- Harga minyak dunia anjlok karena klaim Trump mengenai kemajuan dialog dengan Iran, meskipun Iran membantah adanya percakapan tersebut.
- Minyak Brent turun drastis lebih dari 7 persen menjadi 104 dolar AS per barel, sedangkan WTI merosot 6,9 persen ke 91,4 dolar AS per barel.
- IEA menyatakan gangguan pasokan konflik ini lebih besar dari krisis 1970-an, menekankan pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Suara.com - Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat AS, Donald Trump, mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran yang berpotensi mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh negara dengan ibu kota Teheran itu.
Menukil CNN, minyak mentah Brent, patokan global, turun lebih dari 7 persen menjadi sekitar 104 dolar AS per barel, setelah sempat anjlok lebih dari 13 persen. Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak di atas 114 dolar AS per barel pada hari yang sama.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merosot 6,9 persen ke level 91,4 dolar AS per barel, setelah sebelumnya bergerak di kisaran 100 dolar AS.
Meski mengalami penurunan tajam, harga minyak masih bertahan lebih dari sepertiga lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
"Dengan senang hati saya melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," tulis Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.
Trump juga menyebut telah menginstruksikan Departemen Perang AS untuk menunda semua serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan catatan bergantung pada hasil perundingan yang sedang berlangsung.
![Presiden AS Donald Trump menuding NATO sebagai pengecut dan macan kertas karena tak mau membantu membuka Selat Hormuz. [X/Potus]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/20/42717-donald-trump.jpg)
Namun, Iran membantah adanya dialog dengan Washington. Pemerintah Teheran menyebut klaim Trump sebagai upaya untuk menekan harga energi sekaligus mengulur waktu, menurut laporan media yang berafiliasi dengan pemerintah dan mengutip kementerian luar negeri Iran.
Perubahan sikap Trump ini tergolong drastis. Dua hari sebelumnya, ia sempat mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul tak lama setelah ia berbicara soal kemungkinan mengakhiri perang.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan akan membalas setiap serangan terhadap infrastruktur energinya dan bahkan mengancam menutup Selat Hormuz tanpa batas waktu.
"Jika Anda menyerang listrik, kami akan menyerang listrik," kata IRGC.
Iran juga mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan komunikasi Israel, serta fasilitas pembangkit listrik di negara-negara kawasan yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Qalibaf, bahkan menyebut bahwa jika ancaman Trump direalisasikan, maka fasilitas minyak di Timur Tengah akan menjadi "target yang sah" untuk dihancurkan.
Situasi ini membuat pasar energi global tetap diliputi ketidakpastian. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan pasokan akibat konflik ini bahkan lebih besar dibandingkan krisis minyak pada 1970-an.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan setidaknya 44 aset energi di sembilan negara mengalami kerusakan berat. Ia juga menegaskan bahwa dampak krisis ini melampaui krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina pada 2022.
"Dan bukan hanya minyak dan gas, beberapa jalur vital ekonomi global, seperti petrokimia, pupuk, belerang, dan helium, perdagangannya semuanya terganggu, yang akan berdampak serius bagi ekonomi global," kata Birol.