- Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,5% meski ada tekanan konflik global.
- Menteri Koordinator Perekonomian meyakini pertumbuhan ditopang konsumsi domestik masyarakat yang masih sangat kuat.
- Dampak konflik global terhadap Indonesia utamanya berupa kenaikan harga energi dan komoditas, bukan dampak langsung.
Suara.com - Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap kuat di tengah tekanan global akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan bisa mencapai kisaran 5,5 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan optimisme tersebut didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi domestik yang masih solid.
"Jadi dengan angka-angka ini sebetulnya kami optimis pertumbuhan di kuartal pertama itu angkanya bisa lebih tinggi dari Desember, kuartal keempat tahun lalu. Jadi dengan angka-angka ini cukup optimis pertumbuhan eh bisa di sekitar 5,5 persen," ujar Airlangga di Jakarta, dikutip Selasa (17/3/2026).
Menurut Airlangga, kuatnya konsumsi domestik menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut konsumsi masyarakat masih berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Bahwa kita punya konsumsi domestik itu masih kuat, masih 54 persen dari PDB. Dan Mandiri Spending Index sudah 360,7, itu tinggi. Kalau kita lihat ke pasar-pasar atau ke mal, ramai. Dan program diskon dari bina belanja di Indonesia saja juga jalan terus. Apalagi THR sudah dilontarkan, sudah cair. Sehingga eh daya beli masyarakat terlihat apa, terasa baik," jelasnya.
Selain itu, ia menilai kondisi makroekonomi Indonesia juga masih terjaga meskipun terjadi ketegangan geopolitik global. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator seperti cadangan devisa, rasio utang, hingga kinerja perdagangan.
"Artinya secara makro walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid," jelasnya.
Airlangga menjelaskan dampak konflik global terhadap Indonesia lebih banyak ditransmisikan melalui kenaikan harga energi dan komoditas, bukan langsung ke sektor domestik.
"Namun kalau kita lihat transmisi ke Indonesianya itu dalam bentuk harga-harga minyak, harga gas, dan nanti ikutannya harga-harga komoditas," tuturnya.