- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan komitmen AS terkait Memorandum Islamabad.
- Iran mengajukan syarat pencabutan sanksi, pelepasan aset, investasi, serta penghentian perang di Lebanon untuk membuka selat.
- Situasi krisis memicu penurunan ekspor-impor Iran serta gangguan sektor energi yang berdampak pada perekonomian domestik.
Suara.com - Iran mulai menyiapkan jalan keluar untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Teheran mengaku telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai rute pelayaran, tetapi pembukaan kembali selat tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah komitmen oleh Amerika Serikat (AS).
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan kesepakatan rute pelayaran telah dibahas bersama Oman. Menurutnya, Selat Hormuz dapat kembali dibuka apabila AS memenuhi komitmen yang tercantum dalam Memorandum Islamabad yang disepakati sebelumnya.
“Kami telah menyepakati rute pelayaran melalui Hormuz dengan Oman, dan jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kami akan membuka selat itu,” kata Pezeshkian, Jumat (28/8), dilansir dari laman Antara, Sabtu (29/8/2026).
Pezeshkian mengatakan, rencana tersebut juga telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran. Pemerintah Iran kini masih menindaklanjuti kesepakatan tersebut.
Iran Pasang Syarat Sebelum Hormuz Dibuka
Teheran mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah tuntutan terhadap Washington.
Pezeshkian menyebut beberapa di antaranya adalah pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset Iran yang dibekukan, dimulainya investasi, serta penghentian perang di Lebanon.
Menurut Pezeshkian, pihak AS juga telah mengakui perlunya kembali pada nota kesepahaman tersebut dalam pembicaraan yang berlangsung.
Dari sisi Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi disebut telah mencapai konsensus mengenai kesepakatan itu. Sebanyak 12 dari 13 anggota disebut memberikan dukungan.
Iran juga mengklaim sejumlah dampak ekonomi mulai terasa akibat situasi tersebut. Pezeshkian mengatakan volume impor dan ekspor Iran mengalami penurunan sekitar 25 persen hingga 35 persen.
Investasi 300 Miliar Dolar AS Ikut Dipertaruhkan
Selain persoalan pelayaran, Iran mengaitkan normalisasi kondisi dengan rencana investasi berskala besar.
Pezeshkian mengatakan pemerintah tengah mempersiapkan rencana investasi senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.327 triliun.
Pembicaraan mengenai investasi tersebut disebut telah dilakukan dengan Qatar dan Uni Emirat Arab. Namun, menurut Pezeshkian, proyek-proyek itu sulit berjalan apabila konflik masih berlanjut.
Iran juga mengklaim telah mengekspor hampir 90 juta barel minyak selama kesepakatan sebelumnya berlangsung.
![Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/27/92283-selat-hormuz.jpg)
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz bukan hanya menyangkut jalur kapal. Bagi Iran, akses pelayaran, ekspor energi, investasi, dan pencabutan sanksi saling berkaitan dengan upaya mempertahankan aktivitas ekonomi negara.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Perdagangan Energi
Iran dan Oman sebelumnya telah membahas pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz setelah nota kesepahaman antara Washington dan Teheran tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam kesepakatan sebelumnya, AS dan Iran disebut sepakat memperpanjang gencatan senjata dan secara bertahap mengembalikan pelayaran melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang.
Namun, Iran menilai komitmen tersebut tidak dipenuhi sehingga upaya mengembalikan kondisi pelayaran seperti semula mengalami kegagalan.
Kini, rute yang disepakati bersama Oman menjadi salah satu upaya baru untuk mengatur kembali lalu lintas di kawasan tersebut. Akan tetapi, Iran masih menjadikan pemenuhan komitmen AS sebagai syarat utama.
Tekanan Energi Mulai Terasa di Dalam Negeri
Di tengah persoalan Selat Hormuz, Iran juga menghadapi tekanan energi di dalam negeri.
Pezeshkian menggambarkan kondisi negaranya sebagai situasi perang. Sejumlah jalur transportasi disebut terblokir, pasokan barang terganggu, dan pendapatan negara mengalami tekanan.
Sektor energi juga ikut terdampak. Infrastruktur pembangkit listrik serta fasilitas minyak dan gas disebut menjadi sasaran serangan sehingga produksi energi menurun.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Situasi tersebut membuat pemerintah Iran harus mencari cara untuk menekan konsumsi bahan bakar tanpa semakin membebani masyarakat.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan kerja jarak jauh, perluasan transportasi umum, peningkatan standar efisiensi kendaraan, serta elektrifikasi taksi dan sepeda motor.
Harga Bensin Belum Diputuskan
Tekanan energi juga memunculkan wacana perubahan harga bensin. Namun, Pezeshkian menegaskan pemerintah belum memutuskan kapan dan seberapa besar kenaikan harga akan diberlakukan.
Ia mengatakan salah satu usulan yang sedang dibahas berkaitan dengan tarif ketiga untuk konsumsi yang melampaui kuota reguler.
Tarif yang diusulkan disebut sekitar 10.000 toman. Pezeshkian membantah rumor yang menyebut harga bensin akan melonjak menjadi 50.000 toman.
Sebelum kebijakan diterapkan, pemerintah masih perlu melakukan konsultasi dengan parlemen dan lembaga yudikatif.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran juga mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.