Tegas! Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman Donald Trump Meski Ekonominya Hancur

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 21 April 2026 | 10:49 WIB
Tegas! Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman Donald Trump Meski Ekonominya Hancur
Pemerintah Iran secara resmi menyatakan penolakan mutlak untuk melakukan perundingan dengan Amerika Serikat selama intimidasi dan ancaman militer masih berlangsung. (BBC)
  • Iran menolak berunding dengan Amerika Serikat selama ancaman blokade ekonomi masih diberlakukan.

  • Donald Trump mengklaim blokade tersebut merugikan ekonomi Iran sebesar $500 juta per hari.

  • Teheran menyiapkan strategi militer baru sebagai respon atas pelanggaran gencatan senjata oleh AS.

Araqchi memastikan bahwa setiap langkah yang diambil Iran ke depan telah mempertimbangkan seluruh risiko dan aspek strategis yang ada.

"Iran mempertimbangkan semua aspek masalah ini saat memutuskan bagaimana bergerak maju," jelas pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru mempertegas komitmennya untuk terus menghimpit ekonomi Iran melalui kebijakan blokade yang ketat.

Trump meyakini bahwa tekanan finansial yang luar biasa akan memaksa para pemimpin di Teheran untuk segera bertekuk lutut.

Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa operasi penekanan tersebut berjalan sesuai rencana dan tidak akan dihentikan tanpa kesepakatan baru.

"Blokade, yang tidak akan kami cabut sampai ada kesepakatan," tulis Trump sebagai bentuk ultimatum kepada pemerintahan di Teheran.

Trump mengklaim bahwa sanksi tersebut telah memberikan pukulan telak yang membuat Iran kehilangan pendapatan dalam jumlah yang sangat fantastis.

"Blokade AS benar-benar menghancurkan Iran. Mereka kehilangan $500 juta dolar [EUR425 juta] sehari, angka yang tidak berkelanjutan, bahkan dalam jangka pendek," klaim Trump.

Biaya Perang yang Membengkak

Meskipun Trump mengklaim keberhasilan ekonomi, sejumlah pakar kebijakan publik justru menyoroti beban finansial yang harus ditanggung oleh Amerika Serikat.

Pentagon memang belum merilis data pengeluaran secara terperinci, namun estimasi kerugian di pihak Washington disinyalir jauh lebih besar.

Linda Bilmes, seorang ahli kebijakan publik dari Kennedy School of Government Universitas Harvard, memberikan analisis yang cukup mengejutkan terkait biaya operasional tersebut.

Bilmes memperkirakan bahwa pengeluaran harian Amerika Serikat untuk mendanai konflik ini bisa mencapai angka dua kali lipat dari kerugian Iran.

Estimasi menunjukkan bahwa biaya perang yang dikeluarkan oleh pihak Gedung Putih mendekati angka $2 miliar dolar setiap harinya.

Trump juga membantah tudingan yang menyebutkan bahwa dirinya didorong ke dalam peperangan ini oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Komentar ini muncul setelah adanya kritik tajam dari berbagai pengamat sayap kanan dan mantan pendukungnya mengenai motif peperangan tersebut.

Presiden Amerika Serikat itu berkilah bahwa keputusannya didasarkan pada pandangan pribadinya mengenai ancaman keamanan global dari Iran.

"Israel tidak pernah membujuk saya ke dalam perang dengan Iran, hasil dari 7 Oktober, ditambah dengan pendapat seumur hidup saya bahwa IRAN TIDAK BOLEH MEMILIKI SENJATA NUKLIR, lah yang membujuk saya," tulis Trump.

Trump juga memberikan isyarat mengenai keinginannya untuk melihat adanya perubahan kepemimpinan atau rezim di dalam struktur pemerintahan Iran.

"Jika pemimpin baru Iran (Perubahan Rezim!) pintar, Iran bisa memiliki masa depan yang hebat dan makmur!" pungkas Trump memberikan harapan bersyarat.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berakar pada sengketa program nuklir serta pengaruh geopolitik di wilayah Timur Tengah yang terus memanas.

Hubungan diplomatik semakin memburuk sejak Amerika Serikat menarik diri secara sepihak dari kesepakatan nuklir tahun 2015 dan menerapkan sanksi ekonomi maksimum.

Situasi saat ini diperparah oleh insiden-insiden militer di kawasan serta perbedaan pandangan mengenai penyelesaian konflik yang melibatkan sekutu masing-masing negara.

Blokade ekonomi yang diterapkan Washington bertujuan membatasi kemampuan ekspor minyak Iran yang menjadi tulang punggung pendapatan negara tersebut.

Hingga kini, kedua belah pihak masih bertahan pada posisi masing-masing tanpa ada tanda-tanda de-eskalasi dalam waktu dekat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pasar Pantau Dialog AS-Iran, Harga Minyak Kembali Turun

Pasar Pantau Dialog AS-Iran, Harga Minyak Kembali Turun

Bisnis | Selasa, 21 April 2026 | 10:36 WIB

Siapa Shamim Mafi? Sosialita Otak Transaksi Penyelundupan Senjata Senilai Rp1 T ke Sudan

Siapa Shamim Mafi? Sosialita Otak Transaksi Penyelundupan Senjata Senilai Rp1 T ke Sudan

News | Selasa, 21 April 2026 | 10:22 WIB

Rusia Evakuasi Lebih dari 600 Staf dari Pembangkit Nuklir Bushehr di Iran

Rusia Evakuasi Lebih dari 600 Staf dari Pembangkit Nuklir Bushehr di Iran

News | Selasa, 21 April 2026 | 10:22 WIB

Terkini

Menakar Ramalan '98 Jilid 2' Noel: Nyanyian Kosong atau Ancaman Nyata Penggulingan Prabowo?

Menakar Ramalan '98 Jilid 2' Noel: Nyanyian Kosong atau Ancaman Nyata Penggulingan Prabowo?

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:51 WIB

'Presiden Punya Mata dan Telinga', Prabowo Pantau Terus Kasus Korupsi Imigrasi dan BGN

'Presiden Punya Mata dan Telinga', Prabowo Pantau Terus Kasus Korupsi Imigrasi dan BGN

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:09 WIB

Antisipasi El Nino dan Krisis Sampah, Dedi Mulyadi Kumpulkan Kepala Daerah se-Jabar

Antisipasi El Nino dan Krisis Sampah, Dedi Mulyadi Kumpulkan Kepala Daerah se-Jabar

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:05 WIB

Sentil Netizen, Eky Priyagung: Masyarakat Lebih Peduli Isu Viral Ketimbang Kerusakan Lingkungan

Sentil Netizen, Eky Priyagung: Masyarakat Lebih Peduli Isu Viral Ketimbang Kerusakan Lingkungan

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 21:13 WIB

KPK Sita 19 Kendaraan hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim

KPK Sita 19 Kendaraan hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 21:06 WIB

Mobil Sport, Motor Harley, Hingga Uang Asing Dibawa KPK dari Rumah Silmy Karim

Mobil Sport, Motor Harley, Hingga Uang Asing Dibawa KPK dari Rumah Silmy Karim

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:38 WIB

Wamen Silmy Karim Tersangka Korupsi Rp145 M, Yusril Akui Imigrasi Masih Banyak Pungli

Wamen Silmy Karim Tersangka Korupsi Rp145 M, Yusril Akui Imigrasi Masih Banyak Pungli

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:20 WIB

WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa

WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:09 WIB

Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan

Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:09 WIB

'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:55 WIB