- IHSG merosot 1,89 persen akibat aksi jual bersih investor asing senilai Rp674 miliar pada perdagangan sebelumnya.
- Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak serta tekanan pada bursa global.
- Analis memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level 5.850 di tengah sentimen pasar yang masih negatif.
Suara.com - Pasar saham domestik masih dibayangi tekanan jual yang cukup besar. Pada perdagangan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot signifikan sebesar 1,89 persen.
Koreksi ini diperparah oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai sekitar Rp674 miliar, dengan saham-saham seperti MAPI, BBRI, BRMS, AMMN, dan CPIN menjadi target pelepasan utama.
Secara teknikal, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan IHSG hari ini masih berpotensi melanjutkan pelemahannya menuju level 5.850.
Pelaku pasar diimbau waspada, karena jika indeks menembus ke bawah angka psikologis tersebut, area koreksi dapat melebar hingga ke rentang 5.650 hingga 5.800.
Untuk perdagangan hari ini, level dukungan (support) IHSG dipetakan berada di kisaran 5.750–5.850, sementara posisi resistansi (resistance) berada di area 5.900–5.950.
Wall Street dan Harga Minyak Terguncang Ancaman Trump
Tekanan pada pasar modal domestik tidak lepas dari memburuknya sentimen global. Bursa saham AS (Wall Street) mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) waktu setempat.
Pemicunya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, yang menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Trump bahkan memperkeras retorikanya dengan mengancam akan melancarkan serangan militer baru ke Teheran.
Dampak dari ketegangan geopolitik ini langsung memicu lonjakan tajam pada pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak 5,43 persen ke level USD 78,19 per barel, sementara minyak mentah WTI menguat 4,37 persen ke posisi USD 73,52 per barel.
Di Wall Street, indeks Dow Jones terkoreksi 1,09 persen dan S&P 500 turun 0,28 persen, sedangkan Nasdaq berbalik menguat tipis 0,2 persen berkat dorongan saham teknologi.
Saham-saham berbasis energi seperti Marathon Petroleum, ConocoPhillips, dan Chevron melesat naik, sebaliknya saham sektor konsumer seperti The Home Depot dan McDonald's justru tertekan akibat kekhawatiran pembengkakan biaya operasional energi.
Bursa Asia Pasifik Kompak Kebakaran
Kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di Timur Tengah ini turut merembet ke pasar keuangan Asia-Pasifik yang mayoritas ditutup di zona merah pada sore kemarin.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 ambles 2,11 persen dan Topix turun 1,37 persen. Koreksi terdalam melanda bursa Korea Selatan, di mana indeks Kospi anjlok hingga 5,35 persen dan Kosdaq tersungkur 5,56 persen.
Pengecualian terjadi di Hong Kong, di mana indeks Hang Seng berhasil melonjak 3 persen, disusul Taiex Taiwan yang naik tipis 0,56 persen.
Selain memantau risiko geopolitik, perhatian para investor global saat ini juga tertuju pada rilis risalah rapat kebijakan moneter atau dokumen Federal Open Market Committee (FOMC) dari bank sentral AS (The Fed) bulan Juni. Pelaku pasar bersikap hati-hati demi membaca arah kebijakan suku bunga global ke depan.
Ide Perdagangan Saham Hari Ini
Di tengah fluktuasi pasar yang tinggi, sektor energi justru mendapatkan katalis positif dari lonjakan harga minyak komoditas dunia. BNI Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati untuk strategi perdagangan hari ini:
ELSA (Buy on Weakness): Area beli disarankan pada rentang 600–615, dengan batasan rugi (cutloss) jika bergerak di bawah 595. Target penguatan terdekat berada di kisaran 625–635.
AKRA (Speculative Buy): Area beli di level 1310–1320, dengan batas cutloss di bawah 1300. Target harga terdekat berada di 1340–1355.
ENRG (Buy on Weakness): Area beli di posisi 1135–1175, batas cutloss di bawah 1130. Target terdekat ditargetkan pada 1200–1215.
PGAS (Buy on Weakness): Area beli pada level 1410–1425, batas cutloss di bawah 1400. Target terdekat di kisaran 1435–1450.
JPFA (Buy on Weakness): Area beli di 1980–2010, batas cutloss di bawah 1970. Target terdekat di 2030–2070.
ISAT (Buy on Weakness): Area beli di rentang 1820–1850, batas cutloss di bawah 1800. Target harga terdekat di 1885–1900.
Disclaimer: Pemberitaan, analisis, grafik, serta data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham-saham terkait yang dimuat dalam artikel ini disajikan murni sebagai bentuk penyediaan informasi jurnalisme ekonomi finansial untuk konsumsi publik. Konten ini sama sekali bukan merupakan bentuk rekomendasi investasi formal, ajakan komersial, panduan transaksi, ataupun arahan final untuk membeli atau menjual instrumen finansial maupun saham tertentu. Setiap keputusan penempatan dana, transaksi pasar modal, dan risiko investasi yang diambil oleh pembaca sepenuhnya merupakan wujud tanggung jawab personal secara mandiri. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa depan.