- Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Senin, 31 Agustus 2026, menetapkan lima calon Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
- Lima kandidat yang lolos verifikasi persyaratan tersebut adalah Gus Kikin, Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.
- Penentuan akhir Ketua Umum PBNU dilakukan melalui musyawarah sembilan anggota AHWA bersama Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar.
2. KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa berada di posisi kedua dengan 262 suara. Ia merupakan Wakil Ketua Umum PBNU dan dikenal memiliki latar belakang pendidikan serta aktivitas keilmuan pesantren. Dalam perjalanan organisasinya, Zulfa pernah menjadi Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU dan Katib Syuriyah PBNU sebelum dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum.
Zulfa juga sempat ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU pada Desember 2025 dalam dinamika internal organisasi. Namun, ia kemudian mengembalikan mandat tersebut kepada Rais Aam pada Januari 2026 dengan alasan kepentingan kerukunan organisasi.
3. KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam memperoleh 261 suara, hanya terpaut satu suara dari Zulfa Mustofa. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, serta dikenal sebagai salah satu figur yang membawa isu rekonsiliasi organisasi dalam bursa Ketua Umum PBNU.
Gus Salam menyatakan maju setelah memperoleh dorongan dari sejumlah kiai dan tokoh pesantren. Dalam proses pencalonannya, ia banyak berbicara mengenai kebutuhan mengembalikan soliditas dan keharmonisan organisasi.
Basis pesantrennya juga menjadi bagian penting dari rekam jejaknya. Gus Salam merupakan cucu KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU, dan memiliki hubungan kuat dengan lingkungan pesantren di Jombang serta Kediri.
4. KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan petahana Ketua Umum PBNU periode 2021–2026. Dalam tabulasi Muktamar ke-35, ia memperoleh 258 suara dan masuk dalam lima nama yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan proses pencalonan.
Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966. Ia merupakan putra KH Cholil Bisri dan cucu KH Bisri Mustofa. Pendidikan pesantrennya antara lain ditempuh di Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, dan Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
5. KH Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menjadi nama yang menarik dalam daftar final karena masuk bukan berdasarkan lima suara tertinggi, melainkan setelah proses pemeriksaan persyaratan menggugurkan sejumlah nama di atasnya. Ia memperoleh 155 suara dan berada di urutan kedelapan dalam tabulasi awal.
Gus Rozin merupakan Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, sekaligus Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029. Ia adalah putra KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU periode 1999–2014. Dari sisi pendidikan, Gus Rozin menempuh pendidikan pesantren di Kajen dan Fathul Ulum Kwagean, kemudian melanjutkan studi hingga memperoleh gelar Master of Education dari Monash University, Australia, serta menyelesaikan pendidikan doktoral di UIN Walisongo Semarang pada 2023.
Pengalaman organisasinya juga cukup panjang, antara lain di IPNU, GP Ansor, Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, hingga Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU. Pada Muktamar ke-35, Gus Rozin termasuk tokoh yang mendukung perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum menuju AHWA.
Bukan sekadar soal perolehan suara
Komposisi lima nama tersebut menunjukkan bahwa kontestasi Ketua Umum PBNU kali ini tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah dukungan awal. Tabulasi suara berfungsi sebagai tahap penjaringan, sementara persyaratan organisasi menjadi penyaring berikutnya.
Kasus Nusron Wahid menjadi contoh paling jelas. Ia memperoleh 207 suara dan secara angka berada di posisi kelima, tetapi tidak dapat melanjutkan karena statusnya sebagai Menteri ATR/Kepala BPN. Hal serupa terjadi pada Saifullah Yusuf yang memperoleh 174 suara.
Sementara KH Muhammad Yusuf Chudlori, dengan 176 suara, tidak masuk daftar final karena ketentuan mengenai masa jeda setelah keterlibatan dalam kepengurusan partai politik.
Dengan demikian, lima nama yang kini berada di tahap akhir adalah hasil kombinasi antara aspirasi peserta dan verifikasi persyaratan organisasi: Gus Kikin, Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.
Setelah persetujuan Rais Aam terpilih, penentuan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 selanjutnya berada di tangan AHWA.
Artinya, siapa yang meraih suara terbanyak dalam penjaringan belum tentu menjadi pemenang akhir. Keputusan akan ditentukan melalui musyawarah sembilan ulama AHWA bersama Rais Aam terpilih.
Catatan faktual: informasi awal yang menyebut lima nama berdasarkan perolehan suara tertinggi perlu dikoreksi. Secara tabulasi, lima besar awal memang Gus Kikin, Zulfa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Nusron. Namun, setelah verifikasi syarat, Nusron gugur dan Gus Rozin yang memperoleh 155 suara masuk sebagai lima calon yang memenuhi syarat. Ini penting agar berita tidak keliru menyebut Gus Rozin sebagai peraih lima suara terbanyak.