Rentetan Penelitian Ungkap Kerusakan Permanen Akibat Tambang Ilegal

Senin, 19 Januari 2026 | 06:49 WIB
Rentetan Penelitian Ungkap Kerusakan Permanen Akibat Tambang Ilegal
Ilustrasi. Foto udara kerusakan Lanskap Bukit Bulan akibat aktivitas pertambangan emas ilegal di Desa Lubuk Bedorong, Limun, Sarolangun, Jambi, Kamis (18/11/2021). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan]
Baca 10 detik
  • PETI Pohuwato rusak air & lahan tani; limbah merkuri langsung dibuang ke sungai tanpa olah.
  • Penelitian 2015-2024 bukti pencemaran merkuri di Pohuwato bersifat kronis & masuk rantai makanan.
  • Produksi tani turun & warga berisiko kena penyakit saraf akibat logam berat di aliran sungai.

Suara.com - Serangkaian temuan ilmiah terbaru mengonfirmasi adanya degradasi lingkungan skala besar di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang menggunakan merkuri terbukti telah merusak kualitas air permukaan, air tanah, hingga mengancam rantai makanan masyarakat setempat secara kronis.

Laporan terbaru dari Novriyal et al. (2024) dalam International Journal of Humanities, Education and Social Sciences mengungkapkan bahwa limbah pengolahan emas dibuang langsung ke lingkungan tanpa proses filtrasi. Dampaknya, Daerah Aliran Sungai (DAS) Marisa mengalami sedimentasi berat dan penurunan fungsi lahan pertanian yang signifikan di wilayah hilir.

Senada dengan itu, penelitian Barakati dkk. (2024) yang diterbitkan Universitas Diponegoro mencatat bahwa seluruh segmen DAS di Kecamatan Buntulia telah tercemar. Parameter fisik dan kimia air di wilayah tersebut telah melampaui baku mutu lingkungan, sehingga tidak lagi layak untuk menunjang kebutuhan ekologis maupun konsumsi warga.

Bukti kerusakan ini sebenarnya bukan fenomena baru. Penelitian Ramli Utina (2015) dari Universitas Negeri Gorontalo satu dekade lalu telah menemukan jejak merkuri pada jaringan tubuh burung di pesisir Pohuwato. Hal ini menjadi sinyal merah bahwa logam berat telah masuk ke dalam rantai makanan sejak lama.

Selain itu para petani lokal juga melaporkan penurunan produktivitas akibat sawah yang tertutup sedimen limbah tambang. Dinas Lingkungan Hidup setempat juga menemukan jejak merkuri pada tanah persawahan.

Disisi lain para warga mulai mengeluhkan gangguan kulit seperti iritasi dan gatal-gatal. Dalam jangka panjang, paparan ini berisiko memicu gangguan saraf pusat hingga penyakit Minamata.

Selain itu muncul keresahan warga untuk mengonsumsi ikan sungai dan hasil panen lokal karena kekhawatiran kontaminasi logam berat.

Integrasi data penelitian dari tahun 2015 hingga 2024 ini menegaskan bahwa PETI bukan sekadar isu perizinan, melainkan ancaman serius terhadap keberlanjutan ekonomi dan kesehatan jangka panjang di Pohuwato.

Baca Juga: Adian Napitupulu Minta PT Antam Gerak Cepat Evakuasi Korban Asap Tambang Pongkor

PETI Pohuwato rusak air & lahan tani; limbah merkuri langsung dibuang ke sungai tanpa olah.
Penelitian 2015-2024 bukti pencemaran merkuri di Pohuwato bersifat kronis & masuk rantai makanan.
Produksi tani turun & warga berisiko kena penyakit saraf akibat logam berat di aliran sungai.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI