- Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta menerapkan sistem daur ulang air wudhu untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
- Kampus-kampus Muhammadiyah tersebut melakukan efisiensi energi melalui penggunaan perangkat hemat listrik dan rencana instalasi panel surya.
- Inisiatif ini bertujuan menekan emisi, menghemat biaya operasional, serta mengubah kebiasaan civitas akademika dalam melestarikan lingkungan sekitar.
Suara.com - Air mengucur pelan dari kran di tempat wudhu Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Kamis (9/4/2026). Satu per satu mahasiswa mengulurkan tangan mereka, membasuh telapak, wajah hingga kaki.
Ritual ini dilakukan berulang sebanyak lima kali sehari. Bagi sebagian dari mereka, setidaknya dua waktu salat diantaranya dilakukan di masjid kampus tempat mereka menimba ilmu itu, di sela aktivitas perkuliahan yang padat.
Di banyak tempat, air wudhu memang berakhir di saluran pembuangan tanpa jejak. Namun di masjid ini, alirannya tidak berhenti di sana. Bekas air wudhu ditampung, disaring lalu kembali dipakai. Sebuah praktik yang dikenal sebagai daur ulang air wudhu.
Di balik praktik tersebut, ada misi besar untuk keberlanjutan lingkungan yang ingin dicapai, yakni menghemat air, menekan penggunaan energi dan pada akhirnya ikut menjaga bumi dari beban emisi yang kian meningkat.
Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Evi Afiatun dkk dalam Journal of Community Based Environmental Engineering and Management vol. 6 tahun 2022 berjudul 'Study of Potential Utilization opf Recycling Ablution Used Water, Case Study at Ulul Albaab Mosque, Universitas Pasundan, Bandung, Indonesia', penggunaan air untuk aktivitas ibadah sangatlah besar. Dalam satu waktu salat, seseorang bisa menghabiskan 3,9 liter air untuk berwudhu dengan durasi waktu wudhu rata-rata 64 detik. Jika dikalikan lima kali salat, maka air yang dihabiskan mencapai 19,5 liter air per orang setiap harinya.
Terlebih, wilayah Yogyakarta dibayang-bayangi oleh krisis air bersih selama beberapa tahun terakhir. Riset Amarta Institute dan Tifa Foundation menunjukkan, 51 persen kebutuhan air di Yogyakarta berasal dari air tanah, sebagian besar digunakan untuk aktivitas pariwisata.
Bahkan, data Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) DIY tahun 2015 mencatat 86 persen air yang digunakan bersumber dari air tanah, sementara 13 persen diambil dari air permukaan. Oleh karena itu, upaya penghematan air perlu dilakukan, salah satunya melalui daur ulang air wudhu yang dapat dilakukan di masjid-masjid seluruh Indonesia.
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan mengatakan, upaya tersebut telah dilakukan di masjid-masjid komunitas maupun di institusi pendidikan jaringan Muhammadiyah.
Muhammadiyah memiliki misi membantu mengurangi emisi dengan gerakan-gerakan nyata yang memiliki dampak luas dan berkelanjutan. Nilai-nilai itu berakar dari ajaran dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang peran manusia sebagai khalifah di bumi dan tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
"Misalnya Al-Baqarah ayat 20,tentang kerusakan bumi, tentang manusia sebagai khalifah, tentang bersikap adil. Nah dari situ kita transformasi dalam bentuk aksi, salah satunya pengolahan air, dari air wudhu menjadi air yang digunakan ulang," ujar Hening.

Memanen Hujan hingga Efisiensi Energi di UAD
Komitmen terhadap lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan UAD. Gagasan menghadirkan ruang belajar yang ramah lingkungan dan hemat energi berangkat dari pemaknaan ajaran dalam Al-Qur’an bahwa manusia bukan sekadar pengguna alam, melainkan juga penjaga yang bertanggung jawab merawat keberlanjutannya.
Wakil Rektor Bidang Keuangan, Kehartabendaan, dan Administrasi Umum UAD, Dr. Utik Bidayati, S.E., M.M. mengatakan, komitmen efisien energi sudah ditanamkan sejak tahap awal pembangunan kampus. Desain bangunan dirancang agar efisien energi, dengan memaksimalkan masuknya cahaya alami dan memastikan sirkulasi udara tetap lancar. Pendekatan ini membuat kebutuhan lampu untuk penerangan dan pendingin ruangan dapat ditekan sejak awal.
“Kita tidak cuma ikut-ikutan saja, tapi memang kita rencanakan sejak awal,” ujar Utik.
Ia menilai, kampus bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga tempat membentuk kesadaran. Mahasiswa yang ditempa di lingkungan seperti ini diharapkan tumbuh menjadi individu yang peka terhadap isu lingkungan dan mampu membawa perubahan di masyarakat.

Kepala Biro Sarana dan Prasarana UAD, Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. menjelaskan, konsep ramah lingkungan juga diterapkan dalam pengelolaan air, yakni dengan melakukan daur ulang air wudhu dan air hujan untuk menghemat penggunaan air.
Dalam satu hari, Masjid Islamic Center UAD menghasilkan sekitar 10 meter kubik air bekas wudhu. Air tersebut dialirkan ke bak penampungan, lalu melalui beberapa tahap penyaringan sebelum kembali digunakan.
Bekas air wudhu yang telah diolah tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan non-konsumsi seperti penyiraman tanaman dan flush toilet. Upaya serupa juga diterapkan pada air hujan yang ditangkap dari atap gedung dan dialirkan ke sistem penampungan.
“Kampus UAD memang didesain agar air tidak keluar begitu saja, tetapi bisa diolah dan digunakan kembali,” ujar Zahrul saat ditemui, Rabu (8/4/2026).
Tidak hanya daur ulang air wudhu dan air hujan, kampus ini juga mendorong gerakan efisiensi energi sebagai bagian dari kebijakan ramah lingkungan yang dijalankan secara bertahap.
Langkah-langkah yang ditempuh terbilang sederhana, namun konsisten. Mulai dari mengganti lampu konvensional dengan LED, menggunakan pendingin ruangan (AC) inverter yang lebih hemat energi, hingga mengatur suhu AC maksimal 20 derajat Celsius.
Selain itu, civitas kampus juga didorong untuk mencabut aliran listrik dari perangkat yang tidak digunakan, membatasi penggunaan lift, serta memanfaatkan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) berbasis panel surya di seluruh area kampus.
Meski terlihat kecil di tingkat individu, akumulasi dari kebiasaan tersebut berdampak nyata. Pada 2024, konsumsi listrik seluruh kampus UAD tercatat mencapai 7.206.094 kWh dengan biaya sekitar Rp7,5 miliar. Setelah gerakan efisiensi dijalankan lebih masif, konsumsi listrik turun menjadi 6.353.876 kWh, dengan pengeluaran berkurang menjadi sekitar Rp6,6 miliar.
“Hasilnya signifikan, biaya listrik bisa hemat Rp837 juta atau sekitar 11 persen,” ujar Zahrul.

Langkah efisiensi energi di Universitas Ahmad Dahlan juga terus dikembangkan. Saat ini, kampus tersebut tengah menyiapkan rencana yang lebih besar melalui pemanfaatan energi terbarukan.
UAD merencanakan pembangunan 830 unit panel surya dengan total kapasitas daya mencapai 506,3 kWp. Proyek ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp12 miliar dan ditargetkan mulai direalisasikan pada 2026.
Meski demikian, proses transisi energi tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Pada tahap awal penerapan kebijakan, Zahrul mengaku stafnya di bagian Biro Sarana dan Prasarana kerap kali mendapatkan keluhan dari para civitas, terutama terkait AC yang terasa kurang dingin karena tidak bisa diatur dibawah suhu 20 derajat celcius.
Beberapa civitas juga masih sering lupa mematikan perangkat kerja komputer setelah selesai bekerja, lupa mematikan saklar lampu dan sebagainya. Zahrul mengakui, tantangan terberat dalam kebijakan efisiensi energi bukan pada teknologi melainkan mengubah kebiasaan sehari-hari.
Namun upaya itu tidak berhenti. Sosialisasi terus dilakukan, mulai dari pengumuman di grup internal hingga saling mengingatkan antarpegawai. Perlahan, kebiasaan baru mulai terbentuk.
Menariknya, inovasi juga memberi dampak tambahan. Lampu PJU berbasis panel surya yang dipasang di lingkungan kampus dilengkapi sensor gerak. Saat malam hari, lampu akan menyala ketika mendeteksi pergerakan. Bagi petugas keamanan, sistem ini menjadi penanda jika masih ada aktivitas di area tertentu, sekaligus membantu meningkatkan pengawasan di lingkungan kampus.

