- Militer Amerika Serikat menyerang lokasi militer Iran di Bandar Abbas sebagai langkah pertahanan diri dari ancaman drone.
- Korps Garda Revolusi Islam Iran membalas dengan menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat setelah terjadi serangan tersebut.
- Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap hasil negosiasi dan membuka peluang operasi militer skala besar di Iran.
Suara.com - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer AS (Centcom) menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai langkah pertahanan diri.
Menurut mereka, lokasi di Bandar Abbas diserang karena diduga bersiap meluncurkan drone kelima ke arah pasukan Amerika.
“Langkah ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata,” tulis Centcom dalam pernyataan resminya.
Media Iran melaporkan ledakan terdengar di bagian timur Bandar Abbas sesaat setelah serangan terjadi.
Bandar Abbas sendiri merupakan titik penting di jalur perdagangan energi dunia karena berada di kawasan sempit Selat Hormuz.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/82282-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
Tak lama setelah serangan itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan sebuah pangkalan udara milik Amerika Serikat.
Namun, Teheran tidak mengungkap lokasi detail pangkalan yang diserang.
Di saat bersamaan, Kuwait yang menjadi tuan rumah salah satu pangkalan militer AS menyatakan sistem pertahanan udaranya sedang mencegat ancaman rudal dan drone musuh.
Pemerintah Kuwait tidak menjelaskan asal serangan tersebut.
Iran mengecam tindakan Washington dan menyebut serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata.
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membiarkan aksi permusuhan tanpa balasan.
Ketegangan meningkat setelah AS dua kali menyerang target di Iran dalam tiga hari terakhir.
Sebelumnya, Washington mengaku menghantam situs rudal Iran serta kapal yang diduga hendak memasang ranjau di Selat Hormuz.
Centcom mengatakan operasi sebelumnya dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman pasukan Iran.
Selain serangan militer, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap otoritas Iran yang mengelola pembayaran kapal di Selat Hormuz.
Departemen Keuangan AS memperingatkan kapal yang membayar biaya ke otoritas tersebut dapat terkena risiko sanksi.
Jalur Selat Hormuz sendiri menjadi rute penting karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati kawasan itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan Teheran hanya memungut biaya layanan navigasi dan akan tetap mengatur lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran berada dalam posisi terdesak dalam negosiasi.
Trump bahkan membuka kemungkinan melanjutkan operasi militer skala besar jika kesepakatan damai gagal tercapai.
“Mungkin kami harus kembali dan menyelesaikannya, mungkin juga tidak,” kata Trump dalam rapat kabinet di Washington.
Trump juga menyebut Amerika Serikat belum puas dengan hasil negosiasi saat ini.
Menurutnya, Iran sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi hingga kini belum memenuhi tuntutan Washington.
“Iran sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini mereka belum sampai ke sana dan kami belum puas,” ujar Trump.