- Indonesia memerlukan peningkatan rasio kewirausahaan muda untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen dan status negara maju.
- Calon Ketua Umum BPP Hipmi, Jona, mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan aspirasi kewirausahaan bagi 70 juta anak muda.
- Strategi penguatan meliputi perluasan akses pembiayaan UMKM, hilirisasi industri, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menembus pasar global.
Suara.com - Indonesia dinilai membutuhkan lebih banyak pengusaha muda untuk mengejar status negara maju. Saat ini, rasio kewirausahaan nasional masih dinilai tertinggal dibanding negara-negara maju yang rata-rata memiliki jumlah pengusaha di atas 4 persen dari total populasi.
Calon Ketua Umum BPP Hipmi Jona menilai penciptaan pengusaha muda baru menjadi instrumen penting untuk mengubah kondisi ekonomi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia melihat ada sekitar 70 juta anak muda Indonesia yang memiliki keinginan untuk memperbaiki taraf hidup melalui kewirausahaan.
![Ilustrasi pelaku usaha menjalankan bisnis [Envato]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/08/14/74467-ilustrasi-pengusaha-muda-ilustrasi-pelaku-usaha-ilustrasi-umkm-ilustrasi-ide-bisnis.jpg)
"Mimpi mereka hari ini, adalah mimpi saya 15 tahun yang lalu,"ujarnya seperti dikutip, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, kewirausahaan menjadi salah satu jalan strategis untuk mengubah nasib sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas organisasi dan daerah agar lahir lebih banyak pengusaha muda di Indonesia.
"Tapi saya tidak bisa bergerak sendirian. Saya butuh dukungan dari teman-teman BPD, BPC, Hipmi Perguruan Tinggi, dan seluruh kader Hipmi untuk bersama-sama mewujudkan mimpi 70 juta anak muda Indonesia," pesan Jona.
Ia juga mengaitkan pentingnya penciptaan pengusaha muda dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, target tersebut akan sulit tercapai tanpa kolaborasi dan penguatan kapasitas pengusaha muda di berbagai sektor ekonomi.
Karena itu, Hipmi didorong menjadi rumah kolaborasi pengusaha muda yang inklusif dan memiliki daya saing global menuju Indonesia Emas 2045.
Selain memperkuat kaderisasi pengusaha muda, sejumlah agenda strategis juga disoroti. Mulai dari penguatan UMKM sektor pertanian, swasembada energi, hilirisasi industri, hingga perluasan akses pembiayaan usaha.
Salah satu usulan yang mencuat ialah menaikkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp500 juta menjadi Rp2 miliar agar UMKM memiliki ruang lebih besar untuk berkembang.
"Perlu diperjuangkan agar UMKM punya ruang pembiayaan lebih besar untuk tumbuh dan naik kelas," tegas Jona.
Tak hanya itu, kemudahan akses kredit juga dinilai penting karena banyak pelaku UMKM kesulitan memperoleh pembiayaan akibat persyaratan perbankan yang dianggap terlalu ketat.
"Solusinya menaikkan limit, sekaligus menyederhanakan persyaratan," katanya.
Penguatan pengusaha muda juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) agar UMKM mampu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus menembus pasar global.