Suara.com - Kesepakatan gencatan senjata yang diharapkan membawa kedamaian ke Jalur Gaza nyatanya berbanding terbalik dengan realitas di lapangan.
Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini merilis data mengkhawatirkan yang menunjukkan lonjakan drastis dalam intensitas serangan dan kekerasan selama kurun waktu satu minggu terakhir.
Belum genap 6 bulan sejak gencatan senjata resmi dimulai pada 10 Oktober 2025, aktivitas kekerasan telah mencapai puncaknya dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Angka ini memicu keprihatinan mendalam dari komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan yang telah berusaha membantu penduduk Gaza yang terluka selama lebih dari dua tahun perang. Lantas bagaimana penjelasan lengkapnya? Berikut telah Suara.com rangkum dari Middle East Monitor.
Lonjakan Kekerasan Mencapai Rekor Tertinggi
![Foto satelit kediaman Pemimpin Besar Iran Ayatolla Ali Khamenei di Teheran yang hancur dirudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [Airbus/Soar Atlas]](https://media.arkadia.me/v2/articles/triasrohmadoni/Z0CsYW19N5w3Hc3Qi6BQUQchmM54GpNT.png)
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengumumkan dalam konferensi pers resmi pada hari Selasa bahwa data terkini dari mitra organisasi di lapangan menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.
Periode antara 12 hingga 18 April, serangan berbentuk tembakan senjata, pengeboman, dan penyerangan udara meningkat sebesar 46 persen jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Angka ini bukan sekadar statistik biasa. Ini adalah rekor tertinggi yang dicatat sejak perjanjian penghentian peperangan mulai berlaku 6 bulan lalu.
Artinya, meskipun sudah ada kesepakatan formal untuk berhenti berperang, intensitas kekerasan justru terus meningkat dan kini mencapai titik paling kritis.
"Laporan dari mitra kami di medan perang menunjukkan peningkatan insiden sebesar 46 persen dibandingkan minggu sebelumnya, yang merupakan total mingguan tertinggi sejak perjanjian gencatan senjata Oktober dimulai," ujar Dujarric dalam pernyataannya.
Wilayah Terparah Mengalami Peningkatan Drastis
Data PBB mengidentifikasi 3 wilayah administratif Gaza yang menjadi pusat dari lonjakan kekerasan ini.
Pemerintah Utara Gaza (North Gaza), Kota Gaza (Gaza City), dan Deir al Balah dilaporkan mengalami peningkatan insiden paling tajam dibandingkan wilayah lainnya.
Ketiga daerah ini telah menjadi zona pertempuran berulang selama periode gencatan senjata. Warga sipil di lokasi-lokasi ini menghadapi risiko konstan dari berbagai bentuk serangan, dari pertukaran tembakan hingga pengeboman yang menyasar instalasi militer sekaligus pemukiman penduduk.
Peningkatan kekerasan di area-area ini tercermin dalam laporan medisinnya. Rumah sakit yang masih beroperasi di ketiga wilayah tersebut melaporkan lonjakan kedatangan pasien cedera dan korban tewas dalam jangka waktu yang sama dengan peningkatan insiden kekerasan.
Bom Tak Meledak Menjadi Ancaman Serius