- Bursa saham Wall Street anjlok pada Minggu malam akibat meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
- Presiden Donald Trump menyita kapal kargo Iran di Teluk Oman setelah kegagalan perundingan damai di Pakistan.
- Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengakhiri tren kenaikan rekor indeks S&P 500 dan Nasdaq.
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street anjlok pada Minggu malam, seiring meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Iran.
Mengutip CNBC, Senin, 20 April 2026, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 452 poin atau 0,9 persen ke level 49.168. Sementara itu, futures S&P 500 melemah 0,8 persen ke level 7.105 dan futures Nasdaq-100 turun 0,6 persen ke level 26.655 .
Tekanan pasar muncul setelah Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.
Langkah ini diambil setelah Iran menolak mengikuti putaran lanjutan perundingan damai di Pakistan yang direncanakan oleh AS.
"Kapal Iran tersebut berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal mereka sebelumnya. Kami memiliki kendali penuh atas kapal tersebut, dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya," kata Trump dalam unggahan di Truth Social.

Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan dengan AS. Situasi ini semakin memperkeruh pasar, mengingat gencatan senjata antara kedua negara dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak mentah justru melonjak tajam. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 8% ke level 90,54 dolar AS per barel, sementara Brent internasional menguat 6% menjadi 96,50 dolar AS per barel.
Padahal, Wall Street sebelumnya mencatatkan kinerja impresif. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa setelah adanya gencatan senjata antara Iran dan Lebanon.
Namun kondisi berbalik setelah Iran kembali membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur pelayaran vital dunia—dengan alasan AS tidak memenuhi kewajibannya.
Trump pun menegaskan bahwa blokade AS terhadap selat tersebut akan tetap diberlakukan hingga Iran menyetujui tuntutan Washington, terlepas dari klaim Iran yang menyatakan jalur tersebut telah dibuka.
Sepanjang pekan lalu, S&P 500 tercatat naik 4,5 persen, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 7,2 persen. Bahkan, Nasdaq mencatatkan reli 13 hari berturut-turut hingga Jumat, menyamai rekor yang terakhir terjadi pada 1992.
"Setelah Nasdaq menguat selama 13 hari berturut-turut karena harapan akan kesepakatan, kami mengakhiri minggu ini dengan kondisi jenuh beli dalam jangka pendek. Dan sekarang situasi dengan Iran menjadi semakin rumit dan tidak pasti kapan konflik ini akan berakhir dan kapan Selat akan sepenuhnya dibuka kembali tanpa rasa takut akan serangan," kata Peter Boockvar kepada CNBC.
"Satu-satunya pertanyaan terkait perdagangan hari Senin, dengan asumsi berita tidak berubah lagi, adalah seberapa besar penurunan pasar yang akan terjadi?" tambahnya.