-
Muhammad Hilmi Gimnastiar resmi dijatuhi sanksi larangan bermain bola seumur hidup.
-
Firman Nugraha mengalami retak tulang rusuk dan kejang akibat tendangan brutal lawan.
-
Komdis PSSI Jatim menghukum pelaku denda Rp2,5 juta demi menjunjung sportivitas.
Klub berjuluk Laskar Badai Selatan ini menegaskan tidak akan memaksakan pemainnya untuk kembali merumput sebelum benar-benar bugar.
Prioritas utama saat ini adalah keselamatan jiwa dan kesehatan jangka panjang dari gelandang muda berbakat tersebut.
"Saat ini Firman masih dalam observasi tim medis. Manajemen bertanggung jawab penuh terhadap pemulihan pemain dan tidak akan mengambil risiko apa pun," kata Rudi menambahkan.
Dukungan moral terus mengalir dari rekan setim dan para suporter yang mengecam keras aksi anarkis tersebut.
Video cuplikan kekerasan tersebut kini telah menyebar luas dan memicu kemarahan publik pecinta sepak bola tanah air.
Merespons kejadian tersebut, Asprov PSSI Jawa Timur melalui Komite Disiplin langsung bergerak melakukan investigasi menyeluruh.
Berdasarkan bukti rekaman dan laporan pertandingan, ditemukan unsur kesengajaan dalam pelanggaran berat yang dilakukan Hilmi.
"Perbuatan menendang pemain lawan yang mengakibatkan luka parah merupakan tindakan kekerasan dan pelanggaran berat, sehingga Komdis menjatuhkan hukuman tambahan berupa larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup," kata Makin.
Langkah ini diambil demi menjaga integritas kompetisi dan memastikan keamanan setiap individu yang terlibat di lapangan.
Baca Juga: Brutal Lagi! Kronologis Tendangan Kungfu ke Muka UAD FC vs KAFI Jogja FC Liga 4 Yogyakarta
Samiadji Makin Rahmat selaku Ketua Komdis menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi perilaku barbar di dalam sepak bola.
Selain dilarang berkecimpung di dunia bola selamanya, Muhammad Hilmi juga dibebani dengan denda berupa materi.
Pelaku dianggap telah melanggar pasal berlapis dalam Kode Disiplin PSSI yang mengatur tentang kekerasan fisik terhadap lawan.
Ketegasan otoritas sepak bola ini diharapkan mampu menjadi peringatan bagi seluruh atlet agar mengedepankan sportivitas tinggi.
Meskipun terdapat celah untuk mengajukan banding, sanksi ini tetap menjadi noda hitam dalam sejarah karier sang pemain muda.
"Komdis berharap keputusan ini menjadi pelajaran bagi seluruh insan sepak bola Jawa Timur untuk menjunjung tinggi sportivitas dan keselamatan pemain," ucapnya.