- Ratusan orang tua berdesakan dan menginap sejak dini hari pada Selasa, 1 September 2026, demi mendaftarkan anak mereka di Bimbel Exist Gayam, Kota Yogyakarta.
- Pengelola Bimbel Exist Gayam, Yurin Gagarin, membatasi kuota sekitar 400 siswa dan mempertahankan tarif terjangkau sebesar Rp150 ribu per mata pelajaran demi menjaga kualitas pembelajaran.
- Para orang tua memilih bimbel tersebut agar anak mereka dapat mempersiapkan diri secara optimal untuk menembus sekolah menengah atas negeri favorit.
Ainina bukan kali pertama berupaya mendaftarkan anak ke Bimbel Exist Gayam. Dua anaknya sebelumnya sempat terlambat mendaftar sehingga tidak mendapatkan kuota.
"Ini anak ketiga. Anak pertama, kedua dulu telat terus mau daftar," kata Ainina.
Kali ini ia sengaja mendaftarkan anaknya sejak kelas 2 SMP untuk mengikuti bimbingan ketika duduk di kelas 3. Menurut dia, langkah tersebut dilakukan agar anaknya tidak kembali kehilangan kesempatan karena kuota sudah habis.
Target SMA Favorit
Pilihan terhadap Bimbel Exist Gayam juga tidak terlepas dari reputasi dan pertimbangan biaya. Ainina mengatakan bimbel tersebut sudah lama dikenal memiliki hasil yang baik.
Terutama dalam membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi ujian dan melanjutkan pendidikan ke SMA yang diincar.
"Ya karena dari dulu itu udah terkenal yang bagus bahasa Indonesianya, gurunya sini bahasa Indonesia. Terus lebih murah juga," ungkap Ainina.
Biaya menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Ainina. Ia menyebut tarif bimbel tersebut dipatok Rp150 ribu per mata pelajaran, lebih terjangkau dibandingkan bimbel lain yang pernah dipilih untuk dua anaknya sebelumnya.
Bagi para orang tua, bimbel bukan sekadar tempat tambahan belajar. Ada target yang ingin dikejar, yakni masuk SMA negeri yang dinilai memiliki reputasi baik dan menjadi incaran banyak siswa.
Pernah Dipakai Putra Pratikno
Reputasi Bimbel Exist Gayam dibangun dari perjalanan panjangnya sejak awal 2000-an.
Pengelola Bimbel Exist Gayam, Yurin Gagarin, mengatakan tempat tersebut bahkan pernah menjadi pilihan belajar putra Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno.
"Putranya Pak Menteri Pratikno di sini, putranya dulu di sini. Sekarang sudah jadi dokter itu," kata Yurin.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari cerita perjalanan Bimbel Exist Gayam yang kemudian dikenal luas dari mulut ke mulut. Lokasinya yang masuk ke dalam gang-gang sempit pun tak membuat namanya hilang.
Padahal, Yurin mengaku tidak pernah mengandalkan promosi, baik secara langsung maupun melalui platform daring. Sehingga, keberadaan bimbel lebih banyak dikenal dari pengalaman siswa dan orang tua sebelumnya.
"Sebetulnya enggak juga (antrean membludak). Kami itu enggak pernah promosi, tetapi insya Allah ya dari dari mulut ke mulut hasilnya itu output-nya itu hampir semuanya negeri dan favorit," ujarnya.
Menurut Yurin, siswa yang datang bukan hanya berasal dari Kota Yogyakarta. Ada orang tua calon siswa yang berasal dari berbagai wilayah di Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga luar daerah seperti Magelang dan Solo.
Ia mengatakan sebagian siswa mengetahui bimbel tersebut dari teman, kakak kelas, tetangga, maupun anggota keluarga yang sebelumnya pernah mengikuti bimbingan.
Kuota Dibatasi demi Kualitas
Yurin menjelaskan kuota penerimaan siswa baru berada di kisaran 400 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena setiap ruang dibatasi sekitar 20 siswa agar proses pembelajaran tetap nyaman dan kualitas pengajaran dapat dipertahankan.
"Kami membatasi setiap ruang itu kalau sudah 20, stop. Biar nyaman dan hasilnya kualitasnya biar baik," ujarnya.
Meski kuota utama telah penuh, orang tua yang belum mendapatkan tempat masih dapat masuk daftar tunggu. Yurin mengatakan peluang tetap terbuka sebab tidak semua siswa mengambil seluruh mata pelajaran yang tersedia.
"Inden itu (kalau tidak dapat kuota). Jadi nanti kalau misalnya ini kan setiap orang itu kadang tidak harus 4 (mapel). Kadang hanya 2, ya. Kan kemampuan orang tua, kami tidak memaksa harus 4," imbuhnya.
Komitmen Tak Naikkan Harga
Di tengah tingginya permintaan, Yurin menyebut tarif Rp150 ribu per mata pelajaran akan tetap dipertahankan sejak awal hingga sekarang. Ia mengatakan harga tersebut tidak dinaikkan meski biaya hidup dan kebutuhan lainnya terus berubah.
"Iya, sejak putranya Pak Menteri Pratikno sampai sekarang, ya, itu tetep Rp150 ribu (per mapel sebulan). Mengapa demikian? Karena kami dengan Bapak (suami) tinggal berdua itu semeleh, yang penting barokahnya, hanya itu," tuturnya.
Bagi Yurin, mempertahankan biaya terjangkau merupakan bagian dari prinsip pengelolaan bimbel. Ia bahkan mengatakan tidak memiliki rencana membuka cabang dan memilih mempertahankan skala yang ada dengan orientasi pada kualitas dan kebermanfaatan.
Bimbel Exist Gayam saat ini memiliki pengajar untuk sejumlah mata pelajaran, antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA. Untuk IPA, pengajaran dibagi antara bidang Fisika dan Biologi.