-
Warga Teheran mengalami trauma psikologis hebat dan kelangkaan obat penenang pasca serangan udara.
-
Gencatan senjata dua minggu memberikan ketenangan sementara di tengah ketidakpastian masa depan Iran.
-
Kelompok disabilitas menjadi pihak paling menderita akibat kehilangan donasi dan trauma suara ledakan.
Kenangan pahit tentang represi pemerintah terhadap protes massa di bulan Januari masih membekas kuat di ingatan warga sipil.
Penghancuran gedung pengadilan yang sering digunakan untuk mengadili aktivis memberikan kepuasan emosional tersendiri bagi para korban penindasan.
"Aku pikir mereka harus menghentikan (pemboman) karena begitu banyak orang sekarat. Kami tidak ingin mereka menghancurkan lebih banyak tempat. Tapi kemudian mereka mengebom gedung pengadilan tempat mereka menangkapku. Itu adalah tempat di mana mereka memberi tahu ibuku, 'kami ingin mengeksekusi putrimu'," kenang Leila saat mendengar kabar ledakan tersebut.
Keputusan Presiden Trump untuk menerapkan gencatan senjata selama dua minggu memberikan ruang napas sementara bagi warga kota.
Suasana Teheran sedikit melunak dengan kembalinya aktivitas warga di ruang publik meskipun kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.
"Aku melihat langit dengan cara yang berbeda, dan aku hanya melihat orang-orang, dan mereka tertawa serta berjalan satu sama lain. Bagiku, tawa ini berarti, 'aku masih hidup' dan 'aku masih di sini'," tutur Leila melihat perubahan suasana kota.
Namun, kepanikan massal masih terlihat jelas di pusat perbelanjaan melalui aksi pembelian bahan pokok secara berlebihan oleh warga.
Masyarakat berbondong-bondong menimbun beras sebagai antisipasi jika perang kembali pecah setelah masa gencatan senjata berakhir.
"Sebagian besar orang benar-benar khawatir tentang masa depan. Jika kamu ingin buktinya, pergilah ke mal besar, hipermarket, toko-toko di kota. Orang-orang berbelanja barang-barang penting, seperti beras. Tidak ada yang lebih penting bagi sebuah keluarga daripada beras, dan mereka melakukannya karena mereka pikir itu akan terjadi lagi," jelas Leila mengenai kecemasan publik.
Nasib Kelompok Rentan yang Terabaikan
Kondisi ekonomi yang memburuk akibat konflik berkepanjangan telah memutus jalur bantuan bagi fasilitas sosial di wilayah selatan Teheran.
Pusat rehabilitasi untuk penyandang disabilitas kini berjuang sendirian tanpa dukungan dana dari masyarakat yang mulai mengungsi.
Ledakan keras dari zona industri terdekat menyebabkan trauma fisik dan mental yang luar biasa bagi anak-anak di panti asuhan.
"Mereka tidak memiliki perasaan tentang perang, tetapi karena suara-suara, ledakan-ledakan, mereka tidak bisa mengendalikan diri. Mereka tidak bisa buang air kecil. Mereka hanya berteriak, mereka bersembunyi, (dan) mereka telah melukai diri mereka sendiri," kata Leila menceritakan kondisi warga yang terlupakan.
Korupsi sistemik dan krisis keuangan pemerintah memperparah penderitaan kelompok rentan yang kini kehilangan donatur tetap mereka.