- Reza Pahlavi menyerukan rakyat Iran melakukan kudeta untuk menggulingkan pemerintah yang dianggap semakin terisolasi pada Kamis, 9 April.
- Pahlavi menegaskan perubahan harus dilakukan oleh persatuan rakyat dari dalam negeri tanpa mengandalkan intervensi pihak asing.
- Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan negosiasi dengan Amerika Serikat terancam akibat pelanggaran kesepakatan oleh pihak Barat.
Suara.com - Putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi menyerukan provokasi terhadap rakyat Iran untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah saat ini.
Dalam pesannya, Pahlavi mengakui adanya rasa frustrasi terhadap peran Amerika Serikat dan Israel. Namun, ia menegaskan bahwa situasi ini bukan alasan untuk menyerah.
“Amerika Serikat dan Israel telah mengecewakan banyak dari kalian. Namun ini bukan waktu untuk putus asa, ini adalah waktu untuk keyakinan yang lebih besar akan kemenangan,” ujarnya dilansir dari Channel 14, Kamis (9/4).
Pahlavi menilai kondisi pemerintah Iran saat ini semakin terisolasi di tingkat regional maupun global.
Pavlavi menyebut tekanan yang terjadi selama konflik terakhir sebagai pencapaian belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pemerintah.
Menurutnya, momentum saat ini harus dimanfaatkan rakyat untuk bersatu.
![Mohammad Reza Pahlavi. [Dok Wikipedia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/14/79739-mohammad-reza-pahlavi.jpg)
Pahlavi meminta masyarakat menunggu momen penentu sebelum melancarkan langkah besar untuk melakukan kudeta dari dalam.
“Kita perlu memberikan pukulan terakhir kepada rezim yang melemah dan mengakhiri kekuasaannya,” tegas Pahlavi.
Pahlavi juga menekankan bahwa perubahan hanya bisa datang dari dalam negeri, bukan dari intervensi asing.
Dalam pandangannya, kekuatan rakyat Iran menjadi faktor utama yang akan menentukan arah masa depan negara.
“Percayalah, tidak ada kekuatan di dunia yang mampu melawan Iran yang bersatu. Rezim ini tidak memiliki jalan keluar dan tidak akan bertahan kali ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa proses negosiasi dengan AS kini berada dalam ancaman serius.
Ghalibaf menilai pelanggaran terhadap poin-poin utama kesepakatan telah merusak fondasi dialog sejak awal.
“Dalam kondisi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal,” tegas Ghalibaf dalam pernyataan resminya.
Menurut Teheran, terdapat tiga pelanggaran utama yang dilakukan pihak Barat dan Israel.
Salah satunya adalah tidak diterapkannya gencatan senjata di semua front, termasuk di Lebanon yang masih menjadi lokasi serangan Israel terhadap Hizbullah.
Iran juga menyoroti dugaan pelanggaran kedaulatan wilayah udara.
Militer Iran mengklaim telah menembak jatuh pesawat tanpa awak yang memasuki wilayahnya, yang dinilai bertentangan dengan kesepakatan untuk menghentikan provokasi militer.
Selain itu, pernyataan negara-negara Barat yang menolak hak Iran untuk memperkaya uranium turut memicu kemarahan.
Teheran menegaskan bahwa hak tersebut merupakan bagian dari kesepakatan awal yang tidak bisa dinegosiasikan ulang.