-
Iran menyita kapal kargo Eropa sebagai bentuk perlawanan terhadap blokade maritim Amerika Serikat.
-
Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan bantuan finansial dollar bagi negara Teluk yang terdampak konflik.
-
Gencatan senjata berada di ambang kegagalan karena kedua pihak saling klaim pelanggaran wilayah.
Ketegangan ini mulai mengguncang stabilitas ekonomi negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada jalur ekspor minyak dan gas.
Negara seperti UEA, Qatar, dan Bahrain kini mulai merasakan dampak finansial akibat terganggunya arus logistik di Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi adanya permintaan bantuan pasokan dollar darurat dari beberapa aliansi di wilayah Teluk.
Fasilitas swap line dipertimbangkan untuk mencegah negara-negara tersebut menjual aset Amerika Serikat secara besar-besaran akibat krisis likuiditas.
"Swap line, baik itu dari Federal Reserve atau Departemen Keuangan, adalah untuk menjaga keteraturan di pasar pendanaan dolar dan untuk mencegah penjualan aset AS secara tidak teratur," jelas Bessent.
Langkah ini dipandang sebagai upaya penyelamatan bersama untuk menjaga stabilitas pasar modal Amerika dan ekonomi mitra di Asia.
"Jadi, swap line akan menguntungkan UEA dan AS, dan seperti yang saya katakan, banyak negara lain, termasuk beberapa sekutu Asia kita, juga telah memintanya," pungkas Bessent.
Ketegangan di Selat Hormuz berakar dari kebijakan blokade ekonomi dan militer yang diterapkan pemerintahan Trump terhadap sektor energi Iran.
Selat ini merupakan jalur vital perdagangan global di mana gangguan kecil dapat memicu lonjakan harga energi dunia dan krisis mata uang di negara-negara produsen minyak Teluk.