- Pemerintah Indonesia dan Belarus menyepakati roadmap kerja sama ekonomi periode 2026-2030 dalam Sidang Komisi Bersama di Minsk.
- Roadmap tersebut bertujuan memperkuat hubungan perdagangan, industri, investasi, dan teknologi antara kedua negara selama lima tahun mendatang.
- Kedua negara mendorong implementasi Indonesia-EAEU FTA serta kolaborasi mekanisasi pertanian dan perakitan mesin guna meningkatkan produktivitas nasional.
Suara.com - Pemerintah Indonesia dan Belarus resmi menyepakati penyusunan roadmap kerja sama ekonomi periode 2026-2030, sebagai langkah memperkuat hubungan dagang, investasi, industri, hingga teknologi antara kedua negara.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI-Belarus bidang perdagangan, ekonomi, dan teknik yang berlangsung di Minsk, Belarus.
Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto bersama Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich.
Airlangga mengatakan, roadmap tersebut akan menjadi pedoman strategis untuk memperluas kerja sama bilateral secara lebih terukur dan sistematis dalam lima tahun ke depan.
“Roadmap tersebut diharapkan menjadi dokumen sistematis dan terukur untuk mengembangkan berbagai kerja sama, serta diharapkan akan menjadi salah satu deliverables utama dalam kunjungan Presiden Republik Belarus ke Indonesia,” ujar Airlangga dilansir dari laman Antara, Sabtu (16/5/2026).
Pemerintah Indonesia menilai Belarus memiliki posisi strategis dalam penguatan industri manufaktur, ketahanan pangan, hingga pengembangan teknologi industri.
Menurut Airlangga, implementasi perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia-EAEU FTA diyakini akan membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas bagi kedua negara.
“Indonesia memandang Belarus sebagai mitra strategis dalam penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, dan pengembangan manufaktur berbasis teknologi. Implementasi Indonesia-EAEU FTA diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan,” jelas Airlangga.
Dalam pertemuan tersebut, Belarus juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk melihat langsung kemampuan industri pertanian, manufaktur, hingga fasilitas industri yang dimiliki negara tersebut.
Kedua negara kini membahas peluang pengembangan joint assembly machinery di Indonesia sebagai bagian dari penguatan kerja sama industri.
Tak hanya itu, Forum Bisnis Indonesia-Belarus juga direncanakan digelar bersamaan dengan agenda kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia pada awal Juli 2026.
Pemerintah Belarus menyatakan komitmennya untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Indonesia melalui kerja sama industri, investasi, pertanian, hingga konektivitas perdagangan.
Viktor Karankevich menilai, pembentukan Dewan Bisnis Indonesia-Belarus akan menjadi katalis penting bagi peningkatan hubungan bisnis kedua negara, terutama setelah penandatanganan Indonesia-EAEU FTA yang kini memasuki tahap ratifikasi.
“Kami meyakini bahwa pertemuan ini akan mampu mengidentifikasi sejumlah kerja sama bilateral utama yang dapat diwujudkan dalam rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia pada awal Juli 2026,” ujar Viktor Karankevich.
Di sektor perdagangan dan investasi, hubungan ekonomi RI-Belarus menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan kedua negara tercatat melonjak sekitar 72,6 persen secara tahunan menjadi sekitar 221 juta dolar AS.