Menko Airlangga Sebut Presiden Lebih Pilih Terapkan B40 Tahun Ini

Rabu, 14 Januari 2026 | 18:53 WIB
Menko Airlangga Sebut Presiden Lebih Pilih Terapkan B40 Tahun Ini
Petugas menunjukkan sampel bahan bakar minyak (BBM) B-20, B-30, dan B-100 di Jakarta, Selasa (26/2/2019). Antara/Aprillio Akbar/aww/aa.
Baca 10 detik
  • Pemerintah masih mempertahankan mandat biodiesel B40 karena kebijakan B50 memerlukan kajian lanjutan terkait stabilitas ekonomi.
  • Menteri Koordinator Perekonomian menegaskan kajian B50 bergantung pada selisih harga BBM fosil dan komoditas kelapa sawit.
  • Keputusan implementasi B50 akan bergantung dinamika harga dan kesiapan industri, sesuai arahan Presiden.

Suara.com - Pemerintah memilih bersikap hati-hati dalam mendorong peningkatan mandatori biodiesel dari B40 ke B50. Di tengah dinamika harga energi global dan pergerakan harga komoditas kelapa sawit, kebijakan energi dinilai harus tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi, industri, dan daya beli masyarakat.

Pendekatan tersebut diambil agar transisi energi tetap berjalan tanpa menimbulkan tekanan baru, baik terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) maupun sektor industri yang bergantung pada pasokan energi.

Pemerintah menilai kebijakan biodiesel tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berkaitan erat dengan inflasi, struktur biaya industri, hingga ekspor sawit.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan hingga saat ini arahan pemerintah masih menjalankan mandatori biodiesel B40. Adapun penerapan B50 masih memerlukan kajian lanjutan.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tiba untuk membahas kajian pencegahan korupsi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (14/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc]
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tiba untuk membahas kajian pencegahan korupsi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (14/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc]

"Jadi tahun ini arahan Pak Presiden tetap B40. Untuk B50 kajian harus dilakukan terus-menerus,” ujar Airlangga kepada wartawan, dikutip Rabu (14/1/2026).

Ia menjelaskan, salah satu faktor utama dalam kajian tersebut adalah selisih harga antara BBM berbasis fosil dan harga kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel.

"Kemudian kita akan selalu melihat perbedaan harga antara harga fuel oil, harga BBM dengan harga kelapa sawit. Delta-nya berapa," ucapnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah tidak menutup kemungkinan penerapan B50 di kemudian hari. Namun keputusan tersebut akan sangat bergantung pada dinamika harga dan kesiapan industri, termasuk sektor otomotif.

"Kajian diteruskan, otomotif percobaan juga lanjut. Jadi kita tergantung dinamika harga," katanya.

Baca Juga: Penerapan B50 Batal untuk 2026, Masih Terus Dikaji

Lebih lanjut, pemerintah menyiapkan skenario lanjutan apabila kondisi memungkinkan pada paruh kedua tahun ini. Meski demikian, kebijakan tetap berpijak pada arahan Presiden Prabowo Subianto agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

"Ya kita siapkan ke semester 2 tetapi kita akan saat sekarang dengan skenario harga yang ada arahan Bapak Presiden B40 tetapi siap B50," pungkas Airlangga.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI