Inspirasi Dionesia, Mendulang Keuntungan dari Bisnis Tas Branded Bekas

Pebriansyah Ariefana | Dian Kusumo Hapsari
Inspirasi Dionesia, Mendulang Keuntungan dari Bisnis Tas Branded Bekas
Dionesia Sebayang, penjual tas branded baik bekas atau preloved yang berhasil meraup untung dari penjualan tasnya. (Suara.com/Dian Kusumo Hapsari)

Peluang tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha baik di Indonesia maupun luar negeri.

Suara.com - Kaum hawa selalu ingin terlihat cantik dan sempurna di setiap penampilannya. Salah hal yang bisa membuat penampilan seorang wanita sempurna adalah dengan mengenakan tas - tas branded.

Dengan penggunaan tas - tas branded tersebut dapat membuat seorang wanita menjadi lebih terlihat berkelas dan eksklusif.

Tak heran, peluang tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha baik di Indonesia maupun luar negeri untuk meraup keuntungan penjualan tas-tas branded ini. Seperti yang dilakukan oleh Dionesia Sebayang penjual tas branded baik bekas atau preloved yang berhasil meraup untung dari penjualan tasnya.

Donna sapaan akrabnya bercerita, ketertarikannya dalam bisnis ini bermula dari senangnya bergaya dengan pendukung tas baju, sepatu sebagai kelengkapan fashion style saat didunia perkantoran.

Ditambah seringnya melakukan bus trip dan mendapat kesempatan membeli tas di luar negeri sehingga memiliki beberapa koleksi tas-tas branded yang terawat.

Dionesia Sebayang, penjual tas branded baik bekas atau preloved yang berhasil meraup untung dari penjualan tasnya. (Suara.com/Dian Kusumo Hapsari)
Dionesia Sebayang, penjual tas branded baik bekas atau preloved yang berhasil meraup untung dari penjualan tasnya. (Suara.com/Dian Kusumo Hapsari)

“Awal mulanya itu saya mulai suka tas branded tahun 1986 lah ya, kayaknya turunan dari mama saya. Nah tas branded saya pertama itu adalah Louis Vuitton, dulu harganya Rp 1 juta. Itu saya beli hasil kerja keras saya selama bekerja,” kata Donna saat berbincang dengan Suara.com di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten, Jumat (7/12/2018).

Dari situlah ternyata banyak rekan kerja dan teman-temannya yang tertarik melihat brang-barang khususnya tas yang dikenakan Donna.

“Orang-orang disekeliling saya jadi tertarik melihat apa yang saya kenakan dan meminta saya untuk membelikannya. Nah, karena saya tertarik untuk memiliki tas baru juga di samping bosan dengan beberapa model saya menyetujui untuk rela melepaskannya. Jadi saya sering adakan garage sale barang-barang pribadi saya,” ujarnya.

“Bahkan, teman-teman sering menitipkan barang mereka baik bekas ataupun baru maka lahirlah blok saya yang seperti dikenal saat itu Garagesaleds dan sekarang menjadi dsbrandedsale. Ini awal mula saya berkecimpung di dunia bisnis ini.”

Menurut Donna, pasar tas branded bekas saat ini sangat besar di Indonesia. Pasalnya, yang dibutuhkan wanita di Indonesia adalah tas bermerek saja sudah memiliki kepuasan tersendiri, tidak melulu produk tersebut baru atau bekas.

"Baru atau bekas nggak masalah, yang penting style kan. Makin lama makin banyak yang pesan, akhirnya saya trip aja ke Eropa, Prancis, Paris begitu-begitu sekalian beli untuk dijual lagi di sini. Saya juga sudah mulai merambah ke tas-tas branded second (bekas) untuk dijual lagi," ujar dia.

Menurut Donna, tas branded bekas banyak diminati kalangan wanita di Indonesia. Dia menceritakan, tas yang biasanya diburu kaum hawa ini yang memiliki model classic dengan merk Channel, Hermes dan Luis Vuitton.

“Karena harganya itu ngga pernah jatuh. Malah selalu naik, apalagi kalau model lama, tambah mahal. Contoh kayak tas Channel tahun 2000 begitu ya, harga jualnya bisa mahal itu, misal dulu beli Rp 30 juta, sekarang bisa diatas itu karena kan klasik, semakin lama modelnya semakin mahal,” katanya.

“Misalnya ya, 12 persen itu Channel dalam setahun, kalau Hermes lebih banyak 14 persen per tahun kan lumayan kan. Kenapa bisa begitu, karena mereka nggak pernah kasih diskon, lalu modelnya harus yang klasik baru harganya terus naik. Selain itu kan persediaan terbatas, tapi permintaan banyak dan kita bermain di situ kalau investasi tas,” tambahnya.

Donna mengatakan dalam menjual tas ini, sebagai perempuan ia merasa sangat senang. Pasalnya, ia bisa menggunakan tas itu setiap hari dan ketika bosan ia bisa menjual dan tetap mendapatkan untung.

"Jadi pas beli saya senang karena bisa pakai untuk menunjang penampilan. Saat dijual juga senang karena dapat untung juga. Banyak teman-teman saya begitu juga, aduh Don lagi butuh uang bantu jualin dong. Pasti begitu karena tas branded ini investasi kayak logan mulia aja, harga bisa naik setiap tahunnya, memang nggak besar tapi lumayan kan kalau naik terus," ujarnya.

Untuk mendapatkan stok tas, dalam setahun Donna bisa pergi beberapa kali ke luar negeri. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan.

“Uh saya berburu itu hunting ke beberapa negara. Ada juga saya bawa dari Italia, nanti yang beli di Indonesia orang Italia dibawa lagi sama dia ke sana. Ini kan menguntungkan sekali, memang tas-tas branded sekarang lagi banyak incaran. Bukan hanya orang tua ya, anak muda malah sekarang yang mendominasi,” katanya.

Baca Juga
Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS