- Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pertama, diikuti penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran.
- Israel mengancam akan memburu pemimpin baru Iran, sementara AS menargetkan perubahan rezim sebagai tujuan utama operasi.
- Operasi militer ini didukung jaringan pangkalan AS di Teluk, dengan motif ekonomi penguasaan cadangan minyak dunia.
Suara.com - Tensi di Timur Tengah bukannya mereda, malah semakin membara setelah gelombang serangan pertama yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Kabar terbaru menyebutkan adanya pergantian kepemimpinan tertinggi di Iran yang langsung disambut dengan ancaman pembunuhan dari pihak Israel.
Perang ini bukan lagi sekadar gertakan, melainkan operasi militer terencana yang melibatkan jaringan pangkalan militer raksasa di berbagai negara tetangga Iran.
Operasi yang disebut sebagai “Operation Epic Fury” ini menunjukkan betapa masifnya kesiapan militer Amerika di kawasan Teluk untuk menekan Teheran.
Dengan dukungan pangkalan udara, pelabuhan logistik, hingga markas armada laut, Washington tampaknya sudah menyiapkan skenario panjang yang melibatkan aset-aset strategis mereka di wilayah tersebut.
Ancaman Israel ke Pimpinan Baru Iran
Setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam gelombang serangan pertama, Iran dengan cepat menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari sang mendiang, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Namun, penunjukan ini langsung direspons keras oleh militer Israel (IDF).
Melalui pernyataan resmi, IDF menegaskan bahwa mereka akan terus mengejar setiap penerus dan siapa pun yang terlibat dalam pengangkatan pemimpin baru tersebut.
Israel secara terang-terangan mengancam tidak akan ragu untuk mengincar para ulama yang menghadiri pertemuan Majelis Ahli di Iran.
Baca Juga: Beda Syarat DPR di Iran dan Indonesia, Viral Jadi Perbincangan Netizen
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump bahkan menyebut bahwa perubahan rezim adalah salah satu tujuan utama perang ini.
Trump memberikan peringatan keras bahwa pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama kecuali mereka mau tunduk pada tuntutan AS dan menyerah tanpa syarat.
Daftar Lengkap Lokasi Pangkalan Amerika Serikat di Timteng
Agresi militer ini sangat bergantung pada jaringan pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara monarki Teluk sebagai titik tumpu serangan.
Menurut data dari Al Jazeera, Naval Support Activity (NSA) Bahrain menjadi markas utama Armada Kelima AS yang mengoordinasikan kapal induk hingga kapal selam di Teluk Persia. Selain itu, terdapat Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang merupakan fasilitas udara terbesar dengan kapasitas lebih dari 1.000 sorti penerbangan setiap harinya.
Di Kuwait, kekuatan AS tersebar di Camp Arifjan, Camp Buehring, dan Pangkalan Udara Ali Al Salem yang berfungsi sebagai pusat logistik dan pangkalan jet tempur F-16. Sementara di Uni Emirat Arab, AS memanfaatkan Pangkalan Udara Al Dhafra dan Pelabuhan Jebel Ali, salah satu pelabuhan buatan terbesar yang mampu melayani perbaikan kapal perang besar.