- TAUD mendesak polisi melacak sinyal di lokasi penyiraman air keras Andrie Yunus untuk mengidentifikasi pelaku.
- Pelacakan sinyal menggunakan teknologi *Cell Tower Dump* berpotensi mengungkap pengintai sebelum kejadian percobaan pembunuhan.
- TAUD meminta polisi mengungkap aktor intelektual dan pendana, bukan hanya pelaku lapangan, agar kasus tuntas.
Suara.com - Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) meminta agar pihak kepolisian melacak sinyal di lokasi penyiraman air keras Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Hal ini perlu dilakukan agar bisa mengungkap pelaku dengan mudah.
Perwakilan TAUD, Alghiffari Aqsa mengatakan, pelacakan sinyal dinilai bisa mendeteksi siapa saja yang berada di sekitar lokasi saat peristiwa itu terjadi.
Alghiffari mengatakan, pihak kepolisian pernah disarankan untuk melakukan hal serupa saat penyiraman air keras menimpa Novel Baswedan.
Namun, sampai saat ini belum diketahui apakah penyidik Polda Metro Jaya sudah melakukan hal tersebut.
"Di 2017 kami juga mendapatkan informasi bahwa ada teknologi Cell Tower Dump. Cell Tower Dump itu teknologinya mereka bisa menjaring ataupun bisa mendapatkan informasi siapa saja yang berada di satu titik tertentu ataupun wilayah tertentu dan pada waktu tertentu," kata Alghiffari di Kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).
Dengan metode ini, pihak kepolisian juga bisa mengetahui apakah sebelum peristiwa penyiraman terjadi, Andrie telah diintai terlebih dahulu.
Sehingga, perluasan penyidikan untuk membuktikan kasus ini adalah percobaan pembunuhan berencana bisa semakin didalami.
"Misalnya jika ada orang yang berjaga-jaga ataupun mengawasi saudara Andrie di sekitar LBH pada sekitar jam 11 malam, maka nomor tersebut bisa diidentifikasi oleh pihak kepolisian," ucap Alghiffari.
Dia pun optimis dalam waktu beberapa hari ke depan, kurang dari tujuh hari, pihak kepolisian dapat menemukan teduga pelaku jika melakukan pelacakan sinyal itu.
Baca Juga: Lacak Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Polisi Bedah 86 CCTV dan 10 Ribu Menit Rekaman
Namun, Alghiffari meminta agar kepolisian tidak berhenti hanya pada pelaku di lapangan saja.
"Dan tentunya PR-nya lagi adalah siapa aktor intelektualnya?" kata Alghiffari.
Alghiffari juga mendesak agar kepolisian tidak main-main dalam mengungkap kasus ini. Ia menegaskan, kasus penyiraman air keras Novel Baswedan yang baru menemui titik terang setelah tiga tahun, tidak boleh terulang lagi.
Polisi perlu mengungkap aktor intelektual dan pendana dalam kasus ini agar publik mengetahui secara utuh. Sebab, dari temuan pola yang terjadi di lapangan, penyiraman tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat sipil.
"Dan kami menduga pelakunya sangat-sangat sulit kita membayangkan dengan level terorganisir yang sedemikian rupa ini dilakukan oleh sipil. Jadi kami menduga ada aktor intelektual, juga ada pendananya," tandas Alghiffari.
Diketahui bersama, Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras oleh OTK.