-
Donald Trump melakukan blokade total Selat Hormuz untuk melumpuhkan pendapatan ekonomi harian Iran.
-
Militer Iran mengancam akan menyerang target Amerika dan Israel jika agresi militer berlanjut.
-
Proses negosiasi perdamaian di Pakistan gagal terlaksana karena ketidakhadiran delegasi pemerintah Iran.
Pernyataan militer Iran muncul hampir bersamaan dengan keputusan Trump untuk memperpanjang masa gencatan senjata.
"Dalam hal agresi dan tindakan apa pun terhadap Iran Islam, angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menyerang target yang telah ditentukan dengan kekuatan dan memberi Amerika yang agresif serta rezim Zionis pembunuh anak-anak pelajaran lain yang lebih berat dari sebelumnya," bunyi pernyataan Zolfaghari.
Situasi diplomatik semakin tidak menentu setelah rencana pertemuan tingkat tinggi di Pakistan batal terlaksana.
JD Vance yang dijadwalkan terbang untuk berunding terpaksa membatalkan perjalanan karena ketidakhadiran delegasi dari pihak Iran.
Kegagalan pertemuan ini membuat perpanjangan gencatan senjata menjadi satu-satunya nafas tersisa bagi stabilitas kawasan yang rapuh.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan kedua belah pihak akan duduk bersama di meja negosiasi.
Konflik ini memuncak setelah pembicaraan damai awal bulan ini mengalami kebuntuan total tanpa ada kesepakatan.
Selat Hormuz merupakan titik nadi perdagangan minyak dunia yang kini menjadi pusat sengketa antara Washington dan Teheran.
Amerika Serikat mulai menutup pelabuhan-pelabuhan utama Iran sebagai sanksi fisik atas kegagalan proses diplomasi tersebut.
Meskipun gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu, blokade ekonomi tetap berjalan ketat di bawah komando Trump.
Kondisi ini menempatkan ekonomi Iran dalam tekanan besar sekaligus meningkatkan risiko konfrontasi fisik di perairan internasional.