- IHSG melemah 1,14 persen ke level 6.890 pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026 akibat tekanan sentimen global dan domestik.
- Konflik Timur Tengah dan rencana kebijakan pajak pemerintah Indonesia memicu aksi jual serta kekhawatiran investor di pasar saham.
- Keyakinan konsumen Indonesia yang tetap terjaga menjadi sentimen positif di tengah ketidakpastian ekonomi global dan rencana pertemuan AS-China.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah di zona merah pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026. IHSG turun sebesar 79 poin atau melemah 1,14 persen ke level 6.890 pada sesi I perdagangan hari ini.
Mengutip riset Pilarmas Investindo Sekuritas, IHSG pada hari ini tertekansentimen global terkait konflik Timur Tengah hingga aksi wait and see investor menjelang rebalancing MSCI Indonesia.
"Bursa regional Asia bergerak mixed setelah Presiden AS Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perundingan perdamaian, sehingga meredupkan harapan akan berakhirnya konflik yang telah mendorong kenaikan biaya energi global," tulis Pilarmas dalam risetnya.
Pilarmas menjelaskan, penolakan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran Selat Hormuz. Kondisi itu memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus menekan selera risiko investor di kawasan Asia.
![Pengunjung melintas layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (18/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/18/12876-ihsg-ihsg-anjlok-bursa-efek-indeks-harga-saham-ilustrasi-bursa-ilustrasi-ihsg.jpg)
Selain itu, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada 14-15 Mei 2026 di Beijing, China.
Pasar berharap pertemuan kedua pemimpin negara tersebut dapat memberikan kepastian terhadap hubungan dagang AS-China sekaligus membantu meredakan konflik di Timur Tengah.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG dipicu aksi jual investor yang cenderung bersikap hati-hati menjelang rebalancing MSCI Indonesia.
Selain itu, rencana pemerintah mengenakan windfall tax terhadap keuntungan sektor pertambangan nikel serta penerapan bea keluar komoditas nikel dan batu bara turut membebani sentimen pasar.
"Hal ini tentunya akan membebani pelaku usaha dan berdampak pada tekanan margin laba di tengah situasi fluktuatif harga global," lanjut Pilarmas.
Meski begitu, sentimen positif datang dari data keyakinan konsumen Indonesia yang tetap terjaga. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 123,0 pada April 2026, sedikit meningkat dibanding Maret 2026 sebesar 122,9.
Data tersebut menunjukkan optimisme rumah tangga masih cukup kuat meskipun kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global tetap membayangi.
Pilarmas Investindo Sekuritas juga merekomendasikan saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dengan rating buy.
"BUY dengan support dan resistance 925 – 1.250," tulis Pilarmas.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan sesi I, sebanyak 22,83 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 11,43 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,68 juta kali.