- Konflik di Timur Tengah menyebabkan gangguan pasokan bahan baku plastik impor, sehingga memicu kenaikan harga signifikan di Indonesia.
- Pelaku usaha warung kelontong terdampak lonjakan biaya modal karena harga plastik kemasan meningkat tajam setelah Lebaran.
- Pemilik warung menyiasati kenaikan harga dengan melakukan efisiensi penggunaan plastik serta berbelanja dalam jumlah besar guna menekan pengeluaran.
“Ya gimana ya, harapannya ya supaya bisa turun lagi aja. Asalnya kan dampaknya mau ngejual yang lainnya kan nggak bisa naik. Ini misalnya Rp 3 ribu (barang dagangan), kita naikin Rp 3 setengah kan nggak mungkin,” ungkapnya.
Endang pun megungkapkan bahwa plastik adalah biaya modal yang seringkali dianggap remeh oleh orang awam.
![Pedagang melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (3/7). [Suara.com/Arief Hermawan P]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/07/03/56690-kantong-plastik.jpg)
“Padahal pakai plastik itu juga modal ya, tapi kadang kayak cuma-cuma gitu kan. Padahal modalnya gede juga ya Mbak,” ucapnya.
Untuk mensiasati pengeluaran, Sony memilih berbelanja dalam jumlah besar guna mendapatkan selisih harga grosir yang lebih murah dibanding eceran.
“Kalau plastik itu jutaan saya itu kalau sekali belanja buat bungkus-bungkus tuh, tapi nanti ya bisa buat sebulan. Soalnya kalau beli ngecer itu harganya sudah beda lagi. Ada perbedaan aja,” ujarnya.
Penjelasan Menteri
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, menjadi penyebab utama tersendatnya pasokan. Ia menyebut kawasan tersebut merupakan tumpuan bagi mayoritas kebutuhan bahan baku nasional.
"Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphta. Naphta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta, yang dikutip pada Senin (6/4/2026).
Reporter: Tsabita Aulia