Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.174,321
LQ45 693,788
Srikehati 340,625
JII 472,513
USD/IDR 17.357

Sejak 1998, Pertumbuhan Industri Non Migas Selalu Rendah

Adhitya Himawan | Dian Kusumo Hapsari | Suara.com

Senin, 22 Agustus 2016 | 08:27 WIB
Sejak 1998, Pertumbuhan Industri Non Migas Selalu Rendah
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam Orasi Ilmiah di kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/8/2016). [Dok Kementerian Perindustrian]

Pembangunan industri pada kenyataannya tidak selalu bergantung pada ketersediaan sumber daya alam suatu negara. Beberapa negara industri maju justru minim sumber daya alam namun mampu mengoptimalkan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu teknik atau teknologi untuk mendukung pembangunan industrinya. Berkaca dari hal tersebut, pemerintah akan terus mendorong agar perguruan tinggi berperan serta melakukan inovasi melalui perkembangan teknologi untuk mendukung kemajuan industri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan hal itu dalam Orasi Ilmiah pada Sidang Terbuka Peringatan 96 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia di kampus Institut Teknologi Bandung, Sabtu (20/8/2016). “Saya berharap di usianya yang menjelang seabad ini, perguruan tinggi teknik dapat lebih berkontribusi dalam pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pembangunan teknologi yang dapat menunjang perekonomian secara luas dan tentunya secara lebih khusus bagi industri nasional,” ujar Airlangga.

Menurutnya, tantangan perguruan tinggi saat ini adalah mendorong pembangunan sumber daya manusia yang terampil dengan keahlian tertentu sesuai kebutuhan dunia kerja. “Itu yang harusnya menjadi prioritas, agar generasi kita siap bekerja. Ke depan, kami mengusulkan pendidikan vokasional di bidang industri untuk SMK hingga D1 dan D2, dengan porsi pengajaran 60 persen di praktek lapangan dan 40 persen di kelas. Jadi, ada program magang minimal tiga bulan per semester,” paparnya.

Pemerintah juga giat mendorong kepada pelaku industri untuk mendirikan politeknik, dimana saat ini industri tekstil dan otomotif yang sudah mengimplementasikan. “Program pendidikan dual system ini didorong agar jadi gerakan oleh industri swasta atau BUMN. Untuk kurikulumnya, kami akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” tutur Airlangga.

Kementerian Perindustrian, lanjutnya, juga terus mendorong penyediaan lembaga atau unit pendidikan vokasional untuk menyuplai tenaga kerja terampil yang tepat guna.

Kementerian Perindustrian telah merencanakan konsep pendidikan vokasional (SMK, D1, D2) yang melibatkan lembaga pendidikan dan industri yang berbasis klaster. Sehingga, jelas Menperin, SMK tidak lagi harus seragam tapi penjurusannya betul-betul diarahkan pada kebutuhan industri di wilayah pertumbuhan masing-masing. "Kami sudah menyampaikan hal ini di rapat kabinet, Bapak Presiden mengatakan akan memberikan arahan khusus terkait ini," ujarnya.

Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Konsolidasi Nasional dalam Implementasi Pembangunan Industri”, Airlangga menyampaikan bahwa sinergitas antara dunia usaha dan perguruan tinggi juga perlu didorong untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan vokasional, khususnya di sekitar kawasan-kawasan industri sesuai industri unggulan yang ada di setiap wilayah.

Kontribusi dunia pendidikan bagi perkembangan sektor industri juga diwujudkan melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas melalui sistem pendidikan dan penumbuhan kewirausahaan. Kementerian Perindustrian menargetkan untuk mencetak 20.000 wirausahawan Industri Kecil Menengah (IKM) sebagai salah satu pilar penting yang perlu untuk terus ditingkatkan. IKM merupakan pilar penting bagi industri dalam negeri karena kontribusinya saat ini mencapai 34,82 persen terhadap industri secara keseluruhan.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kadarsah Suryadi menyampaikan bawa perguruan tinggi perlu bertransformasi, dari research university menjadi entrepreneurial university, untuk mendukung komersialisasi produk riset inovasi. Untuk itu, perguruan tinggi perlu mengambil peranan yang bersifat strategis dan melampaui Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mencetak wirausaha dan industri dalam lingkungan ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Hasil riset inovasi ITB, disampaikan Kadarsah, antara lain produk industri migas dalam bidang enhanced oil recovery (EOR) sebagai produk substitusi impor untuk mendukung ketahanan energi yang sudah diproduksi untuk pasar dalam negeri dan ekspor, produk inovasi dalam bidang transportasi masa depan, produk alat kesehatan dan biomedis serta produk inovasi ICT untuk mendukung konsep kota cerdas (smart city) yang merupakan tulang punggung industri masa depan di Indonesia. “Untuk menuju entrepreneurial university ini diperlukan tiga komponen utama, yakni unggul dalam pendidikan, unggul dalam riset, dan unggul dalam inovasi,” Kadarsah memaparkan.