Daur Ulang Air Wudhu hingga Proyek Fikih Hijau di Unisa
Selain UAD, praktik daur ulang air wudhu juga dijalankan oleh kampus jaringan Muhammadiyah lainnya, yakni Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (Unisa). Pengelolaan air wudhu di kampus ini terintegrasi dengan konsep masjid ramah lingkungan, lansia, anak, dan disabilitas yang sudah dirancang sejak awal pembangunan.
Masjid yang diberi nama Masjid Walidah Dahlan ini dapat menampung 5.000 jemaah dan terbuka untuk umum. Masyarakat sekitar juga bisa melakukan ibadah di masjid tersebut, bahkan ada pula kegiatan TPA anak-anak yang dilakukan di masjid ini setiap hari.
Ketua Takmir Masjid Walidah Dahlan, Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I, M.S.I, mengatakan konsep ramah lingkungan menjadi bagian dari nilai yang ingin dihadirkan. Sebagai kampus berbasis kesehatan yang berlandaskan ajaran Islam, Unisa berupaya memastikan pembangunan masjid juga sejalan dengan prinsip menjaga kelestarian alam.
“Jangan sampai sebagai kampus Islami dengan masjid besar dan megah tapi tidak berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Nurdin.
Desain bangunan masjid dirancang dengan sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan alami yang maksimal. Konsep bangunan ini membuat aktivitas di siang hari tidak bergantung pada lampu maupun pendingin ruangan.
Dalam sehari, masjid ini menghasilkan sekitar 3–4 meter kubik air bekas wudhu. Seluruh air tersebut dialirkan ke dua ground water tank di sisi barat dan timur, masing-masing berkapasitas 10 meter kubik. Dari sana, air diolah melalui beberapa tahap penyaringan menggunakan pasir silika, karbon aktif, dan mangan. Hasilnya dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman serta mengisi kolam ikan di halaman depan masjid

Agar sistem ini berjalan optimal, perawatan dilakukan secara berkala. Setiap dua bulan dilakukan backwash atau pembersihan filter, pemeriksaan pompa dilakukan tiap tiga bulan, sementara pengurasan tangki penampungan dijadwalkan setiap enam bulan.
Upaya menjaga lingkungan di Unisa tidak berhenti pada aspek teknis. Kesadaran ekologis juga dibangun melalui pendekatan akademik, salah satunya lewat proyek Fikih Hijau yang digagas Nurdin.
Berangkat dari kegelisahan melihat dampak perubahan iklim yang semakin nyata, proyek ini mengajak mahasiswa memahami hubungan antara ajaran agama dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Namun pembelajaran tidak berhenti pada teori. Mahasiswa didorong keluar dari ruang kelas untuk merancang dan menjalankan program pelestarian lingkungan secara langsung.
"Agama itu bukan sekadar slogan dan ayat. Jadi bagaimana agama diturunkan dalam mata kuliah, lalu diturunkan lagi dalam gerakan-gerakan yang berdampak jangka panjang di tengah masyarakat yang dilakukan mahasiswa," ujar Nurdin.
Peluang Transisi Energi yang Besar
Pakar energi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, S.T., M.T., IPU mengapresiasi berbagai praktik baik transisi energi yang dikerjakan oleh kampus-kampus jaringan Muhammadiyah.
Menurutnya, praktik daur ulang air wudhu tidak hanya berdampak pada penghematan air, tetapi juga memperkuat upaya konservasi lingkungan. Air yang selama ini dianggap sumber daya terbarukan, pada kenyataannya tetap memiliki batas ketersediaan jika tidak dikelola dengan bijak.
"Di sisi ini, nilai konservasi lingkungannya juga strategis," ujar Rachmawan saat dihubungi.
Ia melihat praktik tersebut sebagai bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular, yakni sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara berulang untuk meminimalkan limbah. Dalam konteks ini, Muhammadiyah dinilai telah menunjukkan komitmen nyata melalui langkah-langkah yang aplikatif.
"Jika Muhammadiyah bisa menginspirasi replika luas tentu strategis," katanya.
Sementara itu, Hening Parlan kini mendorong langkah yang lebih mendasar: mengubah cara pandang terhadap transisi energi. Melalui Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, ia menggandeng ranting Muhammadiyah di berbagai daerah untuk mulai menerapkan efisiensi energi hingga beralih ke sumber energi terbarukan sebagai upaya memperluas dampak praktik yang sudah berjalan di Unisa dan UAD.
Dalam salah satu forum bersama perwakilan ranting Muhammadiyah, muncul kesepakatan awal yakni setiap ranting didorong memiliki setidaknya satu sumber energi terbarukan. Meski masih dalam tahap pembahasan, gagasan ini dinilai sebagai pijakan penting untuk mendorong transisi energi berbasis komunitas.
“Bayangkan kalau ranting Muhammadiyah yang jumlahnya sekitar 4.000 membangun energi terbarukan, hampir pasti mereka sudah mengerjakan efisiensi dan transisi,” ujar Hening.