Ketidakjelasan dan banyaknya spekulasi semacam ini justru semakin memperkeruh situasi dan membuat masyarakat sulit memilah informasi. "Lebih banyak berita-berita bumbu konspirasi daripada fakta yang lebih masuk akal untuk itu."
Pada akhirnya, Guru Gembul menyuarakan kepedihan mendalam atas nasib rakyat yang lagi-lagi menjadi korban. Setelah suaranya dimanfaatkan, diinjak-injak, kini bahkan aksi protesnya pun ditunggangi oleh pihak tak dikenal. Ini adalah cerminan dari frustrasi kolektif terhadap elit politik dan kekuatan tersembunyi yang terus-menerus memanipulasi penderitaan rakyat.
"Udah mah kita tuh diinjek-injek. Terus pas kita demo pun ditunggangi lagi, ditunggangi sama pihak yang kita enggak tahu siapa gitu. Makanya kesal banget ini," ujar dia.
Kekhawatiran terbesar Guru Gembul adalah potensi kerusuhan besar ini akan mengarah pada "reformasi jilid dua," namun bukan untuk kepentingan rakyat. Sebaliknya, ia khawatir ini akan dimanfaatkan lagi-lagi demi "kelompok tertentu."
Ini adalah peringatan keras bahwa sejarah bisa terulang, di mana momentum perubahan justru dibelokkan untuk agenda sempit segelintir elite, bukan untuk kebaikan bersama.