- IDAI sebut peran keluarga kunci efektivitas pembatasan usia media sosial anak.
- Pendampingan orang tua tetap utama meski akses media sosial anak dibatasi.
- Keberhasilan aturan pelindungan anak digital bergantung pada kolaborasi orang tua.
Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial bagi anak tidak akan berjalan efektif tanpa keterlibatan aktif keluarga. Pernyataan ini merespons implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Pelindungan Anak di ruang digital.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Fitri Hartanto, menekankan bahwa peran orang tua dalam mendampingi anak tetap krusial meskipun akses telah dibatasi secara sistemik.
“Pembatasan usia memang penting, namun pendampingan orang tua tetap menjadi hal yang utama. Aturan ini bukan pengganti peran orang tua, melainkan fondasi yang mendukung mereka dalam menjalankan pengasuhan dengan lebih baik,” ujar Fitri dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).
Fitri berpendapat bahwa kebijakan pembatasan akses hanyalah satu bagian dari upaya perlindungan menyeluruh, bukan solusi tunggal atas dampak negatif dunia digital. Menurutnya, fokus utama perlindungan adalah menjaga masa depan anak dengan memastikan mereka memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas fisik, berinteraksi secara nyata, serta membangun ketangguhan diri (resilience).
IDAI menyoroti tantangan di lapangan, di mana tingkat literasi digital dan kualitas pendampingan orang tua sangat bervariasi. Hal ini menjadi hambatan nyata dalam efektivitas kebijakan tersebut.
Fitri menegaskan bahwa kualitas relasi antara orang tua dan anak adalah kunci utama agar anak tidak menjadikan media sosial sebagai ruang pelarian.
“Anak-anak membutuhkan figur untuk bercerita, dan peran ideal tersebut ada pada orang tua. Pola pengasuhan harus diperbaiki agar orang tua dapat memosisikan diri sebagai sahabat bagi anak mereka,” tambahnya.
Selain itu, ia menyarankan agar setelah pembatasan diterapkan, orang tua menyediakan berbagai alternatif kegiatan yang positif, seperti olahraga atau interaksi sosial langsung. IDAI menegaskan bahwa keberhasilan pelindungan anak di ruang digital sangat bergantung pada kolaborasi erat antara pemerintah, penyedia layanan, dan lingkungan keluarga.