- Kolong Tol Wiyoto Wiyono di Jakarta Utara menumpuk sampah akibat kebiasaan warga membuang sampah selama puluhan tahun dan armada pengangkut yang terbatas.
- Penutupan sementara TPS Danau Cincin membuat sampah dari beberapa kelurahan dialihkan ke kolong tol, sehingga tumpukan semakin tinggi menyerupai gunung.
- Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup dapat menertibkan lokasi agar kolong tol tidak kembali digunakan sebagai tempat pembuangan liar setelah sampah diangkut.
Suara.com - Kolong Tol Wiyoto Wiyono di Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, selama berbulan-bulan menjadi pemandangan tak sedap bagi warga. Area yang sejatinya bukan tempat pembuangan sementara (TPS) itu berubah menjadi “gunung sampah” layaknya TPS dadakan.
Trisno (58), warga sekitar yang juga menjadi relawan penanganan sampah, menceritakan bahwa kebiasaan warga membuang sampah di bawah tol sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan puluhan tahun. Namun, awalnya warga setempat membuang sampah di luar tembok pembatas kolong tol.
Warga pun mengeluhkan adanya tumpukan sampah di pinggir jalan karena merusak pemandangan dan mengeluarkan bau tak sedap. Bahkan, sudah dituliskan di tembok larangan untuk membuang sampah di pinggir jalan.
Lambat laun, kebiasaan warga berlanjut dengan melempar tumpukan sampah ke dalam tembok kolong tol. Kondisi menumpuk parah baru terjadi sejak setahun ini.
“Sebenarnya ini bukan TPS. Karena istilahnya ini sampah masyarakat. Sampah di sini sudah bertahun-tahun, mungkin ada dua puluh tahun. Awalnya dari depan, lalu pindah ke dalam,” kata Trisno saat ditemui Suara.com di lokasi, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, lokasi itu awalnya hanya dijadikan tempat transit sampah sebelum diangkut ke tempat pembuangan resmi. Namun, karena keterbatasan armada pengangkut, tumpukan makin tinggi hingga menyerupai gunung.
“Kalau menumpuk sebenarnya udah lama, udah satu tahun kali lah. Karena kendalanya ya begitu, dari armadanya. Kadang-kadang mobil ada yang rusak, terus di tempat pembuangannya kadang-kadang macet. Mereka dari pagi sampai pagi lagi kadang baru selesai,” jelasnya.
Trisno menyebut, sejak dulu di kawasan tersebut ada tujuh armada yang bertugas mengangkut sampah setiap hari. Namun, belakangan satu mobil tak lagi beroperasi, sehingga pengangkutan tidak lagi optimal.
“Dulu itu sampah selalu habis. Sebenarnya di sini jatah mobil tujuh buat ngangkut sampah, tapi karena satu libur jadi enam lah yang jalan tiap hari. Kalau enam mobil itu jalan semua, tuntas, enggak ada sampah yang menumpuk,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi makin memburuk setelah TPS Danau Cincin di Papanggo ditutup sementara untuk perbaikan jalan. Akibatnya, seluruh sampah dari empat kelurahan dialihkan ke bawah kolong tol tersebut.
“Menumpuknya ini karena awalnya tempat buang sampah di Danau Cincin itu ditutup sementara. Akhirnya dialihkan buang ke sini semua. Nah dari situ armadanya jadi tersendat, makanya sampah di sini numpuk,” tutur Trisno.
Trisno menjelaskan, sampah yang dibuang di lokasi berasal dari wilayah Sunter Jaya, Sungai Bambu, Kebon Bawang, Warakas, dan Papanggo. Bahkan ada juga yang datang dari kegiatan di luar kecamatan.
Kondisi itu membuat area di bawah tol berubah fungsi layaknya TPS. Namun, statusnya yang tidak resmi membuat pengangkutan sering kali tersendat, karena tidak masuk dalam rute utama Dinas Lingkungan Hidup.
“Ini kan sebenarnya area tol, bukan untuk pembuangan. Tapi karena udah lama dijadikan tempat buang, ya akhirnya jadi kebiasaan. Pemerintah juga enggak bisa langsung bersihin karena butuh armada tambahan,” ungkapnya.
Trisno berharap setelah sampah yang menumpuk itu selesai diangkut oleh Dinas LH, pemerintah dapat menertibkan lokasi agar tidak kembali digunakan warga sebagai tempat buang sampah liar.