Rektor ITB juga menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian telah memberikan dukungan dalam pembangunan Pusat Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dalam bidang Mesin Perkakas, Alat Kesehatan, Rekayasa dan Desain Perkeretaapian di perguruan tinggi tersebut. Kluster PPTI bertujuan untuk membangun sinergi antara perguruan tnggi dengan industri untuk bekerjasama dalam riset aplikatif yang langsung bias diserap oleh industri terkait. Riset yang dilakukan didorong untuk menghasilkan paten teknologi sehingga bisa tercipta industri kecil dan menengah yang mampu bersaing di pasar.

Meningkatkan kesejahteraan

Kebangkitan industri mendorong pertumbuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Sebaliknya, turunnya pertumbuhan sektor industri mengakibatkan rendahnya diversifikasi industri dan investasi yang membawa suatu negara pada kondisi tidak dapat meningkatkan kondisi perekonomiannya, atau disebutmiddle-income trap yang dialami oleh beberapa negara industri seperti Brazil, Afrika Selatan dan Mexico.

Di Indonesia, kenyataannya, pertumbuhan industri non-migas sejak krisis moneter pada tahun 1998 cenderung berada di bawah pertumbuhan ekonomi dengan rata-rata pertahun sektar 5-6 persen. Sementara itu, kontribusi sektor industri terhadap PDB pada semester I 2016 adalah sekitar 20 persen, yang merupakan kontribusi terbesar dalam perekonomian Indonesia. “Untuk itu, Presiden memberikan amanah kepada kamiuntuk meningkatkan kembali kontribusi sektor industri terhadap perekonomian Indonesia,” ujar Menperin.

Pada 2019, kontribusi industri terhadap PDB ditargetkan meningkat hingga 25 persen dan mencapai angka 6.000 Dolar Amerika Serikat (AS). “Dibutuhkan peningkatan angka industri non-migas sebesar 7-8 persen dengan angka pertumbuhan ekonomi di kisaran 6-7 persen untuk mencapainya,” jelas Airlangga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Hingga Saat Ini, Terdapat 74 Kawasan Industri di Indonesia

Hingga Saat Ini, Terdapat 74 Kawasan Industri di Indonesia

Bisnis | Senin, 22 Agustus 2016 | 08:05 WIB

Indonesia Produsen Pulp & Kertas Terbesar ke-9 di Dunia

Indonesia Produsen Pulp & Kertas Terbesar ke-9 di Dunia

Bisnis | Senin, 22 Agustus 2016 | 07:58 WIB

Ini Prosedur Bagi Maskapai yang Mau Buka Rute Terbang ke AS

Ini Prosedur Bagi Maskapai yang Mau Buka Rute Terbang ke AS

Bisnis | Senin, 22 Agustus 2016 | 07:16 WIB

Ini Angka Kenaikan Wajar Harga Rokok Versi MPSI

Ini Angka Kenaikan Wajar Harga Rokok Versi MPSI

News | Senin, 22 Agustus 2016 | 00:19 WIB

Percepat Poros Maritim, KKP Kebut Bangun SKPT di 15 Lokasi

Percepat Poros Maritim, KKP Kebut Bangun SKPT di 15 Lokasi

Bisnis | Minggu, 21 Agustus 2016 | 14:18 WIB

Pendapatan Cukai Naik 100 Persen Kalau Harga Rokok Rp50 Ribu

Pendapatan Cukai Naik 100 Persen Kalau Harga Rokok Rp50 Ribu

Bisnis | Minggu, 21 Agustus 2016 | 12:52 WIB

Produksi Rumput Laut Nasional Tumbuh 18 Persen di 2015

Produksi Rumput Laut Nasional Tumbuh 18 Persen di 2015

Bisnis | Minggu, 21 Agustus 2016 | 11:20 WIB

Pembangunan Kapal Kini Pakai Pendekatan Ilmiah

Pembangunan Kapal Kini Pakai Pendekatan Ilmiah

Tekno | Minggu, 21 Agustus 2016 | 10:48 WIB

Wings Air Resmi Buka Penerbangan Kualanamu - Rembele

Wings Air Resmi Buka Penerbangan Kualanamu - Rembele

Bisnis | Minggu, 21 Agustus 2016 | 10:23 WIB

Ini Infrastruktur yang akan Dibangun Bagi Pariwisata Danau Toba

Ini Infrastruktur yang akan Dibangun Bagi Pariwisata Danau Toba

Bisnis | Minggu, 21 Agustus 2016 | 09:29 WIB

Terkini

Menebak IHSG di Tengah Silang Sengkarut Geopolitik Global dan Rekor Bursa Asia

Menebak IHSG di Tengah Silang Sengkarut Geopolitik Global dan Rekor Bursa Asia

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 06:59 WIB

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:30 WIB

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:35 WIB

Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas

Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:23 WIB

Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:17 WIB

Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!

Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:14 WIB

Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci

Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:57 WIB

Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan

Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:51 WIB

Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat

Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:47 WIB

Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:32 WIB