Menperin Pede Industri Manufaktur Bisa Tumbuh di Atas 5% Meski Ekonomi Global Gonjang-Ganjing

Senin, 19 Januari 2026 | 17:13 WIB
Menperin Pede Industri Manufaktur Bisa Tumbuh di Atas 5% Meski Ekonomi Global Gonjang-Ganjing
Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Bimo Aria Fundrika/Suara.com)
Baca 10 detik
  • Menperin optimistis industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen pada 2026, menjadi motor ekonomi meskipun ketidakpastian global.
  • Kebijakan manufaktur 2026 fokus pada penguatan nilai tambah domestik, pendalaman struktur, didukung investasi Rp 551,88 triliun.
  • Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) mendorong konektivitas hulu-hilir untuk mendukung prioritas pemerintah seperti kemandirian energi dan pangan.

Suara.com - Pemerintah menegaskan fondasi manufaktur tetap kuat untuk menjaga pertumbuhan dan berkontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional sepanjang 2026. Meskipun, di tengah ketidakpastian perekonomian global.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut industri manufaktur masih menjadi motor penggerak perekonomian. Ia optimistis, kinerja sektor ini bisa terus dijaga di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.

"Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026," ujar Agus kepada wartawan, Senin (19/1/2025).

Ilustrasi industri manufaktur. (Dokumentasi: Grand Kartech)
Ilustrasi industri manufaktur. (Dokumentasi: Grand Kartech)

Agus menjelaskan, arah kebijakan industri manufaktur pada 2026 tidak hanya menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan. Fokusnya mencakup penguatan nilai tambah di dalam negeri, pendalaman struktur industri, hingga optimalisasi keterkaitan antarsektor.

Pada 2026, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 5,51 persen. Target tersebut sekaligus menegaskan peran strategis industri manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.

Kementerian Perindustrian memproyeksikan kapasitas produksi industri nasional pada 2026 akan semakin menguat. Berdasarkan data per 15 Januari 2026, terdapat 1.236 perusahaan industri yang melaporkan tahap pembangunan pada 2025 dan direncanakan mulai berproduksi pertama kali pada 2026.

Rencana produksi dari ribuan perusahaan tersebut diperkirakan menyerap 218.892 tenaga kerja. Dari sisi investasi, sektor industri pengolahan nonmigas tercatat mencapai Rp 551,88 triliun, dengan nilai investasi di luar tanah dan bangunan sebesar Rp 444,25 triliun.

"Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja baru," ucap Agus.

Selain menambah kapasitas produksi, Kemenperin juga mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan industri hulu hingga hilir. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan efisiensi rantai produksi nasional.

Baca Juga: Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM

Dari sisi permintaan, pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026 diperkirakan masih ditopang oleh pasar domestik sekitar 80 persen, sementara kontribusi pasar ekspor sekitar 20 persen.

Untuk memperkuat pasar domestik, Kemenperin menyiapkan sejumlah kebijakan. Di antaranya penguatan substitusi impor dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN untuk produk dalam negeri, serta penguatan IKM agar terhubung ke rantai pasok industri nasional.

"Kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di pasar domestik. Penguatan pasar dalam negeri menjadi jangkar utama pertumbuhan industri manufaktur," ungkap Agus.

Kemenperin memprediksi beberapa subsektor akan mengalami pertumbuhan permintaan yang signifikan di pasar domestik. Industri logam dasar diproyeksikan tumbuh tinggi seiring berlanjutnya proyek infrastruktur dan hilirisasi industri, sementara industri makanan dan minuman tetap menjadi kontributor terbesar PDB manufaktur karena kebutuhan pokok dan besarnya jumlah penduduk.

Selain itu, sektor industri kimia, farmasi, dan obat juga diperkirakan tumbuh tinggi. Permintaan domestik untuk produk kesehatan dan bahan kimia industri dinilai terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya kesadaran kesehatan pascapandemi serta pertumbuhan industri turunan.

Sementara untuk pasar ekspor, Kemenperin menargetkan kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas pada 2026 mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional. Target itu tercantum dalam Rencana Strategis Kemenperin 2025–2029.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono, Apa Layak Dilaporkan Polisi?
Ikuti Kuisnya ➔
Cek Prediksi Keuangan Kamu Tahun Depan: Akan Lebih Cemerlang atau Makin Horor?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Kamu di 2026 Siap Glow Up atau Sudah Saatnya Villain Era?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Bagaimana Prediksimu untuk Tahun 2026? Lebih Baik atau Lebih Suram?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Trivia Natal: Uji Pengetahuan Anda Tentang Tradisi Natal di Berbagai Negara
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Kepribadian: Siapa Karakter Ikonik Natal dalam Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mitos vs Fakta Sampah: Cara Cerdas Jadi Pahlawan Kebersihan Lingkungan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI