Risiko Bencana di Indonesia Berlipat Ganda Akibat Krisis Iklim, Kita Harus Beradaptasi

Liberty Jemadu

Selasa, 07 September 2021 | 06:15 WIB
Risiko Bencana di Indonesia Berlipat Ganda Akibat Krisis Iklim, Kita Harus Beradaptasi
Sejumlah anak bernaung di bawah sendok ekskavator usai terjadi banjir bandang susulan di Desa Rogo, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (6/9/2021). ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Suara.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan kembali mengalami La Nina dalam beberapa bulan mendatang. La Nina adalah anomali cuaca yang menyebabkan cuaca lebih basah di kawasan pasifik. Fenomena ini sempat melanda tanah air pada Oktober-Mei 2020.

BMKG meminta masyarakat mengantisipasi musim hujan datang lebih cepat akibat perubahan iklim. BMKG mencatat anomali itu terkait dengan tingginya konsentrasi CO2 di atmosfer Indonesia yang mencapai 415 parts per million (ppm) – lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 410 ppm.

Intensitas hujan juga bisa semakin ekstrem lantaran badai siklon tropis yang terdeteksi sejak bulan lalu di Kepulauan Riau, bagian barat Kalimantan, dan Kalimantan Tengah.

Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer sekaligus Ketua Tim Variabilitas Iklim, Lembaga Pengembangan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, memprediksi pusaran angin siklon akan terbentuk di Samudera Hindia bagian barat di sepanjang pantai barat Sumatera. Hal ini akan menimbulkan hujan lebat dan angin ekstrem di kawasan Bengkulu dan sekitarnya, serta di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sejumlah warga mengevakuasi barang-barangnya melalui jendela setelah terjadi banjir bandang di Desa Rogo, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (30/8/2021). [ANTARA FOTO/Basri Marzuki]
Sejumlah warga mengevakuasi barang-barangnya melalui jendela setelah terjadi banjir bandang di Desa Rogo, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (30/8/2021). [ANTARA FOTO/Basri Marzuki]

Hujan dan angin itu bisa lebih gawat lagi karena adanya pertemuan gelombang Kelvin dan Rossby di sekitar Bengkulu. Dampaknya bisa menjalar hingga ke kawasan Jawa bagian Barat, Kalimantan, Halmahera, hingga Papua.

“Di Papua, sepanjang tahun hingga Januari 2022 potensi hujan dan angin ekstrem sangat tinggi, terutama di wilayah kepala burung. Ini menjadi [sesuatu] yang perlu diperhatikan,” tutur Erma melalui pemaparan video dalam acara Rapat virtual Koordinasi Tim Intelijen Penanggulangan Bencana: Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Daerah Berisiko Bencana. Acara ini dihelat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, pekan lalu.

Risiko bencana terus berlipat

Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, turut mengamini cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi sebagai dampak pemanasan global.

Keparahan cuaca ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga banjir bandang, dapat lebih sering terjadi.

baca juga
Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (4/4/2021). Banjir bandang di NTT pekan ini dipicu oleh Siklon Tropis Seroja yang berpusat di sekitar Rote. [Antara/BPBD Flores Timur]
Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (4/4/2021). Banjir bandang di NTT pekan ini dipicu oleh Siklon Tropis Seroja yang berpusat di sekitar Rote. [Antara/BPBD Flores Timur]

Tren kenaikan pun sudah terlihat sejak lebih dari satu dekade lalu. Jumlah bencana hidrometeorologi di Indonesia pada 2020 mencapai 2.510 kejadian. Yang terbanyak di antaranya adalah banjir (1.065 kejadian), disusul angin puting beliung (873 kejadian), dan tanah longsor (572 kejadian). Angka itu hampir lima kali lipat lebih tinggi dibanding jumlah kejadian bencana hidrometeorologi pada 2005, yang hanya 539 kejadian.

Mahawan menyatakan pemerintah harus melakukan upaya adaptasi bencana secara drastis. Deteksi kejadian harus dilakukan jauh lebih awal. Sejauh ini, kemampuan Indonesia mengantisipasi cuaca ekstrem masih lemah.

