- Militer AS mengonfirmasi pembunuhan pejabat Iran terkait rencana serangan terhadap Presiden Donald Trump pada Selasa (3/3/2026).
- Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan bahwa target utama operasi militer bukan pembalasan isu pembunuhan tersebut.
- Operasi tersebut bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Iran, meski Iran membantah tuduhan rencana menargetkan Trump.
Suara.com - Militer Amerika Serikat menyatakan telah menewaskan seorang pejabat Iran yang memimpin unit di balik dugaan rencana pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, pejabat tersebut ditegaskan bukan target utama dalam perang yang tengah berlangsung melawan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konferensi pers pada Rabu (4/3/2026).
“Pemimpin unit yang mencoba membunuh Presiden Trump telah diburu dan dibunuh. Iran mencoba membunuh Presiden Trump, dan Presiden Trump yang tertawa terakhir,” ujar Hegseth.
Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran tidak difokuskan pada upaya balasan pribadi atas dugaan rencana pembunuhan tersebut.
“Itu sama sekali bukan fokus operasi ini. Bahkan tidak pernah diangkat oleh Presiden atau siapa pun. Namun saya memastikan, dan pihak lain juga memastikan, bahwa mereka yang bertanggung jawab pada akhirnya masuk dalam daftar target,” katanya kepada wartawan.
Hegseth tidak menyebutkan identitas pejabat Iran yang tewas tersebut, namun memastikan operasi berlangsung pada Selasa.
Kasus ini merujuk pada dakwaan yang diajukan US Department of Justice pada 2024 terhadap seorang pria Iran. Ia diduga terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap Donald Trump.
Menurut otoritas AS, rencana tersebut disebut-sebut diperintahkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Namun pemerintah Iran secara konsisten membantah tudingan bahwa mereka menargetkan Trump maupun pejabat Amerika Serikat lainnya.
Pengakuan terbaru militer AS ini muncul di tengah eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Washington menyebut operasi militernya bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Iran, termasuk sistem rudal dan jaringan komando, bukan untuk menggulingkan pemerintahan Teheran.
Namun, serangkaian pernyataan pejabat tinggi AS, termasuk Presiden Trump, menunjukkan bahwa konflik tersebut kini juga bersinggungan dengan isu keamanan pribadi para pemimpin Amerika.
Baca Juga: Menlu Sugiono Kirim Surat Belasungkawa Wafatnya Ali Khamenei ke Dubes Iran, Ini Alasannya