- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.346 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2026.
- Pelemahan dipicu ketegangan militer di Selat Hormuz serta kekhawatiran pasar terhadap independensi kebijakan moneter Federal Reserve Amerika.
- Dampak kondisi tersebut menyebabkan kenaikan biaya impor energi, risiko inflasi, serta meningkatnya beban utang luar negeri Indonesia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melesu pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026), bahkan mencatatkan tren negatif yang mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi nasional.
Di pasar spot, mata uang Garuda ditutup melemah 20 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar AS, merosot dari posisi penutupan sebelumnya di angka Rp17.326.
Kondisi ini dipertegas oleh kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang juga menunjukkan pelemahan signifikan.
Data JISDOR menempatkan rupiah di level Rp17.378 per dolar AS, melemah drastis dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp17.324. Rekor buruk ini dipicu oleh kombinasi mematikan antara tensi militer di Timur Tengah dan guncangan politik di jantung bank sentral Amerika Serikat.
Penyebab utama dari pelarian modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia adalah sikap agresif Presiden AS Donald Trump.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pasar saat ini tengah mengantisipasi langkah Washington yang bersiap melakukan blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran.
Strategi militer ini dianggap sebagai eskalasi serius yang dapat melumpuhkan pasokan energi global.
"Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah oleh laporan bahwa beberapa eksekutif minyak Amerika terkemuka bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas bagaimana membatasi dampak konflik terhadap masyarakat Amerika," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Langkah blokade ini diprediksi akan memicu aksi balasan yang tak kalah ekstrem dari Teheran. Iran kemungkinan besar akan terus menutup Selat Hormuz, sebuah jalur sempit namun vital yang memfasilitasi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Sejak penutupan jalur tersebut pada akhir Februari 2026, arus logistik energi internasional telah mengalami perlambatan hebat, yang berujung pada lonjakan biaya operasional industri di seluruh dunia.
Kegagalan Diplomasi dan Keretakan Hubungan NATO
Upaya Donald Trump untuk meredakan krisis ini melalui koalisi internasional justru menemui jalan buntu. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Gedung Putih tengah kesulitan mencari sekutu yang bersedia bergabung dalam operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sebagian besar anggota NATO dilaporkan enggan terlibat langsung dalam konfrontasi militer dengan Iran dan Israel.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketegangan ini merembet pada retaknya hubungan diplomatik antarnegara Barat.
Menurutnya, "Trump telah berulang kali meminta negara lain untuk membantu membuka kembali Hormuz, meskipun sekutu utama AS sebagian besar menolak untuk membantu. Ia terlihat mengecam anggota NATO karena tidak membantu AS dan Israel secara militer selama konflik tersebut."