Salah satu contohnya adalah siklon tropis Seroja yang menghantam sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur dan perairan sekitarnya, 4 April lalu. Kebanyakan media baru aktif memberitakan informasi risiko fenomena itu pada 3 April, atau sehari sebelum kejadian.

Karena itu, sosialisasi risiko bencana kepada masyarakat juga harus dilakukan sesering mungkin.

“Bencana meningkat dengan pesat, masyarakat harus sadar bencana,” ujar Mahawan, saat dihubungi pada pertengahan Agustus.

Badai yang lebih sering terjadi juga berisiko mengakibatkan abrasi pantai. Sebagai upaya mitigasi, upaya pembuatan tanggul dan restorasi kawasan mangrove harus menjadi prioritas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta

Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta

Foto | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:46 WIB

Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Usai Diterjang Puting Beliung, Ratusan Rumah di Bandung Barat Rusak

Usai Diterjang Puting Beliung, Ratusan Rumah di Bandung Barat Rusak

Foto | Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:28 WIB

Studi Ungkap Dampak Krisis Air terhadap Kesehatan dan Masa Depan Anak Perempuan

Studi Ungkap Dampak Krisis Air terhadap Kesehatan dan Masa Depan Anak Perempuan

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:09 WIB

Krisis Iklim vs Warisan Harta: Nikmat di Generasi Lalu, Sengsara di Kita

Krisis Iklim vs Warisan Harta: Nikmat di Generasi Lalu, Sengsara di Kita

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:15 WIB

JK di Yale: Kemanusiaan Harus Melampaui Batas Negara

JK di Yale: Kemanusiaan Harus Melampaui Batas Negara

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:50 WIB

Aksi Greenpeace di Bundaran HI: Alarm Darurat Krisis Iklim yang Kian Mengimpit Rakyat

Aksi Greenpeace di Bundaran HI: Alarm Darurat Krisis Iklim yang Kian Mengimpit Rakyat

Your Say | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 17:12 WIB

Riset: Adaptasi Hunian terhadap Panas Perkotaan Tentukan Masa Depan Kota di Asia Tenggara

Riset: Adaptasi Hunian terhadap Panas Perkotaan Tentukan Masa Depan Kota di Asia Tenggara

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Di Balik Aksi Greenpeace: Sigap Copot Spanduk, Lambat Tangani Karhutla

Di Balik Aksi Greenpeace: Sigap Copot Spanduk, Lambat Tangani Karhutla

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 17:19 WIB

Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?

Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:06 WIB

Terkini

7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis

7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?

Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:49 WIB

Duh! 53 Orang Bunuh Diri di DIY, Depresi Jeratan Pinjol hingga Faktor Ekonomi Jadi Pemicu

Duh! 53 Orang Bunuh Diri di DIY, Depresi Jeratan Pinjol hingga Faktor Ekonomi Jadi Pemicu

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:47 WIB

Bagaimana Langkah Mengurus Paspor yang Hilang atau Rusak Saat Sedang Berlibur di Luar Negeri?

Bagaimana Langkah Mengurus Paspor yang Hilang atau Rusak Saat Sedang Berlibur di Luar Negeri?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:34 WIB

Menikmati Jogja Lewat Rasa dan Sejarah: Dari Kuliner Kampung hingga Meditasi Jiwa

Menikmati Jogja Lewat Rasa dan Sejarah: Dari Kuliner Kampung hingga Meditasi Jiwa

Jakarta | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:26 WIB

Soroti Tata Kelola Negara, Emak-Emak di Yogyakarta: Remuk!

Soroti Tata Kelola Negara, Emak-Emak di Yogyakarta: Remuk!

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:10 WIB

Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!

Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:55 WIB

Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog

Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:55 WIB

Bingung Cari Kerja? Job Fair Virtual Bekasi Tawarkan 1.313 Lowongan dari 45 Perusahaan

Bingung Cari Kerja? Job Fair Virtual Bekasi Tawarkan 1.313 Lowongan dari 45 Perusahaan

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:54 WIB

Polresta Bogor Minta Maaf soal Intimidasi Jurnalis, Anggota Polisi Dijatuhi Sanksi

Polresta Bogor Minta Maaf soal Intimidasi Jurnalis, Anggota Polisi Dijatuhi Sanksi

Bekaci | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:37 WIB

×