Tangis Ira Puspadewi Kenang Gelapnya Kamar Penjara: Dihindari Teman, Cuma Bisa Ngobrol Sama Tuhan

Bangun Santoso Suara.Com
Minggu, 30 November 2025 | 21:15 WIB
Tangis Ira Puspadewi Kenang Gelapnya Kamar Penjara: Dihindari Teman, Cuma Bisa Ngobrol Sama Tuhan
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) periode 2017–2024 Ira Puspadewi (depan) bersama Direktur Komersial dan Pelayanan PT ASDP periode 2019–2024 Muhammad Yusuf Hadi (kedua kiri), serta Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT ASDP periode 2020–2024 Harry Muhammad Adhi Caksono (kedua kanan) setelah bebas dari Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat (28/11/2025). (ANTARA/Rio Feisal)
Baca 10 detik
  • Mantan Dirut PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi, bebas setelah 10 bulan di Rutan KPK dan mensyukuri hal sederhana.
  • Ira mengalami kesulitan saat kerabat menghindar; titik terendah adalah isolasi gelap sebelum mendapat bantuan dari anak buah.
  • Presiden RI Prabowo Subianto memberikan rehabilitasi kepada Ira dan dua terdakwa lain pada Selasa (25/11/2025).

Suara.com - Tangis Ira Puspadewi tak terbendung saat mengenang kembali hampir 10 bulan hidupnya yang penuh perjuangan di Rumah Tahanan (Rutan) Merah Putih KPK. Mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry ini mengaku baru menyadari betapa banyak hal sederhana yang luput ia syukuri setelah menghirup udara bebas.

“Ternyata kita selama ini, saya kurang bersyukur. Apa yang kita anggap biasa hari ini, syukurilah,” ujar Ira dengan suara bergetar di tengah acara syukuran di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (29/11/2025).

Baginya, melewati malam-malam di balik jeruji adalah sebuah ujian yang luar biasa berat.

“Karena kalau di dalam (penjara) kita melewatkan malam-malam at the darkest night, itu berat," katanya.

Dihindari Kerabat, Ditolong Anak Buah

Salah satu kenangan paling getir bagi Ira adalah saat ia merasa dijauhi oleh orang-orang terdekatnya. Ketika terpuruk dalam pusaran kasus, banyak kerabat dan teman yang seolah menjaga jarak, bahkan untuk sekadar menjawab panggilannya.

“Di saat kami dalam perkara seperti itu, banyak orang menghindar untuk bahkan kami kontak. Wajar, karena takut. Tapi kata orang, justru teman itu ada ketika kita dalam keadaan yang terpuruk,” kata Ira.

Kini, hal-hal yang dulu dianggap biasa terasa begitu indah. Ia mengenang sebuah momen saat melewati Lapangan Banteng dan mendengar musik senam yang riuh.

“Biasanya saya terganggu banget musik begitu, tapi hari ini saya merasa musik seperti itu indah sekali,” ucapnya sembari kembali menahan air mata.

Baca Juga: KPK Akui Lakukan Eksekusi Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi Sesaat Sebelum Dibebaskan

Titik Terendah di Kamar Isolasi Gelap

Momen paling berat yang membekas dalam ingatan Ira adalah ketika ia harus mendekam sendirian di kamar isolasi. Ruangan sempit dan gelap itu menjadi saksi bisu titik terendahnya.

“Kalau dalam kamar isolasi gelap, kurang lebih ukuran 3x4 meter, sendirian selama tiga hari enggak ada teman. Mau ke mana lagi? Cuma ngobrolnya sama Tuhan,” kenang Ira.

Di tengah kesendirian dan kegelapan itu, ia sempat merasa ditinggalkan oleh Sang Pencipta. Namun, sebuah titik balik spiritual datang saat ia merenungi makna Surat Ad-Dhuha.

“Jadi literally (setelah membaca Surat Ad-Dhuha), saya bilang, oh iya, saya durhaka sama Tuhan, kok merasa ditinggalkan Tuhan. Baru dari situ saya ada turning point, antara harapan dengan hopelessness,” tuturnya.

Setelah bebas, cobaan belum berakhir. Seluruh rekening bank miliknya, suami, hingga anaknya masih diblokir oleh pihak berwenang.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI