- Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menyoroti maraknya informasi tidak valid mengenai vaksin yang masih dipercayai masyarakat Indonesia saat ini.
- Dalam Pekan Imunisasi Nasional 2026 di Jakarta, Dante menekankan bahwa hoaks vaksin menghambat efektivitas layanan kesehatan bagi masyarakat luas.
- Pemerintah mengajak jurnalis berperan aktif meluruskan misinformasi melalui pemberitaan berkualitas guna meningkatkan kesadaran pentingnya vaksinasi secara ilmiah.
Suara.com - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkap masih kuatnya pengaruh informasi tidak valid soal vaksin di tengah masyarakat. Bahkan, ia mengaku kerap menemui langsung pasien yang meragukan vaksinasi dengan alasan yang tidak berbasis bukti.
Pengalaman itu diceritakan Dante saat memberi sambutan dalam temu jurnalis pada Pekan Imunisasi Nasional 2026 di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta.
“Seringkali saya mendapatkan informasi dan kedatangan pasien yang sudah membawa pesan-pesan yang bersumber pada informasi yang tidak jelas. Misalnya, 'kalau kita terlahir kan sudah punya imunitas sendiri, kenapa mesti divaksin?' Itu satu informasi,” ujar Dante, Kamis (23/4/2026).
Ia mengatakan, narasi serupa tidak berhenti di situ. Dalam praktiknya sebagai dokter, Dante juga menemui pasien yang secara terang-terangan menuding vaksin sebagai agenda tersembunyi pemerintah.
“Ada yang datang ke tempat saya, dia bilang, 'vaksin itu cuma akal-akal pemerintah saja'. Ada yang bilang gitu. Dan ini seringkali terjadi,” lanjutnya.
Fenomena ini, menurut Dante, menunjukkan bahwa persoalan vaksinasi bukan lagi semata soal ketersediaan layanan, tetapi juga pertarungan informasi di ruang publik.
Informasi yang tidak jelas sumbernya kerap membentuk persepsi, bahkan sebelum pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Dante menegaskan bahwa secara ilmiah vaksinasi telah terbukti menjadi salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam menekan angka kematian dan kesakitan.
“Padahal, vaksinasi itu ada investasi yang luar biasa efektif untuk mencegah kematian di masa yang akan datang dan kesakitan di masa yang akan datang,” kata Dante.
Ia mencontohkan pengalaman selama pandemi Covid-19, di mana perbedaan status vaksinasi berbanding lurus dengan risiko fatalitas.
“Sejarah menunjukkan, waktu kita dulu covid, kalau kita tidak divaksinasi lengkap, maka mereka yang meninggal karena covid itu, angkanya lebih besar daripada yang divaksinasi,” kenangnya.
Untuk mencegah misinformasi di masyarakat, Dante meminta kepada para jurnalis untuk turut menjadi edukator yang baik dengan membuat pemberitaan soal vaksinasi secara informatif.
"Di tengah-tengah marahnya informasi infodemic yang begitu masif, maka satu pesan jurnalis dengan tulisan yang berkualitas akan menjadi pelurus dari semua berita-berita hoaks," pungkasnya.