesti Hasto, Megawati Tegaskan PDIP bukan Oposisi

News | Sabtu, 02 Agustus 2025 | 15:39 WIB

Baru Semalam Bebas, Hasto Terpantau Tiba di Bali, Bakal Jadi Sekjen PDIP Lagi?

Baru Semalam Bebas, Hasto Terpantau Tiba di Bali, Bakal Jadi Sekjen PDIP Lagi?

News | Sabtu, 02 Agustus 2025 | 15:30 WIB

Terkini

Guru Les Cabuli 29 Murid, Mengapa Kekerasan Seksual Anak Kerap Dilakukan Orang Terdekat?

Guru Les Cabuli 29 Murid, Mengapa Kekerasan Seksual Anak Kerap Dilakukan Orang Terdekat?

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:57 WIB

Grab Perkuat Teknologi Keselamatan Transportasi Online, AI hingga AudioProtect Plus

Grab Perkuat Teknologi Keselamatan Transportasi Online, AI hingga AudioProtect Plus

Tekno | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:34 WIB

Abdul Wahid Ajukan Banding, Merasa Kasusnya Direkayasa: Saya Cari Keadilan

Abdul Wahid Ajukan Banding, Merasa Kasusnya Direkayasa: Saya Cari Keadilan

Riau | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:33 WIB

Istana Tanggapi Putusan MK soal Anggaran MBG Harus Dipisah dari Pendidikan

Istana Tanggapi Putusan MK soal Anggaran MBG Harus Dipisah dari Pendidikan

Video | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:30 WIB

Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?

Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:30 WIB

Rugi Rp25,2 Miliar! Diana Pungky Polisikan Mantan Asisten Terkait Penggelapan dan TPPU

Rugi Rp25,2 Miliar! Diana Pungky Polisikan Mantan Asisten Terkait Penggelapan dan TPPU

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:22 WIB

Ditantang karena Belum Periksa Raja Juli, KPK: Bukan Masalah Berani atau Tidak

Ditantang karena Belum Periksa Raja Juli, KPK: Bukan Masalah Berani atau Tidak

Riau | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:14 WIB

Whooz Bikin UMKM Tak Perlu Lagi Investasi Server dan Jaringan

Whooz Bikin UMKM Tak Perlu Lagi Investasi Server dan Jaringan

Tekno | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:11 WIB

Piala Presiden 2026: Persija Bisa Tersingkir Meski Bantai PSMS Medan

Piala Presiden 2026: Persija Bisa Tersingkir Meski Bantai PSMS Medan

Bola | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:08 WIB

Fahri Hamzah Usul Peradilan Etik, Pejabat Bisa Langsung Dipecat Sebelum Terjerat Korupsi

Fahri Hamzah Usul Peradilan Etik, Pejabat Bisa Langsung Dipecat Sebelum Terjerat Korupsi

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:05 WIB

×