- Pada 12 Januari 2026, harga minyak WTI dan Brent naik karena ancaman tarif Trump terhadap Iran memicu risiko pasokan Timur Tengah.
- Penyebab kenaikan harga jangka pendek juga berasal dari penurunan produksi OPEC serta instabilitas regional seperti konflik Rusia dan Ukraina.
- Analis Goldman Sachs memprediksi surplus pasokan dari AS dan Rusia akan menekan harga rata-rata tahun 2026 kembali stabil.
Suara.com - Pasar komoditas energi global tengah berada dalam pusaran ketidakpastian tinggi di awal tahun 2026.
Terpantau pada perdagangan Senin (12/1/2026), harga minyak mentah dunia mengalami tren kenaikan yang signifikan.
Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik ke kisaran US$59,50 per barel, sementara jenis Brent melonjak ke level US$63,87 per barel.
Gejolak ini merupakan reaksi instan pelaku pasar terhadap garis kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump yang semakin agresif.
Ancaman pengenaan tarif sebesar 25 persen bagi negara-negara yang berbisnis dengan Iran dipandang sebagai eskalasi serius yang berpotensi memangkas ekspor minyak mentah dari wilayah Timur Tengah.
Eskalasi tensi antara Washington dan Teheran kembali menyuntikkan "premi risiko" ke dalam kontrak berjangka minyak.
Kekhawatiran utama pasar berpusat pada kemungkinan gangguan di jalur distribusi vital, seperti Selat Hormuz, yang secara historis selalu memicu lonjakan harga setiap kali terjadi konflik.
Selain isu Iran, terdapat beberapa faktor fundamental yang memperkuat posisi harga saat ini:
Penyusutan Produksi OPEC: Laporan akhir tahun 2025 menunjukkan adanya penurunan output dari negara-negara anggota OPEC, khususnya Iran dan Venezuela, yang secara otomatis memperketat ketersediaan pasokan di pasar global.
Baca Juga: Harga Minyak Melandai: Antara Krisis Iran dan Ekspor Baru Venezuela
Instabilitas Regional: Konflik yang belum mereda antara Rusia dan Ukraina, ditambah dinamika ekspor energi di wilayah Azerbaijan, menambah lapisan kerumitan bagi stabilitas distribusi energi dunia.
Meskipun faktor politik mendorong harga ke atas, terdapat kekuatan fundamental yang justru bekerja ke arah sebaliknya. Sejumlah analis, termasuk dari Goldman Sachs, memprediksi bahwa sepanjang tahun 2026 pasar justru akan dibanjiri oleh surplus pasokan minyak mentah.
Kelebihan pasokan ini dipicu oleh peningkatan produksi dari negara-negara di luar lingkaran konflik, seperti Amerika Serikat dan Rusia, serta harapan pemulihan kapasitas produksi Venezuela.
Melimpahnya inventaris minyak di negara-negara OECD menjadi indikator kuat bahwa permintaan global saat ini belum mampu menyerap seluruh minyak yang tersedia di pasar.
Kondisi inilah yang diprediksi akan menahan harga Brent tetap di kisaran rata-rata US$56 per barel dan WTI di level US$52 per barel jika situasi politik mendingin.
Dalam jangka pendek, tepatnya pada kuartal pertama hingga kedua tahun 2026, harga diprediksi tetap rentan terhadap lonjakan mendadak.