- Frankie MacDonald meramalkan gempa magnitudo sembilan bakal melanda Indonesia sebelum akhir tahun 2026 mendatang.
- Dwikorita Karnawati menegaskan lokasi potensi gempa bisa dipetakan, tetapi waktu kejadiannya mustahil diprediksi secara akurat.
- Erupsi enam gunung api bersamaan tidak memiliki kaitan langsung dengan potensi gempa megathrust di Indonesia.
Suara.com - Belum lama ini muncul ramalan gempa berkekuatan magnitudo 9 (M9) yang disebut bakal terjadi di Indonesia sebelum akhir 2026. Ramalan itu datang dari unggahan video pengamat asal Kanada, Frankie MacDonald, yang kemudian viral.
Menanggapi hal itu, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menegaskan lokasi potensi gempa memang dapat dipetakan. Namun, waktunya belum bisa diprediksi secara akurat.
Dwikorita menilai penyebutan waktu secara spesifik perlu dipertanyakan. Sebab, ilmu kegempaan belum mampu memastikan kapan energi tektonik akan dilepaskan menjadi gempa besar.
Menurutnya, apabila gempa kemudian benar-benar terjadi pada waktu yang disebut dalam ramalan, hal tersebut tidak otomatis membuktikan ramalan itu benar. Kejadian tersebut bisa saja merupakan kebetulan.
"Kalau ternyata terjadi betul itu kebetulan aja. Jadi waktunya yang tidak bisa diprediksi," kata Dwikorita, Kamis (10/9/2026).
Ia menyinggung potensi gempa megathrust yang memang ada di Indonesia.
Namun, Dwikorita bilang bahwa yang dapat dipetakan adalah zona megathrust sebab berkaitan dengan batas tumbukan lempeng. Sementara waktu pelepasan energi pada zona tersebut tidak dapat ditentukan secara presisi.

"Tapi apakah megathrust bisa diprediksi? Iya adalah lokasinya. Spasial itu bisa diprediksi, kira-kira lokasinya ada di mana," ujarnya.
Dwikorita menyebut Indonesia berada di kawasan tumbukan lempeng yang membentang sangat luas dan terbagi dalam sejumlah segmen. Kondisi itu membuat potensi gempa besar memang perlu diwaspadai.
Namun, tidak tepat jika ancaman tersebut diterjemahkan menjadi kepastian bahwa gempa akan terjadi pada tanggal tertentu.
Dwikorita turut menepis anggapan bahwa enam gunung api yang erupsi secara bersamaan berkaitan langsung dengan megathrust. Aktivitas gunung api dan gempa sama-sama memiliki kaitan dengan dinamika tektonik, tetapi erupsi tersebut bukan bukti bahwa megathrust akan segera terjadi.
"Kalau yang terkait dengan erupsi itu terus terang itu gak ada ya, gak ada yang enam erupsi itu ada kaitannya megathrust tidak," tegasnya.